Sukses

20 Ton Telur Terkontaminasi Racun Serangga Beredar di Denmark

Liputan6.com, Kopenhagen - Sebanyak 20 ton telur tercemar insektisida atau racun serangga beredar di Denmark. Demikian disampaikan otoritas keamanan pangan negara tersebut.

Dua puluh ton adalah berat setara dengan dua setengah ekor gajah Afrika.

"Telur rebus dan kupas tercemar itu terutama dijual ke kafetaria, kafe, dan perusahaan katering," kata Administrasi Hewan dan Makanan Denmark dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari BBC, Jumat (11/8/2018).

Denmark adalah negara Eropa terbaru yang menemukan telur terkontaminasi fipronil dalam rantai makanannya. Insektisida itu dapat merusak ginjal, kelenjar hati dan kelenjar tiroid jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Sejauh ini, lembaga administrasi makanan Denmark mendesak agar masyarakat di sana tenang. Mereka mengatakan bahwa telur yang dibeli oleh suplier Danaeg tidak menimbulkan risiko bagi konsumsi manusia.

"Sampel yang dianalisis di Belanda menunjukkan jejak fipronil di telur, tapi tak menimbulkan bahaya kesehatan," kata agensi tersebut (di Denmark). "Karena isinya ilegal, Danaeg harus menarik peredaran telur dari konsumen mereka."

Denmark diyakini merupakan negara kesepuluh yang terkena skandal telur terkontaminasi itu. Sebelumnya, Rumania dan Luxemburg telah melaporkannya.

Sebagian besar telur berasal dari Belanda, lalu dari Belgia dan Jerman.

Otoritas Rumania mengatakan pada Kamis bahwa satu ton kuning telur cair yang terkontaminasi fipronil ditemukan di sebuah gudang di bagian barat negara itu.

"Produk tersebut diimpor dari Jerman, tapi belum dijual ke konsumen," kata pejabat keamanan pangan setempat.

Pada Kamis, 10 Agustus, dua manajer di sebuah perusahaan Belanda dilaporkan ditangkap selama penggerebekan gabungan dengan pihak berwenang Belanda dan Belgia.

"Media lokal menyebut perusahaan Chickfriend diduga menggunakan fipronil di peternakan unggas," kata jaksa di Belanda.

Fipronil dilarang digunakan dalam industri makanan berdasarkan peraturan Uni Eropa (UE).

Dalam sebuah pernyataan, pihak berwenang mengatakan penyidik ​​juga berfokus pada pemasok Belgia, dan perusahaan Belanda lainnya "yang berkolusi dengan pemasok Belgia".

"Mereka dicurigai membahayakan kesehatan masyarakat dengan memasok dan menggunakan fipronil dalam kandang yang berisi ayam petelur," imbuh pihak berwenang tersebut.

Sejauh ini Chickfriend selaku perusahaan pembersih peternakan unggas, belum memberikan komentar terkait hal tersebut.

Sementara penyidik ​​di Belgia telah melakukan beberapa penggerebekan dan mengidentifikasi 26 orang atau perusahaan sebagai tersangka. Sedangkan sekitar 6.000 liter "produk terlarang" disita di Belgia.

Di Inggris, Food Standards Agency melaporkan sekitar 700.000 telur telah diimpor dari peternakan Belanda yang berpotensi terkontaminasi. Jumlah tersebut naik dari perkiraan awal 21.000.

Menurut perusahaan tersebut, sangat tidak mungkin tak ada risiko terhadap kesehatan masyarakat. Namun, 11 produk yang mengandung telur, termasuk sandwich dan salad, telah ditarik dari supermarket.

Belanda adalah produsen telur terbesar di Eropa  dan salah satu eksportir telur dan produk telur terbesar di dunia.

Sebanyak 180 peternakan--yang menghasilkan jutaan telur dalam seminggu--telah ditutup sementara sementara tes lebih lanjut dilakukan.

Diperkirakan bahwa fipronil ditambahkan ke pengobatan yang diijinkan untuk mengatasi tungau merah.

Masalah tersebut pertama kali muncul di awal Agustus, saat supermarket Aldi menarik semua telurnya dari penjualan di Jerman.

Pejabat Belgia pun akhirnya mengetahui ada kontaminasi racun serangga pada bulan Juni, namun tidak membuat informasi publik karena ada kecurangan dalam penyelidikan. Tapi Belgia menuduh Belanda mengetahui tentang masalah tersebut pada November 2016, yang waktu itu mereka tolak.

Saksikan juga video berikut ini:

 

Artikel Selanjutnya
PHOTO: Wow, Omelet Raksasa Ini Dibuat dari 10 Ribu Butir Telur
Artikel Selanjutnya
Jelang Idul Adha, Pemkab Bantul Minta Waspada Sapi Pemakan Sampah