Sukses

2.000 Restoran McDonald's Akan Dibuka di China, Invasi Bisnis AS?

Liputan6.com, Beijing - Jaringan restoran cepat saji terbesar di dunia, McDonald's mengumumkan, pihaknya berencana akan membuka lebih dari 2.000 rumah makan di China selama lima tahun ke depan. Dengan demikian, total gerai rumah makan di Negeri Tirai Bambu itu mencapai 4.500.

"China akan menjadi pasar terbesar kami di luar Amerika Serikat," kata CEO McDonald's Steve Easterbrook seperti dikutip dari CNNMoney pada Kamis (10/8/2017).

Perusahaan dan partner mereka di China -- perusahaan investasi Citic and Carlyle Group-- berharap, gerai baru akan meningkatkan penjualan hingga dua digit dalam lima tahun ke depan. Mereka juga menargetkan kota-kota kecil di Tiongkok.

Rencana baru tersebut terjadi setelah McDonald's menjual sebagian besar bisnis China ke Citic dan Carlyle, dengan mengatakan bahwa mereka akan membawa pemahaman yang lebih baik mengenai pasar lokal.

Berdasarkan kesepakatan yang diumumkan awal tahun ini, McDonald's masih memegang 20% saham dalam bisnis tersebut.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya CEO McDonald's Easterbrook yang terus berlanjut untuk merombak rantai burger global. Hasil keuangan terbaru perusahaan tersebut memuaskan investor, dengan kenaikan penjualan di AS memberikan lebih banyak bukti bahwa orang Amerika kembali berjaya.

McDonald's bukanlah satu-satunya perusahaan AS yang merambah ke China.

Starbucks (SBUX) mengumumkan rencana tahun lalu untuk membuka lebih dari satu toko baru tiap hari di China untuk lima tahun ke depan. Mereka bertujuan untuk memiliki 5.000 toko di seluruh China pada tahun 2021.

Saksikan video menarik berikut ini:

  • Negara dengan penduduk terbanyak di seluruh dunia. Negara ini telah berganti nama menjadi Republik Rakyat Tiongkok.
    Negara dengan penduduk terbanyak di seluruh dunia. Negara ini telah berganti nama menjadi Republik Rakyat Tiongkok.
    China
  • Mcdonald
Artikel Selanjutnya
Ketegangan Politik AS-Korut Bikin Bursa Asia Merosot
Artikel Selanjutnya
Tensi AS dan Korea Utara Bawa Wall Street ke Zona Merah