Sukses

5 Perempuan Ningrat yang Turun Kelas Jadi Rakyat Jelata

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang memimpikan menjadi bagian keluarga kerajaan. Kita membayangkan kekayaan yang luar biasa, hidup bermanja-manja, dan kesempatan berkeliling dunia.

Namun, ada saja anggota keluarga kerajaan yang kemudian merasa bahwa semua yang diidamkan orang itu sebenarnya bukan sesuatu yang diinginkannya. Atau, didepak keluar monarki karena skandal dan masalah.

Pada 1920-an, Edward VIII di Inggris masih berstatus pangeran dan terlibat dalam beberapa perselingkuhan. Ia terpaksa naik takhta ketika ayahnya meninggal dunia pada 1936 saat ia masih tinggal bersama wanita Amerika Serikat (AS) bernama Wallis Simpson.

Padahal, sebagai raja, ia juga berstatus sebagai Kepala Gereja Inggris yang tidak diizinkan menikahi janda cerai. Edward memutuskan mundur pada 11 Desember 1936, lalu digantikan oleh saudara lelakinya, George VI.

Ia menikahi Wallis pada 1937 dan tinggal di Prancis hingga meninggal dunia karena kanker tenggorokan pada 1972. Setelah meninggal, ia disatukan kembali dengan keluarga kerajaan dan dimakamkan di Tanah Pemakaman Kerajaan di Windsor.

Pangeran Philip meninggalkan gelar pangeran dari Yunani dan Denmark pada 28 Februari 1947 demi menikahi Putri Elizabeth yang sekarang menjadi Ratu Inggris. Jadi, ia sebetulnya tidak benar-benar terasing dari lingkungan kerajaan.

Raja Carol II Romania adalah seorang yang bandel dalam kerajaan Romania dan telah dua kali menikahi wanita jelata. Pertama adalah dengan Zizi Lambrino pada 1918 dan langsung ditentang keluarga.

Ia kemudian menikah dengan sepupu jauh, Putri Helena dari Yunani, tapi tidak bahagia dan berselingkuh dengan Magda Lupescu. Ia pun didepak dari lingkaran kerajaan dan diasingkan pada 1925, walaupun kemudian pulang ke Romania pada 1930. Ia didepak lagi pada 1940 dan kemudian menikahi kekasihnya, Lupescu, pada 1947.

Johan Friso dari Belanda menikahi wanita jelata bernama Mabel Wisse Smit dari Belgia. Ia kemudian bekerja sebagai rakyat jelata di bidang keuangan dan selalu dikenang rakyat Belanda karena selera humornya. Namun demikian, Friso meninggal dunia dalam kecelakaan ski di Austria pada 2012.

Pada 1932, Lennart Bernadotte, Pangeran Swedia, menjadi berita ketika menikahi wanita jelata bernama Karin Nissvandt tanpa izin kerajaan. Pernikahan terpaksa dilakukan jauh di London dan cucu Raja Gustav V itu kehilangan hak takhta.

Walaupun kecewa tidak mendapat restu, orangtuanya berusaha berbaik hati dan memberikan pulau Mainau di tengah Danau Constance sebagai hadiah. Sepertinya berhasil, karena selama hidupnya Lennart menjadikan Mainau sebagai taman botani indah dengan 350 ribu bunga yang mekar setiap musim panas. Ia meninggal pada 2005 dengan peninggalan yang indah.

Selain kaum pria, seperti dikutip dari listverse.com pada Senin (7/8/2017), berikut ini adalah kaum wanita kalangan kerajaan yang juga melepaskan hak dan keistimewaan mereka:

1 dari 6 halaman

1. Putri Mako (Jepang)

Putri Mako, cucu perempuan pertama Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Pada Mei 2017, terbit pengumuman bahwa Putri Mako bertunangan dengan seorang pria yang dikenalnya saat kuliah di International Christian University, Tokyo.

Tunangannya yang bernama Kei Komuro adalah seorang rakyat jelata, sehingga pertunangan itu mengakibatkan Putri Mako harus melepaskan gelar ningratnya seperti dipersyaratkan dalam hukum imperial Jepang.

Di tengah isyarat-isyarat pengunduran diri Kaisar Akihito, keputusan Mako telah memicu debat sengit tentang garis suksesi di Jepang. Walaupun ia tidak dalam urutan untuk menerima takhta, ayah Mako adalah orang kedua yang ada dalam urutan tersebut.

Putri Mako belum mengungkapkan rencana selanjutnya setelah meninggalkan keluarga kerajaan. Namun, dia bisa mencontoh bibinya, Sayako, seorang ningrat Jepang yang pertama kali menjadi rakyat jelata.

2 dari 6 halaman

2. Ubolratana Rajakanya (Thailand)

Ubolratana Rajakanya dari meninggalkan status ningrat Thailand karena menikah dengan kalangan biasa. (Sumber Wikimedia Commons)

Orang kerap berpandangan bahwa pangeran dan putri kerajaan tidak mengalami hidup yang kisruh, tapi perjalanan kehidupan Ubolratana Rajakanya tidaklah semulus itu.

Seperti kebiasaan kaum kerajaan dunia, wanita itu dipaksa menanggalkan gelar ningratnya demi menikahi pria pujaan hatinya, Peter Ladd Jensen. Namun, setelah dikaruniai tiga anak, pasangan itu bercerai pada 1988 dan mantan putri itu kembali ke Thailand.

Pada 2004, ketika bencana tsunami menghantam Thailand, ia kehilangan Bhumi, putra keduanya yang mendapat diagnosa autistik. Sejak saat itu, untuk mengenang putranya, Ubolratana mendirikan sebuah yayasan untuk membantu anak-anak lain dengan autisme dan kondisi lain kesulitan belajar.

Ia juga berupaya sebaik mungkin untuk meninggalkan masa lalunya. Ia sempat berperan dalam dua film Thailand dan sekarang sering terlihat dalam acara publik bersama dengan keluarganya.

3 dari 6 halaman

3. Putri Srirasmi (Thailand)

Putri Srirasmi meninggalkan lingkaran Kerajaan Thailand karena terbelit skandal. (Sumber Wikimedia Commons)

Bagi Srirasmi, kisah kehidupannya juga seperti benang kusut. Selama satu dekade, ia menjadi istri bagi Pangeran Mahkota Maha Vajiralongkorn. Namun, ia secara sukarela menanggalkan gelar ningratnya dalam pusaran skandal yang melibatkan dirinya dan keluarganya.

Pangeran menceraikan putri itu setelah keluarganya terbelit beberapa dakwaan kriminal serius. Pamannya ditangkap dengan tuduhan pemerasan dan penyelundupan minyak, sedangkan tiga saudara lelaki dan satu saudara perempuan putri itu dituduh menghina monarki–suatu jenis pelanggaran berat di Thailand.

Srirasmi meninggalkan suami dan anak lelakinya agar putranya nanti boleh menjadi Raja Thailand. Pernyataan resmi dari pihaknya menyebutkan bahwa wanita itu akan kembali ke tempat asalnya di barat Bangkok untuk hidup biasa-biasa saja.

Dengan demikian, ia hanya akan memperhatikan dari jauh ketika nanti putranya memerintah Thailand.

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

 



4 dari 6 halaman

4. Putri Cristina (Spanyol)

Putri Cristina dari Spanyol 'dipecat' dari keluarga Kerajaan Spanyol karena skandal penggelapan pajak. (Sumber Pinterest)

Putri Cristina tidak melepaskan gelarnya karena keinginan sendiri. Namun, kelakuannya tidak memberikan banyak pilihan bagi saudara lelakinya, sang Raja Spanyol.

Ada sejumlah laporan yang menyebutkan bahwa ia pernah ingin melepas gelarnya. Namun, investigasi penggelapan pajak terhadap dirinya dan suaminya memaksa Raja Felipe VI untuk menelepon pada 2015 dan menjelaskan bahwa wanita itu bukan lagi merupakan bagian dari monarki.

Cristina merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah kalangan anggota Kerajaan Spanyol yang akan menjalani sidang. Skandal itu mengguncang hingga ke dasar lembaga kerajaan.

Pada Februari 2017, ia memang tidak kedapatan bersalah. Tapi suaminya yang bernama Inaki Urdangarin dijatuhi hukuman penjara selama 3 tahun 6 bulan.

Cristina sendiri hanya didenda karena perannya dalam penggelapan pajak bisnis. Sang Raja juga menjauhkan diri dari saudara perempuannya demi memperbaiki citra monarki yang telah tercoreng.

5 dari 6 halaman

5. Putri Nori (Jepang)

Sayako Kuroda dulunya adalah Putri Nori, keluarga Kekaisaran Jepang. (Sumber Wikimedia Commons)

Ketika meninggalkan Istana Kekaisaran untuk terakhir kalinya, Putri Nori hanya membawa sebuah meja, lemari, dan gaji sebulan untuk memperlancar perubahan hidupnya menjadi rakyat jelata.

Setelah keluar dari gerbang istana, ia bukan lagi Putri Nori, tapi sekadar Nyonya Sayako Kuroda. Ya, Sayako menanggalkan gelar dan hak-hak istimewanya demi menikahi kekasih hatinya sejak masih kecil, Yoshiki Kuroda.

Sejak saat itu, ia harus belajar mengemudi, naik kendaraan umum, dan belanja mingguan seperti rakyat biasa. Ada beberapa laporan yang menyebutkan Sayako sekarang telah menjadi ahli ornitologi dan menjalani hidup biasa-biasa saja.

Ada juga beberapa pihak yang menyebutkan bahwa wanita itu lega telah meninggalkan Istana Kekaisaran. Sang Putrsi mengaku merasa “amat tidak nyaman” bertumbuh dewasa dan mempelajari kehidupannya di masa depan keluarga kekaisaran.

Ibunya menderita guncangan batin pada awal 1990-an karena tekanan kehidupan dalam istana, termasuk kelelahan dan tekanan yang tak tertahankan, sehingga bahkan kehilangan kemampuan berbicara.

Artikel Selanjutnya
Jangan Lupakan Maria Walanda Maramis
Artikel Selanjutnya
Wakil Amirul Hajj Berharap Haji Tak Berhenti pada Dimensi Ritual