Sukses

5 Kasus Pembunuhan Sadis terhadap Hewan Peliharaan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian orang, hewan peliharaan dianggap seperti bagian dari keluarga. Mereka dirawat dan disayang, bahkan tak jarang diperlakukan layaknya anak sendiri.

Hewan peliharaan juga kerap ikut terlibat dalam sejumlah aktivitas yang dilakukan oleh pemiliknya.

Jadi pemandangan lumrah misalnya, ketika seekor anjing ikut menemani majikannya untuk berlari. Atau seekor kucing yang setia di sisi majikannya saat bersantai di rumah.

Sejumlah aktivitas itu membuat manusia memiliki ikatan batin dan emosional dengan hewan peliharaannya. Sehingga, adalah hal yang wajar jika nurani pemilik merasa sedih jika hewan peliharaannya mati.

Di spektrum lain, ada pula kelompok manusia lain yang dengan tega dan mudahnya melakukan pembunuhan terhadap hewan peliharaan. Nahasnya, tindakan itu dapat dilakukan berkali-kali hingga menjadi fenomena pembunuhan berantai.

Dari berbagai contoh, berikut lima kasus nyata pembunuhan berantai yang dilakukan manusia terhadap hewan peliharaan, seperti yang Liputan6.com rangkum dari Listverse.com, Senin (7/8/2017).

 

1 dari 6 halaman

1. Nakul Mishra, Si Peracun Anjing dari India

Pada 2016, polisi di Delhi, India, menangkap seorang pembunuh anjing. Pria itu tertangkap basah melalui rekaman video tengah meracun hewan-hewan malang tersebut.

Selain itu, Nakul Mishra (28), juga secara brutal memukuli anjing-anjing itu.

Saat video itu muncul untuk pertama kali, polisi membentuk sebuah satuan tugas untuk menemukan Mishra. Mereka dengan susah payah menyisir ribuan rumah kontrak dan mencari dari pintu ke pintu untuk memburu pria itu.

Akhirnya, mereka berhasil menyudutkan Mishra dan menangkapnya di rumahnya.

Ketika ditanya mengenai motif, Mishra beralasan ia mengalami depresi karena hubungan yang gagal, kematian anjingnya sendiri, dan kehilangan pekerjaan.

Polisi mengatakan, Mishra melukai tiga anjing dewasa dan membunuh seekor anak anjing. Aparat penegak hukum juga berencana untuk menjatuhkan Mishra hukuman penjara serta konseling psikologis.

 

2 dari 6 halaman

2. Pembunuhan Anjing di Mexico City

Mexico City mengalami fenomena pembunuhan berantai anjing di sebuah taman di distrik Condesa pada 2001. Diduga, sejumlah racun ditebar di berbagai penjuru taman oleh individu yang tidak bertanggung jawab, yang bertujuan untuk membunuh anjing yang ada di sana.

Salah contoh kasus menunjukkan bahwa ketika seorang pemilik anjing mengajak peliharaannya berjalan di taman tersebut, dalam 20 menit, hewan berkaki empat yang tak sengaja menelan racun yang telah ditebar itu mengalami muntah-muntah, kejang, dan kemudian mati.

Sebagai tanggapan, polisi memblokir taman untuk mencari petunjuk. Otopsi juga dilakukan pada anjing yang dibunuh.

Pelaku dan motif peristiwa itu belum terungkap. Namun, salah seorang penjaja makanan di sana mencetuskan sebuah motif alasan dibalik aksi pelaku, 'mungkin si pembunuh bosan dengan pemilik anjing yang tidak memunguti kotoran anjing kala berjalan-jalan di taman'.

 

3 dari 6 halaman

3. Happy Face Killer, Keith Jesperson

Pada 1990-an, Keith Jesperson yang dikenal sebagai Happy Face Killer, telah mengisi laman rubrik utama di sejumlah surat kabar di AS dan Kanada.

Julukan itu disematkan oleh para jurnalis karena kebiasaan Jasperson untuk mengirim surat klaim aksi pembunuhan berantainya dengan 'simbol wajah tersenyum' kepada kantor berita setempat.

Menurut penyelidikan, pria itu telah membunuh setidaknya delapan perempuan. Namun, sebelum bertransisi menjadi seorang penjagal manusia, Jesperson mengawali kariernya sebagai pembunuh hewan peliharaan.

Berdasarkan pengakuan keluarga, Jesperson menikmati membunuh hewan yang melewati wilayah rumahnya, seperti kucing atau hewan mamalia lain. Namun saat itu, kebiasaan pria tersebut kerap diabaikan oleh anak dan istrinya

Putri Jesperson mengungkapkan bahwa Jesperson pernah mengikat sejumlah anak kucing peliharaannya ke jemuran dan memukul mereka sampai mati untuk bersenang-senang.

"Saya menyadari bahwa dia tidak merasa bersalah. Ayah saya ternyata adalah orang yang sakit," jelas pengakuan putri Jesperson.

 

4 dari 6 halaman

4. Polisi Pembunuh Anjing K-9

Pada 2016, seorang mantan letnan polisi dan penjaga sekolah di Georgia, Amerika Serikat bernama Daniel Peabody didakwa membunuh beberapa anjing, beberapa korban di antaranya adalah anjing K-9-nya sendiri.

Anjing polisi pertama yang meninggal berjenis Labrador Retriever bernama Dale. Setelah bertugas di kepolisian bersama selama sekitar lima tahun dari 2007 sampai 2012, Dale pensiun dari tugas K-9.

Akan tetapi, tak lama setelah itu, Dale mendadak tewas. Peabody yang menjadi handler anjing itu mengatakan kepada petugas medis bahwa Dale mati karena tersedak mainannya sendiri.

Empat tahun kemudian, otoritas setempat menyebut bahwa keterangan Peabody terkait kematian Dale adalah sebuah kebohongan. Terbukti kemudian bahwa pria itulah yang membunuh Dale.

Peabody akhirnya diberhentikan dari kesatuan polisi.

Ia kemudian bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah sekolah setempat. Untuk tugas itu, ia diberi anjing K-9 lain bernama Inca.

Peabody kembali berulah. Pada suatu hari yang panas pada Juni 2016, Peabody meninggalkan Inca di mobilnya selama tiga jam. K-9 yang malang itu akhirnya meninggal karena sengatan panas.

Atas tindakannya itu, Peabody diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai petugas keamanan sekolah. Melihat ada tendensi pengulangan tindakan, penyidik kepolisian pun membuka investigasi atas aksi pria tersebut.

Berdasarkan hasil investigasi, aparat menemukan tulang-belulang anjing lain yang telah ditembak dan dibunuh Peabody.

Penyelidikan lebih lanjut menyebut bahwa Peabody ternyata membunuh Dale dengan menembak anjing malang itu.

"Peabody awalnya mengklaim bahwa kematian Dale kebetulan terjadi akibat tersedak mainan. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Dale sebenarnya telah ditembak dan dibunuh," jelas keterangan hasil penyelidikan.

Mantan letnan polisi itu kemudian ditangkap dan dikenai pasal kekejaman terhadap hewan serta menyatakan informasi bohong kepada polisi tentang penyebab kematian Dale.

 

5 dari 6 halaman

5. Pembantaian Kucing di Inggris

Pada 2004, di Sussex, Inggris dilanda fenomena pembunuhan berantai terhadap hewan peliharaan dan liar di kawasan. Menurut penyelidikan polisi, setidaknya ada lebih dari satu orang yang bertanggung jawab atas kematian 19 kucing, empat kelinci, dan seekor rubah.

Salah satu kepala kucing yang tidak berdosa ditemukan terkubur di antara bunga-bunga. Badan kucing malang itu kemudian ditemukan bersama dua ekor bangkai kelinci dalam sebuah kantung surat kantor pos.

Beberapa bangkai hewan yang ditemukan juga nampak seperti dimutilasi, seperti kepala atau ekor yang dipotong

Penyelidik June Bailey dari Rustington mengumpulkan semua laporan dan mengatakan semua pembunuhan terjadi antara tengah malam dan pukul 03.00 pagi. "Kita semua hidup dalam ketakutan," katanya.

Fenomena itu membuat sejumlah penduduk di kawasan takut untuk membiarkan hewan peliharaannya berada di luar rumah tanpa pengawasan di malam hari.

 

Saksikan juga video berikut ini

Artikel Selanjutnya
Seperti Kasus Pegawai BNN, Angka Suami Bunuh Istri Lebih Tinggi