Sukses

Bom Gay hingga 'Suara Tuhan', Ini 4 Senjata Aneh yang Gagal Total

Liputan6.com, Jakarta Pengembangan senjata seringkali terbentur ketika para perancangnya terlalu jauh mencoba menemukan cara baru dan lebih efisien dalam peperangan.

Senjata-senjata yang tidak mematikan (non-lethal) juga menjadi tantangan lebih besar jika penemu yang ambisius membiarkan imajinasinya terlalu liar.

Apa yang terdengar hebat di atas kertas, kadang-kadang malah menciptakan masalah. Sepanjang sejarah, beberapa senjata terdengar terlalu gila sehingga jelas menuju kegagalan.

Disarikan dari Listverse.com pada Jumat (4/8/2017), berikut ini adalah sejumlah rencana senjata canggih masa kini yang memang hebat di atas kertas, tapi kurang tepat di lapangan:

1 dari 5 halaman

1. Bom Gay

Ilustrasi tentara meluapkan kegembiraan. (Sumber Pinterest)

Laboratorium senjata di Brooks Air Force Base di Texas, Amerika Serikat (AS), mengajukan pembuatan "bom cinta" agar pasukan musuh lebih ingin melakukan seks daripada berperang. Lebih efektif lagi jika menyebabkan "perilaku homoseksual" di kalangan musuh, demikian menurut para penggagasnya.

Waktu itu tahun 1994 dan proposal yang diajukan mengusulkan pembiayaan US$ 7,5 juta untuk pengembangan “afrodisiak mujarab” agar memicu keinginan bercinta, terutama secara homoseksual.

Pengajuan itu ditemukan setelah suatu kelompok pemantau anggaran militer meminta dokumen berdasarkan Freedom of Information Act. Tentu saja orang kemudian mempertanyakan tentang "bom gay" tersebut.

Seorang jurubicara Angkatan Udara mengatakan bahwa mereka terus berpikiran untuk membiayai proposal tersebut, tapi "bom gay" pupus sejak awal. Bahkan bagian lain dari proposal – misalnya penciptaan bom pengundang serangga penyengat ke lokasi musuh atau meledakkan lokasi musuh dengan bau busuk – ditolak oleh Departemen Pertahanan.

Jurubicara Departemen Pertahanan mengaku tidak secara pribadi mengetahui tentang proposal itu, tapi proposal itu menjadi yang paling konyol yang pernah didengarnya.

2 dari 5 halaman

2. Suara Tuhan

Bagian yang berwarna gelap adalah bagian pada kepala manusia yang paling peka terhadap gelombang mikro. (Sumber Allan H. Frey)

Selama bertahun-tahun tersebar selentingan penggunaan senjata "suara Tuhan" untuk mengarahkan suara ke kepala-kepala orang. Memang benar, ada beberapa laporan para prajurit yang mengaku menyaksikan atau mendengar langsung, tapi selalu dianggap sebagai mitos urban dan pihak militer menyebutnya sebagai tidak masuk akal.

Namun demikian, teknologi untuk itu memang sudah ada. Teknologi tersebut dipelopori oleh Allan H. Frey dan dampak auditori gelombang mikro (microwave) memang ada catatannya dan dikenal sebagai "Frey effect."

Ketika gelombang mikro diarahkan ke kepala seseorang dalam denyut-denyut pendek, mereka menciptakan tekanan akustik karena gelombang termoelastis yang mengaktifkan reseptor auditori tubuh, sebagaimana halnya pendengaran normal.

Pemerintah AS menggelontorkan dana kepada dampak biologi radiasi gelombang mikro selama 2 dekade.

Tapi, ketika senjata yang mengarahkan suara ke kepala orang menggunakan gelombang mikro sedang diciptakan, senjata suara Tuhan itu juga berkemungkinan menembus ke otak manusia sehingga ia percaya sedang mendengar pesan-pesan ilahi.

Ia mungkin mendengar pesan "ilahi", tapi radiasi sekuat itu yang dijejalkan pada kepala seseorang bisa menyebabkan kerusakan otak dan menghanguskan neuron-neuron sebelum mereka bisa melakukan sesuatu.

Walaupun begitu, para ilmuwan tidak menyerah dalam mencari aplikasi yang memungkinkan. Secara khusus, salah satu area yang menjadi fokus adalah periklanan.

Misalnya melalui pengiriman pesan subliminal (bawah sadar) kepada pelanggan ketika sedang masuk ke pasar swalayan, tentunya tanpa memanggang otak mereka.

3 dari 5 halaman

3. Sinar Nyeri

Active Denial System. (Sumber US Department of Defense)

Dalam pencarian perangkat yang tak mematikan (non-lethal) sebagai pengendali kerumunan, pemerintah AS menciptakan "sinar nyeri" yang menembakkan gelombang milimeter kepada orang yang dibidik agar memanaskan lapisan terluar kulit mereka.

Gagasannya adalah agar kerumunan yang dibidik merasa tidak nyaman dengan “sensasi pemanasan setara dengan pintu oven yang terbuka” sehingga mereka bubar demi menghindari panas tersebut.

Perangkat itu pernah ditunjukkan kepada para wartawan yang ditembak secara sukarela dari jarak 500 meter. Karena jarak yang cukup jauh dan mungkin terdampak oleh hujan saat itu, hasilnya kurang begitu menyengat, malah menyenangkan.

Beberapa jurnalis melemparkan canda dan mengatakan mereka ingin ditembak lagi.

Lain ceritanya ketika dilakukan uji militer yang sesungguhnya. Seorang peserta percobaan harus diterbangkan ke rumah sakit setelah menderita luka bakar.

Senjata itu memang kemudian ditugaskan di Afghanistan, tapi segera ditarik karena berpotensi menjadi malapetaka.

Pihak militer mengkhawatirkan bagaimana warga lokal bereaksi sekiranya mereka mengetahui sedang ditembak dengan meriam sinar.

Pada akhirnya, meriam sinar itu dianggap "tidak layak secara politis."

4 dari 5 halaman

4. USS Zumwalt

USS Zumwalt. (Sumber US Navy)

Kapal perusak kelas Zumwalt dirancang menjadi generasi terakhir kapal perang yang kasat indra (stealth). Sudut-sudut kapal itu tampak ganjil demi keperluan memantulkan sinyal, sehingga pembacaan radar kapal itu hanya seperti kapal nelayan sepanjang 15 meter, bukan seperti kapal perang.

Gagasannya adalah agar kapal perusak itu bisa amat dekat ke garis pantai pihak lawan untuk menembakkan peluru-peluru sangat tepat berpanduan GPS ke dalam wilayah musuh. Peluru ajaib itu disebut Long Range Land Attack Projectiles, tapi peluru itu jugalah yang 'menenggelamkan' USS Zumwalt.

Segera setelah memesan USS Zumwalt, pihak Angkatan Laut (AL) AS membatalkan pembelian peluru yang harganya mencapai US$ 800 ribu setiap unitnya. Pihak AL menganggap harga per tembakan terlalu mahal.

Pihak perancang menyalahkan harga mahal itu pada keputusan pihak AL AS untuk mengurangi pesanan kapal dari 32 menjadi 3 unit, sehingga harga peluru menjadi 12 kali lebih mahal dari rencana.

Kini muncul pertanyaan rumit bagi pihak AL mengenai apa yang harus dilakukan untuk menggantikan meriam-meriam. Lockheed Martin, pihak pembuat kapal, mengusulkan peluru artileri berpanduan jenis lain.

Bahkan meriam rel juga dipertimbangkan jika teknologinya berhasil. Salah satu pilihan layak lainnya adalah pelontar rudal seperti biasa.

Apapun pilihannya, dana US$ 22,5 miliar yang sudah digelontorkan untuk sistem senjata canggih itu mungkin terbuang sia-sia.

Artikel Selanjutnya
5 Fakta Mengerikan Bom Hidrogen
Artikel Selanjutnya
Demi Selamatkan 400 Nyawa, Polisi Lari 1 Km Sambil Bawa Bom Aktif