Sukses

Tahukah Anda? 5 'Kiamat Kecil' Ini Pernah Melanda Bumi

Liputan6.com, Jakarta - Planet Bumi mengalami sejumlah malapetaka atau kiamat kecil pada masa lalu. Baru belakangan para ilmuwan bisa menguak rincian peristiwa dahsyat itu.

Ilustrasi asteroid mendekati Bumi. (Via: telegraph.co.uk)

Misalnya, sekitar 65 juta tahun lalu, asteroid raksasa menghantam Bumi dan memicu punahnya dinosaurus. Dan ternyata, itu bukan satu-satunya peristiwa kolosal yang terjadi di Planet Biru.

Masa lalu Bumi penuh kejadian ganas, yang kisahnya jauh lebih menegangkan daripada film-film Hollywood.

Planet manusia Bumi sudah beberapa kali mengalami "kiamat" kecil yang sempat memusnahkan bentuk kehidupan, tapi kemudian berhasil pulih kembali.

Disarikan dari Listverse.com pada Kamis (3/8/2017), berikut ini adalah 5 malapetaka atau kiamat kecil yang pernah melanda Bumi:

 

1 dari 6 halaman

1. Dingin Ekstrem 1.000 Tahun

Dugaan letak Danau Agassiz pada masa Bumi purba. (Sumber Wikimedia Commons)

Kebanyakan hewan besar klasik Amerika Utara -- mastodon, macan gigi taring panjang, kungkang, dan beberapa lagi -- punah sekitar 12 ribu tahun lalu. Kepunahan itu berbarengan dengan masa geologis Dryas Muda.

Dryas Muda terjadi dekat penghujung zaman es terakhir ketika Bumi menghangat dan gletser menyusut. Karena beberapa alasan, penghangatan terhenti dan suhu global anjlok hingga sebesar 24 derajat Celcius hanya dalam beberapa dekade saja. Hawa dingin itu berlangsung selama lebih dari 1.000 tahun dan memusnahkan banyak spesies.

Kepunahan itu oleh para ahli geologi disebut "mendadak secara geologis dan menjadi manifestasi paling ekstrem perubahan iklim dalam catatan geologis."

Hal itu menjadi misteri selama beberapa tahun, tapi sekarang pada ilmuwan memiliki teori menarik tentang penyebab kondisi tersebut. Ketika zaman es berakhir dan gletser menyusut, maka terbentuklah danau-danau air lelehan es dalam gletser-gletser itu sendiri.

Danau Agassiz adalah salah satu danau luas sejenis itu dan membentang sekitar 945 ribu kilometer persegi.

Bendungan es yang menampung danau itu runtuh sehingga melimpahkan 16 ribu kilometer persegi air tawar dingin ke arus hangat di laut hingga menurunkan suhu Bumi. Pemikiran utama saat ini menduga ada asteroid yang menyebabkan anjloknya suhu.

Ilmuwan Harvard bernama Michail Petaev dan rekan-rekannya menyatakan bahwa dampak itu terbukti dari tingginya kadar platinum dan iridium yang ditemukan dalam inti sampel di Tanah Hijau dan berasal dari Masa Holosen. Platinum dan iridium adalah ciri khas kosmis untuk tabrakan meteorit yang berbahan zat besi.

Sejumlah ilmuwan lain telah menemukan permata-permata berukuran nano dan partikel-partikel karbon yang berasal dari lapisan endapan yang sama. Semua itu mendukung hipotesis tentang asteroid.

2 dari 6 halaman

2. Semburan Sinar Gamma

Ilustrasi semburan sinar gamma (gamma-ray burst, GRB) dari suatu supernova yang sedang akan mati. (Sumber Wikimedia Commons)

Kalau kita lihat dari Bumi, semesta tampak seperti gambar malam hari yang tenang dan sunyi. Padahal, angkasa juga bisa menjadi tempat terjadinya gejolak ekstrem.

Semburan sinar gamma (gamma-ray burst, GRB) terjadi pada saat kematian supernova bintang-bintang besar dan merupakan ledakan paling keras di alam semesta.

Ekstremnya gejolak yang terjadi sukar dibayangkan dalam pikiran manusia. Gejolak demikian bisa berlangsung selama beberapa milidetik hingga beberapa menit. Hanya dalam waktu sesingkat itu, ledakan supernova memancarakan energi setara dengan keluaran energi matahari selama 10 miliar tahun.

Para ilmuwan dari University of Kansas dan NASA menggunakan permodelan hipotesis bahwa ledakan itu mungkin saja menyebabkan kepunahan massal yang terjadi dalam zaman Ordovician – kira-kira 200 juta tahun sebelum dinosaurus pertama kalinya berkelana di Bumi, jauh sebelum adanya hewan ataupun kehidupan mencukupi sejumlah tanaman di darat.

Para ilmuwan menyimpulkan bahwa semburan hanya selama 10 detik dari jarak 6000 tahun cahaya sudah cukup untuk merusak setengah lapisan ozon Bumi dan memaparkan semua makhluk hidup pada radiasi mematikan sinar UV dari matahari.

Bentuk-bentuk kehidupan mungil yang ada di dasar rantai makanan – plankton, misalnya – akan tersapu bersih. Perubahan kimiawi di atmosfer juga mendinginkan planet sehingga mengganggu ekosistem di manapun.

Brian Thomas, calon PhD dari University of Kansas, mengatakan bahwa sebanyak 60 persen invertebrata di lautan mungkin telah punah semuanya. Makhluk-makhluk dekat permukaan laut mungkin langsung terdampak oleh kurangnya pangan dan paparan sinar UV dari matahari.

Makhluk-makhluk di kedalaman laut mungkin bisa hidup lebih lama, tapi gangguan rantai pangan pun akhirnya sampai kepada mereka.

3 dari 6 halaman

3. Hantaman Maut Melanda Bumi

Ilustrasi hujan komet ke planet Bumi purba. (Sumber Jet Propulsion Library NASA)

Bayangkanlah kalau Bumi dihantam begitu banyaknya bebatuan besar dari angkasa selama jutaan tahun. Ternyata, hal itu pernah terjadi pada awal sejarah Bumi. Menurut peneliti Robert Duncan dari Oregon State University, "Sekitar 3,9 miliar tahun lalu, Bumi tentulah menjadi tempat tinggal yang memilukan."

Kejadian itu dikenal dengan istilah "Late Heavy Bombardment", yaitu ketika rentetan hantaman maut menghujam Bumi di awal riwayatnya, kemungkinan besar disebabkan oleh gangguan pada sabuk asteroid antara Bumi dan Mars.

Bukti hantaman itu di Bumi telah lama terhapus oleh erosi dan gerak-gerik tektonik kerak planet. Jadi, baru setelah pendaratan di Bulan lah kita bisa memungut batu rembulan yang menguak kejadian tersebut.

Penandaan kimia dan teknik penanggalan radiometri yang digunakan pada batu-batu Bulan mengungkapkan bahwa baik Bumi maupun Bulan menerima hujan meteor pada saat kehidupan diduga mulai berkembang di planet kita. Para ilmuwan menduga hujan bebatuan angkasa itu berlangsung selama 100 miliar tahun.

Ada beberapa teori tentang asal-usul gangguan pada sabuk asteroid itu, misalnya keberadaan "Planet V" yang terbentuk dalam zona planet-planet kecil, tapi kemudian ditelan oleh matahari.

Ada juga yang menduga karena resonansi orbit-orbit planet Yupiter dan Saturnus. Atau ada kemungkinan tabrakan planet-planet ke-10 dan 11 yang belum dikenal dan ada di bagian luar sistem tata surya kita.

4 dari 6 halaman

4. Hantaman 'Dewa Siwa'

Ilustrasi hujaman benda angkasa ke Bumi sehingga diduga menimbulkan 'kiamat' kecil di masa lalu. (Sumber Wikimedia Commons)

Menurut suatu teori baru, ada dua – bukan hanya satu – hantaman asteroid yang memusnahkan dinosaurus. Kawah Chicxulub di Semenanjung Yucatan, Meksiko, adalah bukti hantaman hebat yang membawa perubahan iklim global dan pemusnahan besar-besaran.

Asteroid yang menghantam Bumi pada masa Cretaceous Akhir 65 juta tahun lalu berukuran lebar 10 kilometer dan mengakibatkan terjadinya kawah selebar kira-kira 180 kilometer.

Hanya kira-kira 300 ribu tahun kemudian, ketika Bumi masih secara geologis sedang pulih dari hantaman, ada lagi batu selebar 40 kilometer yang menghantam lautan di lepas pantai bagian barat India dan menyebabkan kawah selebar 480 kilometer.

"Jika kita benar, maka itu adala kawan terbesar yang diketahui ada di Bumi," demikan menurut ahli paleoantologi Sankar Chattarjee. Kawah itu pun diberi nama Shiva (Siwa), sang dewa penghancur dalam kepercayaan Hindu.

Tabrakan itulah yang diduga memisahkan kepulauan Seychelles dari anak benua India. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa sebagian kerak Bumi menguap di titik hujaman sehingga memulai banjir vulkanisme basal di Deccan Traps (serupa dengan Siberian Traps). Kejadian itu juga melepaskan gas beracun dan mempercepat vulkanisme yang saat itu pun sudah gencar di barat India.

Tumbukan itu sangat luar biasa sehingga membuat penyok bagian selimut litosfer Bumi dan melumat lempeng tektonik tempat asteroid menghantam.

Dikeroyok oleh energi kinetik maut, tsunami raksasa, meluapnya banjir lava, dan merebaknya gas, spesies-spesies yang sebelumnya sedang bergulat nyaris punah pun tidak bisa melawan.

Tabrakan itu jauh melebihi kawah Chicxulub secara skala maupun keganasannya. Menurut Chatterjee, "Dinosaurus sedang sial sekali."

5 dari 6 halaman

5. Hantaman Theia

Ilustrasi hantaman benda planetoid pada Bumi sehingga terciptalah Bulan dari materi yang terlempar ke orbit. (Sumber Wikimedia Commons)

Yang terparah di antara hantaman kosmik terjadi ketika sebuah planet Theia yang seukuran Mars menghantam Bumi saat badan-badan planet saling bebas bertubrukan di awal riwayat sistem tata surya kita.

Bumi pun menghantam suatu bola lelehan batu yang sedang berputar.

Bencana itu menghasilkan Bumi yang bisa dihuni seperti sekarang ini dan juga Bulan. Puing lelehan yang terlempar setelah tabrakan besar itu bertengger di orbit gravitasional yang disebabkan oleh gumpalan besar Bumi yang tersisa.

Puing-puing itu akhirnya menjadi menggumpal menjadi bulatan yang hingga kini selalu hadir di angkasa malam.

Lagi-lagi, kita berterima kasih kepada misi Apollo dan penelitian lanjutan terhadap batu-batu Bulan sehingga kita mengetahui bahwa bebatuan Bumi dan Bulan memiliki komposisi yang sangat serupa.

Temuan itu menyebabkan para ilmuwan berkesimpulan bahwa Bumi dan Bulan dulunya adalah benda angkasa yang sama tapi terpisah karena tabrakan protoplanet di awal riwayat Bumi.

Daniel Herwartz, seorang ahli geokimia isotop di Gottingen, Jerman, mendapati keserupaan isotop oksigen antara bebatuan Bulan dan bebatuan Bumi sehingga memperkuat hipotesis tentang tabrakan yang dimaksud.

Katanya, "Kelompok meteorit ini memiliki komposisi isotop yang sangat amat sangat serupa dengan Bumi."

Tapi, beberapa ilmuwan berpendapat bahwa Theia itu lebih sekadar asteroid jenis E, tidak sampai berupa planet seperti yang kita kenal.

Artikel Selanjutnya
Seperti Otak Manusia, Makhluk Misterius Ini Bikin Heboh Ilmuwan
Artikel Selanjutnya
7 Fenomena Alam yang Belum Dapat Dijelaskan