Sukses

3-8-1492: Pelayaran Perdana Columbus, Tonggak Kolonialisme Eropa

Liputan6.com, Madrid - Hari ini, 525 tahun yang lalu, dengan membawa panji Kerajaan Spanyol, pelaut, pionir, dan petualang asal Italia, Christopher Columbus, mengangkat jangkar dan membentangkan layar kapalnya, dari Pelabuhan Palos, menuju Dunia Baru.

Berlayar menggunakan kapal induk Santa Maria bersama dua kapal pengawal Nina dan Pinta, pada awalnya sang penjelajah berharap mampu menginjakkan kaki di Hindia, China, dan Asia. Akan tetapi, tak dinyana, yang ia tuju justru Benua Amerika. Demikian seperti yang dilansir dari History.com, Rabu (2/8/2017).

Sang pelaut Italia mengemban sejumlah misi yang dimandatkan oleh Kerajaan Spanyol, mulai dari membuka jalur dan kontak perdagangan baru, mencari rempah dan emas, penyebaran agama Kristen, hingga observasi kewilayahan untuk membuka koloni baru di Asia.

Columbus melaksanakan ekspedisinya dengan menggunakan rute pelayaran perairan barat atau melalui Samudra Atlantik. Pemilihan jalur tersebut, ketimbang menggunakan jalur perairan selatan melalui Afrika dan Timur Tengah --yang biasa digunakan oleh pelaut Eropa saat itu, didasari atas alasan demi menghindari konflik dengan pelaut Afrika dan Arab.

Jelang berlayar, Columbus mencoba menarik minat penjelajah Portugis dalam rencananya untuk berlayar ke arah Barat. Namun, mereka menolak proposal itu.

Bahkan Kerajaan Spanyol pada awalnya diprediksi akan menolak tawaran sang pelaut Italia. Karena saat itu, seluruh kekayaan kerajaan hampir sebagian besar dialokasikan untuk berperang dengan Bangsa Moor di Granada.

Beruntung, Spanyol berhasil memenangi perang dan proposal pelayaran Columbus ke Asia via Atlantik pun diterima oleh petinggi monarki.

Pada 12 Oktober 1492, Santa Maria, Nina, dan Pinta berhasil menyentuh Bahama, Amerika. Pada 30 hari selanjutnya, Columbus berhasil mendarat di Kuba (yang ia kira pada saat itu sebagai China) dan sebulan kemudian menyambangi Hispaniola (yang saat itu dikira sebagai Jepang).

Di sana, Columbus membuka koloni untuk 39 anak buahnya. Sekembalinya ke Spanyol pada 1493, sang ekspedisioner berhasil membawa pulang emas, sejumlah rempah, dan budak 'Indian' (alias Penduduk Asli Amerika), yang ia kira sebagai penduduk asli Hindia. Keberhasilan itu berbalas sejumlah penghargaan dari monarki Negeri Matador kepada Columbus.

Meski diklaim sebagai pelayaran yang berhasil, destinasi tersebut jauh dari apa yang diharapkan oleh Columbus yang berniat menginjakkan kaki di Hindia dan China.

Uniknya, hingga mengembuskan napas terakhir pada 1506, sang pelaut Italia itu tidak pernah menyadari bahwa ekspedisinya ke Kuba, Hispaniola, Karibia, Teluk Meksiko, dan Amerika Selatan, yang ia sangka sebagai "Asia" itu, merupakan pencapaian suksesnya atas penemuan Benua Amerika modern.

Meski Columbus bukan orang Eropa pertama yang menginjakkan kaki di Amerika, pendaratannya di sana tetap dianggap paling signifikan dalam rekam jejak sejarah manusia. Ekspedisi sang pelaut Italia itu berhasil membuka jalur laut lalu lintas pulang-pergi pertama Eropa - Amerika untuk perdagangan dan militer, yang berimplikasi pada proses kolonialisme Benua Biru di "Benua Baru".

Sementara itu, pada 3 Agustus 1975, pesawat Boeing 707 mengalami kecelakaan, menabrak Pegunungan Atlas, di Agadir, kota tepi pantai di selatan Maroko, dan menewaskan 188 penumpang dan awak kabinnya. Maskapai milik Jordanian Airlines yang disewa oleh Royal Air Maroc tersebut, lepas landas dari Bandara LeBourget, Paris, pada pukul 02.20 pagi waktu setempat.

Pada tanggal yang sama, 3 Agustus 1988, di belahan dunia lain, Uni Soviet (Rusia sekarang) membebaskan pilot muda Jerman, Mathias Rust, yang mendaratkan pesawat Cessna di Red Square, Moskow, pada 1987.

 

 

Saksikan juga video berikut ini

Artikel Selanjutnya
Ini 4 Pedang Paling Bersejarah dalam Sejarah Dunia
Artikel Selanjutnya
2-9-1945: Jepang Menyerah, Momentum Berakhirnya Perang Dunia II