Sukses

Sejarah Berulang, Insiden Saling Usir AS dan Rusia 1986 dan 2017

Liputan6.com, Washington, DC - Seperti yang ramai diberitakan beberapa waktu terakhir, ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Rusia meningkat.

Berbagai isu pemicu tensi tinggi menyelimuti kedua negara mantan seteru pada Perang Dingin itu, mulai dari tudingan intervensi Moskow pada Pilpres AS 2016 hingga perbedaan dukungan dalam perang saudara di Suriah.

Teranyar, kedua negara tampak mulai memasuki babak baru krisis diplomatik, setelah Rusia dilaporkan mengusir 755 staf kedutaan AS dari Moskow.

Tindakan itu dilakukan untuk membalas sanksi yang dijatuhkan AS kepada Negeri Beruang Merah pada akhir Juli 2017.

Amerika Serikat juga pernah mengusir para staf diplomatik Rusia dari Washington DC pada 2016, ketika mencuat dugaan serangan siber Negeri Beruang Merah pada Pilpres AS 2016.

Akan tetapi, peristiwa itu bukan barang baru bagi bilateral kedua negara. Bagi yang tidak menyadarinya, rangkaian peristiwa itu seakan mengingatkan kembali pada Perang Dingin antara Rusia --yang dulu masih menjadi bagian dari Uni Soviet-- dengan Amerika Serikat. Demikian seperti yang dilansir dari History.com, Selasa (1/8/2017).

Karena, pada 1986, AS dan Uni Soviet pernah mengalami peristiwa pengusiran para staf diplomatik yang serupa seperti pada masa kini.

Peristiwa pada 1986 itu dimulai tepatnya pada bulan Maret, ketika AS memerintahkan Soviet untuk memulangkan 25 diplomatnya dari markas besar PBB di Kota New York.

Namun, seperti yang dilaporkan oleh Los Angeles Times kala itu, AS sesungguhnya tidak memiliki wewenang untuk mengusir diplomat sebuah negara yang berdinas di PBB, jika tidak memiliki bukti pelanggaran.

Perintah itu tidak diindahkan oleh Soviet dan juga PBB.

Hal itu membuat AS merasa malu pada komunitas diplomatik internasional dan PBB.

Tak ingin terus dirundung malu, Presiden AS Ronald Reagan yang menjabat kala itu kembali berupaya untuk mengusir 25 diplomat Soviet itu.

Kini, Washington, DC membekali diri proses pengusiran dengan pre-teks bahwa para atase Negeri Tirai Besi itu merupakan agen mata-mata rahasia.

Uni Soviet pun, kala itu, membantah tudingan tersebut. Akibatnya, tensi diplomatik kedua negara kian memuncak.

Eskalasi mengalami titik tertinggi pada Oktober 1986. Sebagai langkah balasan atas perlakuan AS terhadap diplomat Soviet di Markas Besar PBB New York, Kremlin mengusir lima diplomat Negeri Paman Sam dari Moskow. Pengusiran itu --sama seperti AS-- didasari dengan dalih bahwa para atase AS itu merupakan agen mata-mata rahasia.

Menurut LA Times, kalut peristiwa diplomatik kala itu tidak diawali oleh preseden yang jelas. Saat itu, saling tuding atas dugaan aktivitas spionase mendadak muncul dari kedua negara.

Beberapa hari kemudian, AS membalas Moskow dengan mengusir 55 diplomat Soviet dan atase kekonsulerannya dari kedutaan di Washington, DC dan konsulat jenderal di San Fransisco. Rangkaian peristiwa pada 1986 itu terkenal sebagai proses pengusiran diplomat terbesar sepanjang sejarah AS.

Tak mau kalah angin, Soviet membalas hal itu dengan memerintahkan 260 warganya yang dipekerjakan di Kedubes AS di Moskow untuk berhenti bekerja di tersebut.

Fungsi sehari-hari kantor kedutaan itu pun efektif lumpuh seketika, karena banyak dari 260 karyawan berkewarganegaraan Soviet yang berdinas di Kedubes AS itu bekerja sebagai staf kantor, asisten, kepala dapur, koki, juru ketik, dan sekretaris.

Setelah Soviet terpecah pada 1991, banyak kebijakan luar negeri antara Moskow dengan Washington, DC mengalami perubahan. Dan sejak itu, kedua negara telah intens menugaskan atase diplomatik dan kekonsuleran baik di Rusia maupun AS.

Namun, krisis diplomatik pada 1986 itu kembali terulang 31 tahun kemudian, setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memutus 755 staf diplomatik AS di Rusia.

Menurut The Washington Post, 867 dari 1.200 karyawan Amerika Serikat di Rusia pada 2013 berdinas sebagai "Staf Nasional Asing". Kebanyakan dari mereka mungkin adalah warga negara Rusia.

Karena itu, memutus kerja 755 karyawan dan staf diplomatik, dapat berarti memotong pekerjaan untuk orang AS dan Rusia.

Saksikan juga video berikut ini

Artikel Selanjutnya
Eks Pemimpin Ku Klux Klan Memuji Donald Trump
Artikel Selanjutnya
Nasib Patung Jenderal Konfederasi Pemicu Demo Berdarah di AS...