Sukses

2-8-1990: Perang Teluk I Pecah Pasca-Invasi Irak ke Kuwait

Liputan6.com, Baghdad - Sekitar pukul 02.00 pada tanggal 2 Agustus 1990, pasukan Irak menyerbu Kuwait, tetangganya yang kecil dan kaya minyak. Pasukan Kuwait kewalahan dan mundur hingga ke Arab Saudi.

Emir Kuwait, keluarganya, dan sejumlah pejabat pemerintah juga melarikan diri ke Saudi. Dalam beberapa jam ibu kota negara, Kuwait City, berhasil ditaklukkan dan Irak segera membentuk sebuah pemerintah provinsi.

Mencaplok Kuwait, membuat Irak menguasai 20 persen cadangan minyak dunia. Selain itu, Negeri 1001 Malam itu pun dapat memiliki garis pantai yang luas di Teluk Persia.

Pada hari yang sama, di belahan dunia berbeda, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengecam invasi tersebut. Mereka mendesak Irak segera menarik diri. Lantas, pada 6 Agustus, DK PBB melarang seluruh negara di dunia berdagang dengan Irak.

Pada 9 Agustus, Operation Desert Storm dimulai di mana pasukan AS menuju Teluk Persia. Sementara, penguasa Irak kala itu Saddam Hussein menempatkan 300.000 tentaranya di Kuwait.

Pada 29 November, DK PBB mengeluarkan resolusi yang mengizinkan penggunaan kekuatan bersenjata jika Saddam bersikeras tak menarik pasukannya hingga 15 Januari 1991. Setidaknya 700.000 tentara sekutu telah dikumpulkan di Timur Tengah untuk "berjaga-jaga".

Irak sendiri saat itu sudah menetapkan Kuwait sebagai bagian dari provinsinya, karenanya menolak tuntutan menarik mundur pasukannya. Demikian seperti dikutip dari History.

Ketika tiba waktunya, tepatnya pada 16 Januari 1991 pukul 16.30 waktu setempat, Operation Desert Storm, serangan besar-besaran yang dipimpin AS untuk melawan Irak dimulai. Pesawat tempur pertama diluncurkan dari Arab Saudi dan berikutnya dari kapal induk AS dan Inggris yang "diparkir" di Teluk Persia.

Sepanjang malam pada hari itu, pesawat pasukan koalisi menggempur sasaran di dan sekitar Baghdad. Sementara itu, dunia menyaksikan langsung kejadian tersebut melalui siaran televisi yang ditayangkan lewat satelit dari Irak.

Operation Desert Shield dilakukan sebuah pasukan koalisi internasional yang terdiri dari 32 negara di bawah komando tertinggi Jenderal AS Norman Schwarzkopf. Beberapa di antara pasukan yang bergabung berasal dari Inggris, Mesir, Prancis, Arab Saudi, dan Kuwait.

Selama enam pekan, pasukan sekutu terlibat dalam perang udara intensif. Namun, mereka hanya mendapat sedikit perlawanan yang efektif dari angkatan udara Irak. Di darat, pasukan Irak tak berdaya.

Hal signifikan yang mampu dilakukan Irak adalah meluncurkan rudal Scud ke Israel dan Arab Saudi. Saddam berharap bahwa serangan rudal tersebut akan memancing Israel masuk ke dalam konflik, sehingga membubarkan dukungan negara-negara Arab atas perang melawan Irak.

Harapan Saddam tak terjadi. Atas desakan AS, Israel tetap berada di luar arena peperangan.

Pada 24 Februari, sebuah serangan pasukan koalisi dilakukan. Angkatan bersenjata Irak yang ketinggalan zaman dan buruknya pasokan, membuat mereka dengan cepat menderita kekalahan. Di akhir hari itu, setidaknya 10.000 tentara Irak dijadikan tahanan, dan AS pun mendirikan pangkalan udara di Irak.

Kurang dari empat hari, Kuwait dibebaskan, dan sebagian besar angkatan bersenjata Irak menyatakan menyerah.

Presiden George Bush pada 28 Februari 1991 mengumumkan sebuah gencatan senjata. Lalu pada 3 April, DK PBB mengeluarkan resolusi 687, yang menyatakan berakhirnya konflik secara formal.

Menurut resolusi tersebut, gencatan senjata yang diumumkan Bush akan diberlakukan resmi. Beberapa sanksi atas Irak akan dicabut, tapi tidak dengan larangan penjualan minyak Irak. Larangan penjualan minyak masih akan berlanjut hingga negara itu menghancurkan senjata pemusnah massal di bawah pengawasan PBB.

Pada 6 April, Irak menerima resolusi tersebut. Kendati demikian, selama dekade berikutnya, Saddam kerap melanggar persyaratan perjanjian damai yang mendorong serangan udara sekutu dan berlanjutnya sanksi PBB.

Dalam Perang Teluk I, AS kehilangan 148 tentaranya dan 457 lainnya cedera. Tidak disebutkan korban dari pihak Irak, tapi diyakini setidaknya 25.000 tentara terbunuh dan lebih dari 75.000 lainnya cedera.

Diperkirakan 100.000 warga sipil Irak meninggal karena terluka atau kekurangan pasokan air, makanan, dan obat-obatan yang secara langsung terkait dengan Perang Teluk I.

Dalam peristiwa berbeda yang terjadi pada 2 Agustus 1939, fisikawan kelahiran Jerman, Albert Einstein, menulis surat kepada presiden Amerika Serikat yang menjabat kala itu, Franklin D Roosevelt. Suratnya berisi desakan agar dilakukannya penelitian atom.

Seperti dilansir dari situs History, tindakan Einstein itu dilakukan karena ia khawatir bahwa Nazi telah memulai mengembangkan senjata pemusnah massal berupa bom atom. Sebagai seorang Yahudi kelahiran Jerman, Einstein melarikan diri ke Amerika Serikat setelah pemimpin Nazi Adolf Hitler merebut kekuasaan pada 1934.

Sejarah mencatat, 2 Agustus 1934, Adolf Hitler menjadi diktator Jerman dengan gelar Führer.

Artikel Selanjutnya
Militer Suriah Hancurkan Blokade ISIS di Deir al-Zour
Artikel Selanjutnya
PM Irak Umumkan Kemenangan di Tal Afar, ISIS Kian Terpojok