Sukses

5 Lokasi Fiktif dalam Peta 'Hantu' Bersejarah

Liputan6.com, Jakarta - Pada masa ketika satelit pengindera geografi belum tercipta atau sistem navigasi belum ditemukan, para pionir penjelajah Bumi kerap melaporkan sejumlah lokasi semu, seperti pulau atau gunung palsu, peradaban mistis, dan lokasi geografis fiktif lain yang pernah menjadi legenda dalam sejarah manusia.

Dulu misalnya, Australia sempat diklaim memiliki lautan di tengah daratannya (inland sea). Namun, seiring waktu dan ekspedisi lanjutan, laut di tengah benua Australia hanya isapan jempol belaka.

California di tepi barat Amerika Serikat juga dipercaya sebagai kepulauan yang terpisah dari Amerika Utara. Saat itu sempat diyakini, di antara 'pulau California' dengan benua Amerika Utara, terdapat sebuah celah perairan, yang dapat digunakan sebagai rute pelayaran alternatif untuk menuju Amerika Selatan.

Pulau Bermeja di Meksiko, yang sempat dilaporkan eksistensinya dalam peta resmi Amerika Serikat pada 1914, ternyata merupakan sebuah lokasi fiktif, setelah berhasil dibuktikan oleh tim eksplorasi penjelajah minyak Meksiko.

Terbaru, pada 2012, Kepulauan Sandy yang dulu sempat dipetakan terletak di antara Australia dan Kaledonia Baru, kini dideklarasikan sebagai phantom island (pulau semu), karena kenyataannya pulau itu tidak pernah ada.

Seiring berkembangnya waktu, teknologi navigasi, dan pemetaan, 'Pulau California', laut di tengah benua Australia dan berbagai lokasi maupun peradaban semu lainnya berhasil dibuktikan sebagai sebuah laporan keliru para penjelajah pionir yang mengalami keterbatasan informasi serta ilmu pengetahuan.

Akan tetapi, pada masanya, ketika ilmu pengetahuan dan teknologi belum semumpuni masa kini, laporan 'fiktif bertendensi hoax' itu sempat dianggap sebagai sebuah kebenaran. Alhasil, para pembuat peta dan atlas pada masa itu, dengan segala keterbatasannya, menggambarkan topografi, kawasan perairan, dan lokasi peradaban Bumi berdasarkan keterangan tersebut.

Dan selama bertahun-tahun lokasi fiktif itu dipercaya eksistensinya.

Kini, lewat buku 'The Phantom Atlas: The Greatest Myths, Lies and Blunders on Maps' karya Edward Brooke-Hitching, lokasi legenda tersebut dijadikan bunga rampai sejarah, yang ditujukan untuk menunjukkan bahwa tempat-tempat tersebut pernah 'dipercaya ada' dalam riwayat eksplorasi Bumi yang dilakukan oleh manusia.

Dari berbagai contoh, berikut 5 lokasi fiktif yang dulu sempat dipercaya ada, berdasarkan informasi dari buku karya Brooke-Hitching, seperti yang dilansir dari News.com.au, Minggu (30/7/2017).

Saksikan juga video berikut ini

1 dari 6 halaman

1. Selat Anian

Selat Anian (Edward Brooke-Hitching/The Phantom Atlas: The Greatest Myths, Lies and Blunders on Maps)

Salah satu obsesi penjelajah Eropa terbesar pada masa lalu hingga kini terkait eksplorasi Bumi melalui laut adalah pencarian rute pelayaran alternatif melalui Arktika untuk menuju Asia. Rute alternatif itu dianggap mampu menggeser jalur pelayaran yang sering digunakan, yakni melalui Tanjung Horn di Amerika Selatan atau Selat Magellan.

Pada masa lalu, para penjelajah sempat membayangkan rute alternatif bernama Selat Anian. Digambarkan dengan sangat rinci dan diadopsi oleh pembuat peta dari Abad ke-16, selat itu dipercaya mampu mempersingkat jalur pelayaran Eropa untuk menuju Amerika bahkan ke Asia.

Pada peta tahun 1567 yang dibuat oleh Bolognini Zaltieri, Selat Anian digambarkan sebagai celah sempit dan bengkok yang memisahkan Asia dari Amerika.

Namun, pada 1778, pelaut asal Inggris, James Cook membantah mengenai rumor selat tersebut. Lalu kini, rute pelayaran alternatif seperti yang sempat dibayangkan dalam imaji Selat Anian, lebih dikenal sebagai rangkaian jalur pelayaran via Selat Bering, Laut Atlantik, dan Samudera Arktik atau yang secara kolektif bernama The Northwest Passage.

 

2 dari 6 halaman

2. Terra Australis

Terra Australis (Edward Brooke-Hitching/The Phantom Atlas: The Greatest Myths, Lies and Blunders on Maps)

Jauh sebelum penjelajah Belanda dan Portugis mulai memetakan pantai barat Australia, Terra Australis atau Tanah Selatan Agung diyakini sebagai benua yang luas di belahan Bumi bagian selatan. Kawasan itu juga sempat disebut oleh Aristoteles dalam bukunya Meteorology pada abad ke-4 SM.

Ferdinand Magellan pada 1520, melihat daratan di seberang Terra del Fuego di ujung selatan Amerika Selatan. Kala itu, daratan tersebut diyakini sebagai ujung dari Terra Australis.

Pada 1533, Johannes Schoner Jerman menghasilkan penggambaran pertama Terra Australis di dunia, yang merujuk kawasan benua di selatan Bumi seperti yang dilaporkan oleh Magellan. Pada 1589, peta Abraham Ortelius di Pasifik
menunjukkan raksasa Terra Australis yang mendominasi bagian selatan.

Dan pada 1642, ketika Abel Tasman melihat Selandia Baru, penemuan Australia modern dimulai dan mulai terbentuk di peta. Dan, daratan luas Terra Australis di selatan Bumi seperti laporan Magellan dan yang digambarkan oleh Schoner, kini dikenal sebagai Benua Negeri Kanguru.

 

3 dari 6 halaman

3. Laut di Tengah Benua Australia

Laut di tengah Australia (Edward Brooke-Hitching/The Phantom Atlas: The Greatest Myths, Lies and Blunders on Maps)

Pada abad ke-19, 42 tahun setelah pendaratan Armada Pertama Inggris di Teluk Botany pada 1788, kawasan interior Australia yang belum dipetakan, merupakan sumber misteri dan juga sumber harapan besar bagi para penjelajah dan calon kolonial.

Demi menarik pendanaan penjelajahan dan eksplorasi, Thomas Maslen dari Inggris membuat peta Australia yang penuh harapan, dengan sumber mata air raksasa di tengah benua tersebut.

Fakta bahwa kehadiran sungai atau sumber mata air pada umumnya berkorelasi pada penemuan tanah yang subur, menjadi daya tarik bagi para calon penjelajah dan kolonial yang berharap bisa menemukan hal serupa di tengah Australia.

Namun, seiring waktu dan eksplorasi lebih lanjut, tak ada satu pun lautan atau sumber mata air luas yang dapat ditemukan di tengah Australia. Yang ada hanyalah --seperti yang kita kenal pada masa kini-- gurun pasir dengan temperatur panas nan gersang.

Meski begitu, kawasan utopia mengenai daratan sentral Australia yang subur, sempat menjadi lokasi yang dipercaya ada dalam sejarah manusia.

 

4 dari 6 halaman

4. Pulau California

Pulau California (Edward Brooke-Hitching/The Phantom Atlas: The Greatest Myths, Lies and Blunders on Maps)

Fantasi California sebagai pulau surga duniawi dapat ditelusuri kembali ke sebuah buku terbitan tahun 1510 berjudul Las Sergas de Esplandian yang menggambarkan tanah yang penuh dengan wanita Amazon tanpa pria. Mitos hebat ini mendorong penjelajah Spanyol, Hernan Cortes untuk mengirim ekspedisi demi menemukan pulau Amazon.

Dalam prosesnya, penjelajah Spanyol berhasil menemukan Semenanjung Baja. Namun, selama bertahun-tahun, Pulau California belum juga ditemukan. Upaya pencarian pun digandakan.

Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, eksplorasi Spanyol berhasil mengklaim penemuan pulau surga duniawi itu, terletak tak begitu jauh dari Semenanjung Baja. Dan Pulau California mulai muncul pada sejumlah peta pelayaran.

Namun, pada 1706, sejumlah keraguan muncul. Melalui sebuah eksplorasi dan pemetaan lebih lanjut, apa yang disebut sebagai Pulau California itu ternyata merupakan Teluk California di Meksiko.

Pada 1747, Raja Ferdinand dari Spanyol menyatakan: "California bukanlah sebuah pulau".

 

5 dari 6 halaman

5. Kepulauan Sandy

Pulau Sandy (Edward Brooke-Hitching/The Phantom Atlas: The Greatest Myths, Lies and Blunders on Maps)

Sempat diklaim sebagai fakta, Pulau Sandy di lepas pantai timur Australia ternyata diklaim sebagai pulau fiktif pada tahun 2012. Pulau semu itu pertama kali muncul di peta kelautan Inggris edisi 1908, yang mengindikasikan bahwa Pulau Sandy telah ditemukan pada tahun 1876 di perairan teritorial Prancis oleh kapal perburuan ikan paus, Velocity.

Oleh Prancis, pulau itu diberi nama "Ile de Sable". Sekitar ukuran Manhattan, pulau ini ada selama satu abad dan ditandai dengan jelas pada peta Badan Pemetaan Pertahanan AS 1982.

Pada laporan Badan Pemetaan AS itu tertulis, 'Pertama dilaporkan pada tahun 1876. Dilaporkan sekitar 4 mil timur, 1968.'

Namun, pada bulan November 2012, sebuah kapal surveyor Australia melewati daerah tersebut, dan berdasarkan observasi langsung, kapal tersebut mendobrak seluruh laporan eksistensi mengenai Kepulauan Sandy.

Ekspedisi tersebut dipimpin oleh Maria Seton, seorang ilmuwan muda dari University of Sydney, ke Laut Koral di atas kapal penelitian, RV Southern Surveyor.

Awak memperhatikan bahwa di beberapa peta tergambar sebuah pulau hitam panjang. Akan tetapi, peta on-board (peta faktual yang digunakan dalam pelayaran) tidak menunjukkan apa-apa kecuali laut lepas.

Hasil observasi Souther Surveyor menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah pulau sepanjang 24 km dan seluas 5 km persegi itu tertutup oleh air? Apakah kala itu sedang ada pasang laut?

Namun, setelah beberapa waktu observasi, apa yang disebut sebagai Pulau Sandy itu tak kunjung muncul. Beberapa waktu kemudian, pulau itu dengan cepat dihapus dari banyak peta dan rangkaian data, termasuk National Geographic Society dan Google Maps.

 

Saksikan Live Streaming Diskusi Sepak Bola Bersama Luis Milla dan Indra Sjafri

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Arkeolog Temukan Mal Zaman Romawi Berusia 2.000 Tahun
Artikel Selanjutnya
Mencari Jejak Manusia Prasejarah di Maluku