Sukses

6 Negara Ini Tak Lepas dari Konflik Meski Telah Lama Merdeka

Liputan6.com, Jakarta - Sejarah bangsa-bangsa diwarnai dengan peperangan, misalnya Perang Sipil di Amerika Serikat atau Revolusi Prancis. Dua negara itu sekarang sudah jauh meninggalkan suasana perang.

Sementara itu, Perang Dingin juga sudah berlalu. Tapi Irak dan Afghanistan masih belum terbebas dari pertikaian walaupun perlahan sedang mereda.

Tapi, ada sejarah negara-negara yang terus berisi pertikaian tak berujung di bawah pemimpin yang tidak becus atau mementingkan diri sendiri.

Misalnya, pimpinan Turkmenistan yang menghamburkan jutaan dolar untuk membangun istana pualam di tengah kemiskinan bangsanya.

Benua Afrika terhitung sebagai salah satu yang penuh kekisruhan tiada akhir sejak kemerdekaan. Disarikan dari listverse.com pada Jumat (28/7/2017), berikut ini adalah 6 negara yang terus dalam suasana suram sejak merdeka:

1 dari 7 halaman

1. Gambia

Suasana pasar di Gambia. (Sumber Wikimedia Commons)

Presiden pertama Gambia terpilih dalam 5 periode dan presiden ke-2 berkuasa hingga 2 dekade. Dalam rentang waktu 53 tahun, negeri itu memiliki 2 presiden.

Pimpinan pertama, Dawda Jawara, awalnya berkuasa sebagai Perdana Menteri pada 1962, sesaat sebelum kemerdekaan Gambia dari Inggris. Ia sebenarnya seorang pemimpin yang cukup lumayan pada masa itu.

Saat itu, korupsi di Gambia tidak terlalu parah dibandingkan negara-negara tetangganya dan kebanyakan pejabatnya hidup cukup sederhana. Awalnya, Gambia bukannya negara berpartai tunggal ataupun otoriter. Media juga cukup bebas.

Sepertinya baik-baik saja, tapi itulah sebabnya Jawara menjadi korban beberapa upaya kudeta sehingga bahkan pasukan-pasukan asing pun harus terlibat menyelamatkan dia. Akhirnya, pada 1994, ia didepak kudeta militer.

Letnan Yahya Jammeh menjadi pengganti Jawara, tapi ia tidak seramah pendahulunya. Jammeh langsung merombak konstitusi dan melarang semua partai oposisi.

Ia juga terlibat dalam sejumlah skandal yang bisa diduga akan terjadi – kebanyakan skandalnya melibatkan pelanggaran HAM.

Aksi mahasiswa, wartawan yang kurang disukai, dan imigrasi ilegal dihadapi dengan menghabisi pihak yang bertanggungjawab.

Salah satu solusi masalah adalah "jamu penyembuh AIDS", penyembuhan para dukun dengan cara menculik mereka dan memaksa mereka minum ramuan racun, demikian juga dengan penyebutan kaum gay sebagai hama dan kemudian dijatuhi hukuman mati.

Sejauh ini, pengganti Jammah yang terpilih secara cukup adil dan mungkin lebih baik bagi masa depan.

2 dari 7 halaman

2. Comoros

Pulau Anjouan di Comoros. (Sumber Wikimedia Commons)

Negara pulau yang jarang terdengar ini memiliki suatu rekor tersendiri. Negara itu adalah negara di Afrika yang paling sering mengalami revolusi di seluruh Afrika bahkan sedunia – sebanyak 21 kali dalam sejarah negara yang baru berusia 42 tahun.

Persoalan bermula sejak awal kemerdekaan ketika satu pulau yang diaku Comoros tidak mau bergabung dan memilih untuk diperintah oleh Prancis.

Sejak saat itu, Comoros mengalami sejumlah kejadian yang cukup unik, termasuk revolusi Maois, presiden yang dibunuh ketika tidur dengan menggunakan rudal anti-tank, dan penguasa-penguasa diktator yang didukung para laskar asing.

Warga Comoros pun sepertinya bingung memilih pemimpin dan mereka mendukung berbagai jenis orang, mulai dari Islamis hingga kelompok milisi remaja berhaluan Marxis.

Ada lagi tokoh aneh dalam sejarah negeri itu, yaitu seorang laskar bernama Bob Denard yang pernah 4 kali mendepak pemerintah negeri itu. Ia diduga melakukannya untuk kepentingan Prancis.

Denard menjadi kepala negara de facto selama beberapa tahun karena pemimpin negara itu selalu yang mendapat dukungan Denard dan kelompoknya hingga pada 1995 ia ditangkap oleh pihak berwenang Prancis saat terlibat dalam kudeta lagi.

Masalah tidak selesai di situ dan menjadi semakin buruk ketika 2 di antara 3 pulau yang menjadi wilayah Comoros mencoba memisahkan diri dan bergabung dengan Prancis pada 1997. Permohonan bergabung ditolak.

Pada 2006, kepulauan Comoros akhirnya berhasil melakukan alih kekuasaan secara damai setelah merdeka selama 31 tahun. Tapi, setahun kemudian perlu ada invasi untuk mendepak presiden yang terlalu lama bercokol di salah satu pulau negara itu.

3 dari 7 halaman

3. Mali

Mali. (Sumber Wikimedia Commons)

Mali adalah suatu negara Afrika yang cantik dan menawan, serta kaya sumber daya alam. Tapi negeri itu tersekat-sekat menurut agama dan etnis sehingga Mali diduga menjadi salah satu calon negara gagal. Sudah merdeka sekitar setengah abad, tapi negeri itu belum bergerak maju.

Pemimpin pertama setelah kemerdekaan, Modibo Keita, adalah seorang sosialis yang ingin melakukan nasionalisasi sumber daya alam negerinya, yang kebanyakan masih dikuasai Prancis sebagai penguasa kolonial.

Mimpinya terlalu besar sehingga ia didepak dan dipenjara pada 1968 setelah melalui kudeta militer. Penggantinya, Jenderal Moussa Traore, sempat menikmati dukungan awal dari warga, namun segera ketahuan bahwa ia lebih buruk daripada pendahulunya.

Mali menjadi negara polisi otoriter, ditambah lagi dengan kombinasi kelaparan, korupsi, dan salah urus dana bantuan sehingga puluhan ribu warga kehilangan nyawa.

Setelah reformasi, sistem demokrasi diberlakukan di Mali. Traore memenangkan 99 persen suara pemilu. Tapi ia kemudian digulingkan dalam suatu kudeta militer lagi dan persoalan Mali belum selesai juga.

Hanya dalam 3 tahun sesudahnya, ada lagi suatu kudeta, pemberontakan suku, dan pencaplokan sebagian besar negara oleh Al Qaeda. Pihak asing berusaha terlibat untuk membantu.

Mali termasuk beberapa negara termiskin sedunia dan bahkan masih mengalami perbudakan. Ada sekitar 200 ribu orang menjadi budak di sana.

4 dari 7 halaman

4. Republik Afrika Tengah

Para pengungsi Republik Afrika Tengah. (Sumber Wikimedia Commons)

Nama negara Republik Afrika Tengah (Central African Republic, CAR) sebenarnya agak kurang tepat. Ya, CAR memang pernah menjadi republik dan sekarang lebih sebagai negara gagal.

Sebagaimana halnya Somalia, pemerintah hanya mengendalikan sebagian kecil wilayah selain ibukota. Sebagian besar wilayah malah dikuasai oleh kelompok-kelompok pemberontak. Serupa juga dengan Somalia, CAR ada dalam keadaan perang sipil semu berkelanjutan selama lebih dari satu dekade.

Tapi, masalah-masalah negara itu sudah mulai jauh mendahului perang sipil. Pemimpin pertama yang demokratis di CAR hanya bertahan selama beberapa tahun sebelum gugur dalam suatu kecelakaan penerbangan mencurigakan.

Sejak saat itu, negeri tersebut terjerumus dalam kekacauan, dimulai dengan penetapannya sebagai negara partai tunggal dan penggulingan Presiden David Dacko dan pembentukan "Kekaisaran" Afrika Tengah.

"Kaisar" Bokassa menghabiskan sepertiga anggaran pemerintah untuk membiayai upacara penobatannya. Negara pun bangkrut.

Kekuasaan Bokassa aneh dan penuh kekerasan, sehingga ia bahkan melakukan kriminalisasi pengangguran. Ditambah lagi dengan pembunuhan ratusan anak sekolah yang melakukan unjuk rasa dan dugaan kanibalisme.

Semua itu meruntuhkan hubungan yang pernah dekat antara CAR dan Prancis. Pendahulu Bokasssa pun dikembalikan ke tampuk kekuasaan melalui kudeta oleh Prancis.

Tapi Dacko didepak lagi dan pemerintahan baru menciptakan negara otoriter dengan dukungan junta militer. Demokrasi pun baru pulih pada 1990-an walaupun tidak mengakhiri pergumulan bangsa itu.

Presiden pertama yang terpilih secara demokratis, Ange-Felix Patasse, mempertajam konflik antara kelompok-kelompok etnis dan diduga melakukan "perburuan" warga Yakoma.

Ada 3 pemberontakan militer dalam masa pertama pemerintahannya sehingga memaksa pasukan asing memegang kendali dan menenangkan penduduk yang sudah marah. Tidak heran jika suatu perang sipil pecah lagi pada 2003 dan berlanjut hingga sekarang.

5 dari 7 halaman

5. Equatorial Guinea

Malabo di Equatorial Guinea. (Sumber Wikimedia Commons)

Equatorial Guinea adalah suatu negara yang unik karena berbagai alasan. Misalnya, bangsa itu adalah satu-satunya yang berbahasa Spanyol karena pernah menjadi koloni Spanyol. Ibukota pun bukan di benua Afrika, tapi di sebuah pulau kecil yang berjarak ratusan kilometer dari pantai.

Negara itu juga memiliki pemimpin yang terlama memimpin di Afrika, Teodoro Obiang, yang berkuasa selama lebih dari 40 tahun.

Sejarah kekacauan dimulai bahkan sejak negara itu meraih kemerdekaan. Setelah lepas dari Spanyol, pemimpin baru yang bernama Macias Nguema menjadikannya negara partai tunggal dan mengangkat dirinya menjadi "Presiden Seumur Hidup."

Nguema segera menjalin hubungan dengan negara-negara komunis dunia walaupun menolak Marxisme yang disebutnya sebagai "neokolonialisme" di Afrika.

Walaupun mengaku "bermoral tinggi" ia membunuh atau mengusir sepertiga warganya melalui suatu genosida yang terburuk dalam sejarah modern. Semua lawan politiknya dibunuh dan ekonomi negara ambruk karena pelarian ataupun pembunuhan para warga yang memiliki ketrampilan.

Sejak 1979, diktator yang sekarang masih lebih lunak dibandingkan dengan yang sebelumnya. Para tahanan politik diberi pengampunan dan sistem kerja paksa pun dihentikan. Nguema dijatuhi hukuman mati karena kejahatan melawan kemanusiaan.

Tapi, Obiang sebenarnya masih keponakan Nguema. Ia pun terlibat mengawasi berbagai kejahatan yang dilakukan oleh pamannya. Selain itu, ia pun memutuskan untuk menerapkan cengkeraman pada ekonomi negara.

Kebijakan penculikan oleh negara dan pembunuhan kaum oposisi berlanjut tanpa ragu. Uang hasil penjualan minyak negara itu langsung masuk ke rekening-rekening bank milik presiden sehingga Obiang menjadi salah satu pemimpin terkaya dengan jumlah kekayaan sekitar US$ 600 juta.

Negara itu memang memiliki GDP tertinggi di Afrika, tapi kebanyakan rakyatnya hidup dalam kemiskinan parah. Para atlet Olimpiade dipilih secara acak, termasuk seorang perenang yang "belum pernah melihat kolam renang sepanjang 50 meter selama hidupnya" dan memegang rekor renang paling lambat dalam sejarah Olimpiade.

Kecil harapan munculnya perubahan segera di masa depan. Obiang mengandalkan dukungan AS melalui kontrak-kontrak minyak murah dan kendali lebih besar atas negara kecil itu dibandingkan dengan hampir semua diktator lain di Afrika.

6 dari 7 halaman

6. Guinea-Bissau

Suasana jalan raya di Guinea Bissau. (Sumber Wikimedia Commons)

Ada satu hal yang bisa dikatakan tentang bekas koloni Portugis, yaitu bahwa negara-negara bekas koloninya – Angola, Mozambique, dan Timor Leste – cenderung terjebak dalam perang saudara. Demikian juga dengan Guinea-Bissau ini.

Bedanya, tahun-tahun paling stabil negara itu justru terjadi langsung setelah kemerdekaan. Selain itu, kemerdekaan dari Portugis diperoleh secara damai.

Dengan bantuan senjata jumlah besar dari negara-negara komunis, gerakan nasionalis Marxis pun meraih kendali negara melalui perang gerilya dan berpisah dari Lisbon pada 1973, setahun sebelum diakui oleh pemerintah Portugis.

Negeri itu diperintah sebagai negara partai tunggal selama satu dekade sebelum akhirnya melakukan transisi kepada demokrasi dengan peserta pemilu multi partai. Sayangnya, itu semua terjadi sesaat sebelum negara ambruk.

Beberapa tahun setelah pemilu pertama kalinya, suatu upaya kudeta memicu perang sipil yang mengacaukan negara itu selama setahun dan mengusir ratusan ribu orang dari tempat tinggal mereka.

Perang berakhir setelah digulingkannya Presiden Vieira. Pemimpin baru terpilih setahun kemudian, tapi digulingkan melalui kudeta militer dalam 3 tahun sesudahnya.

Setelah pemilu berikutnya pada 2005, Vieira terpilih kembali sebagai pemimpin. Setelah beberapa upaya membunuhnya, ia dibunuh pada 2009 sebelum tuntas masa jabatannya.

Orang mengira wafatnya pemimpin pada masa sebelum perang akan menandai berakhirnya kisruh politik, tapi ternyata terjadi lagi kudeta pada 2012. Jadi, dalam 43 tahun kemerdekaan, tidak ada satu pemimpin yang tuntas berkuasa selama periode 5 tahunan mereka.

Artikel Selanjutnya
Bangladesh Siapkan Pulau Terpencil untuk Rohingya
Artikel Selanjutnya
Rohingya Lebih dari Sekadar Isu Agama, Kok Aksi di Borobudur?