Sukses

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

LanjutkanStop Disini

Ini Rahasia Mencapai Seks Bergairah Menurut Sains

Liputan6.com, Jakarta - Banyak artikel tentang caranya meraih seks yang menggelora, ereksi yang lebih keras, orgasme yang lebih dari yang bisa dibayangkan dan ejakulasi berhari-hari.

Ulasan-ulasan demikian bahkan dilengkapi dengan berbagai penelitian yang mendukungnya. Nah, di situlah masalahnya.

Tidak ada yang salah dengan keinginan seks. Tapi, fokus yang bersifat obsesif pada seks pragmatis dan mekanis yang hingga mengasingkan orang itulah yang biasanya membuat kita kurang puas dengan seks.

Kita tidak melakukan integrasi keinginan seksual dengan totalitas keberadaan kita sehingga, sebagai akibatnya, keseluruhan diri kita menderita.

Dikutip dari Scientific American pada Kamis (27/7/2017), penelitian oleh Frédérick Philippe, Robert Vallerand, dan rekan-rekannya mempelajari suatu konsep yang mereka istilahkan sebagai gairah seks yang bersifat harmonis (selaras).

Yang dimaksud ialah gairah seks yang berintegrasi dengan baik dan selaras dengan aspek-aspek lain dalam diri sehingga menciptakan sesedikit mungkin konflik dengan ranah lain dalam kehidupan.

Integrasi selaras dorongan seksual seseorang membebaskannya untuk benar-benar terlibat dan menikmati kegiatan seks secara terbuka, spontan, dan tidak defensif.

1 dari 3 halaman

Gairah Seksual Selaras dan Obsesif

Secara empiris, manusia mengalami sejumlah manfaat orgasme. Penelitian ilmiah memberi bukti terhadap pengalaman empiris itu. (Sumber Flickr)

Sejumlah hal yang menjadi ukuran untuk gairah seksual yang selaras adalah, "Seks selaras dengan hal-hal lain yang menjadi bagian saya," "Seks terintegrasi dengan baik dalam hidup saya," dan "Seks selaras dengan kegiatan-kegiatan lain dalam hidup saya."

Sebaliknya, mereka yang memiliki gairah seksual bersifat obsesif tidak memiliki seksualitas yang terintegrasi dengan keseluruhan diri mereka. Dorongan seksualnya malah tetap terpisah dari area lain dalam diri dan ranah lain dalam hidup mereka.

Hal tersebut mengarah kepada tujuan-tujuan yang lebih sempit, misalnya kepuasan seks secara segera (contoh, orgasme), dan menggiring kita kepada desakan yang memperlakukan seks sebagai tujuan yang memaksa kita sekedar melakukan – bukannya mengendalikan – seksualitas kita.

Sejumlah hal untuk mengukur gairah seksual yang obsesif misalnya, "Seks adalah satu-satunya hal yang menyemangati saya," dan "Menurut kesan saya, seks mengendalikan saya."

Melalui sejumlah studi, para peneliti mendapati bahwa dua bentuk gairah seks tersebut – obsesif dan selaras – memiliki perbedaan gamblang dalam hal pemrosesan informasi seksual dan caranya orang mengalami kegiatan seksual.

Selagi berlangsungnya kegiatan seksual, gairah obsesif berkaitan dengan emosi-emosi negatif. Di luar senggama, gairah seksual obsesif berkaitan dengan pemikiran yang mengganggu tentang seks, konflik dengan tujuan-tujuan lain, perhatian kepada pasangan alternatif, dan kesulitan berkonsentrasi kepada tujuan saat itu karena secara tidak sadar membayangkan citra orang lain yang atraktif secara seksual.

Gairah seksual obsesif juga berkaitan dengan pemrosesan informasi secara bias. Orang-orang yang meraih angka tinggi dalam gairah seksual obsesif lebih berkemungkinan memandang tujuan seksual dalam interaksi sosial yang ambigu dan juga memandang seksualitas dalam kata-kata yang tidak secara jelas memiliki konotasi seksual semisal "juru rawat", "hak tinggi", dan "seragam."

Gairah seksual obsesif juga berkaitan dengan tindakan-tindakan kekerasan di bawah ancaman penolakan romantis dan juga khayalan berlebih tentang hubungan romantis seiring perjalanan waktu.

Sebaliknya, gairah seksual yang harmonis menunjukkan integrasi yang lebih baik dengan aspek-aspek menyenangkan dalam diri dan ranah-ranah lain dalam kehidupan.

Misalnya, para peserta penelitian diminta untuk menuliskan sebanyak mungkin kata-kata dalam 1 menit dan berkaitan dengan kata "seks."

Mereka yang meraih angka tinggi dalam gairah seksual selaras menuliskan cukup banyak kata yang berkaitan dengan seks. Tapi, mereka memiliki profil yang lebih seimbang antara representasi yang murni seksual (misalnya "penis", "payudara", "vibrator") dengan representasi seksual-relasional (misalnya, "keintiman". "belaian", "senggama").

Faktanya, angka 2 menjadi rasionya. Saat kata-kata seksual setidaknya 2 kali lebih banyak dari kata-kata seksual-relasional, maka ada peningkatan besar dalam gairah seksual obsesif yang berbarengan dengan penurunan gairah seksual selaras.

Orang yang mendapatkan angka tinggi untuk gairah seksual selaras juga menunjukkan kendali yang lebih besar atas dorongan seksual mereka. Ketika secara tidak sadar dihadapkan kepada rangsangan seksual (misalnya seorang yang rupawan), mereka masih bisa tetap pada tugasnya untuk membedakan obyek alamiah dan artifisial.

Gairah seksual selaras juga berkaitan dengan lebih sedikitnya pemikiran seksual yang mengganggu dan tidak berkaitan dengan perhatian kepada pasangan-pasangan alternatif. Integrasi yang lebih baik dan ketiadaan konflik itu mengarah kepada mutu hubungan yang lebih baik seiring berjalannya waktu.

2 dari 3 halaman

Menghindari Stigma dalam Masyarakat

Ilustrasi Hubungan Seks (iStockphoto)

Penting untuk diperhatikan bahwa gairah seksual obsesif tidak sama dengan letupan-letupan seksual ataupun ketagihan seks (walaupun masih ada perdebatan apakah ketagihan seks memang benar-benar ada).

Walaupun gairah seksual obsesif memiliki korelasi dengan emosi-emosi negatif saat sedang melakukan kegiatan seksual, hal itu tidak mengarah kepada peningkatan rasa merana. Dan, baik gairah seksual selaras dan harmonis sama-sama berkaitan dengan hal menyenangi dan menikmati kegiatan-kegiatan berkaitan dengan seks.

Faktanya, baik gairah seksual selaras dan obsesif secara setara memiliki korelasi dengan dorongan seksual. Ini adalah temuan yang penting, karena kita memiliki kecenderungan untuk memberikan stigma kepada mereka yang memiliki sosioseksualitas lebih besar dalam masyarakat.

Mereka yang memiliki orientasi sosioseksual yang lebih longgar lebih berkenan terlibat dalam seks kasual dan melaporkan lebih banyak dorongan seksual dan frekuensi mereka berfantasi tentang seks.

Hasil-hasil temuanyang demikian menengarai bahwa sosioseksualitas itu sendiri bukan masalah, tapi bagaimana sosioseksualitas seseorang berintegrasi dengan identitasnya dan area lain dalam kehidupannya.

Mungkin, daripada penekanan pada obsesi pada unjuk kerja seksual, kita sebaiknya bergeser menuju pertolongan bagi orang-orang agar lebih menerima dan merasa nyaman dengan seksualitas mereka, mawas akan dorongan seksual, dan membantu mereka memupuk gairah yang membawa keceriaan, vitalitas, dan keterbukaan kepada area-area lain dalam hidup mereka.

Artikel Selanjutnya
3 Alasan Mengejutkan Seks Setiap Hari Sehat untuk Pasutri
Artikel Selanjutnya
Usia Saat Manusia Paling Sering Berhubungan Seks