Sukses

5 Kecelakaan Udara Tragis yang Nyaris Terlupakan

Liputan6.com, Jakarta - Melalui berbagai pemberitaan, kita menyaksikan beberapa kecelakaan penerbangan yang mencekam.

Dengan korban yang biasanya dalam jumlah besar dan kisah yang dramatis, kecelakaan penerbangan mudah membekas dalam pikiran.

Coba bayangkan apa yang dialami para awak dan penumpang kapal udara Hindenburg ketika mengalami kecelakaan yang langsung melalapnya dalam api. Atau bencana akibat terorisme terhadap penerbangan Pan Am 103 di atas Lockerbie, Skotlandia.

Tapi tidak semua kecelakaan penerbangan mendapat sorotan semisal United 93 atau MH17 yang ditembak rudal di atas kawasan timur Ukraina.

Diringkas dari toptenz.net pada Selasa (25/7/2017), berikut ini adalah sejumlah kecelakaan penerbangan sekitar masa Perang Dunia I dan Perang Dunia II yang seakan luput dari pemberitaan saat itu:

1 dari 6 halaman

1. Bencana Kapal Udara R101 (1930)

Kapal udara Inggris R101 dalam penerbangan. (Sumber Wikimedia Commons)

Ketika Hindenburg dilalap api, saham perusahaan kapal udara di seluruh dunia pun kehilangan nilainya. Tapi bencana Hindenburg bukan satu-satunya kecelakaan maut dalam sejarah kapal udara.

Hanya 7 tahun sebelumnya, kapal udara eksperimental R101 di Inggris jatuh di sebuah ladang di Prancis Utara. Seluruh kapal itu hangus terbakar sehingga menewaskan 48 orang di antara keseluruhan 54 orang di dalamnya.

Konyolnya, bencana R101 itu sebenarnya dapat dicegah. Kapal udara itu akhirnya lebih berat dari rancangan semula, sehingga mekanisme untuk menghindari kebocoran gas dicopot agar kapal udara menjadi lebih ringan.

Bukan hanya itu. Kapal udara eksperimental itu baru pertama kali mengudara, tapi Menteri Perhubungan Udara Lord Thompson memutuskan agar penerbangan dilakukan menuju India.

Ia bahkan bersikeras agar kapal udara lepas landas di kala badai dan berisi beberapa peti perangkat perak yang diharuskan dibawa.

Jadi, R101 lepas landas tanpa belum pernah diuji, kepenuhan, dan masuk menembus badai. Baru saja menyeberangi Selat Channel, R101 kemudian jatuh ke darat dan meledak. Lord Thompson termasuk di antara korban meninggal dunia.

Bencana itu menyudahi keseluruhan program kapal udara Inggris.

2 dari 6 halaman

2. Bencana Kapal Udara USS Akron (1933)

Balon udara sepanjang 785 kaki milik Angkatan laut Amerika Serikat (US Navy), USS Akron (National Naval Aviation Museum)

Jika bencana R101 lebih buruk daripada Hindenburg, maka kecelakaan kapal udara USS Akron lebih buruk lagi. Tidak ada bencana kapal udara lain dalam sejarah yang menewaskan lebih banyak orang. Sayangnya, sama seperti bencana R 101, kecelakaan itu sebenarnya dapat dihindari seluruhnya.

USS Akron adalah milik Angkatan Laut (Navy) sehingga sering diterbangkan di atas samudera. Tapi tidak ada orang yang berpikiran memasang jaket penyelamat atau sekoci atau apapun yang berguna sekiranya kapal udara itu jatuh ke air. Benarlah, pada 4 April 1933, kapal udara itu jatuh ke air.

Kapten Frank McCord menerbangkannya terlalu rendah, lalu mendadak membawa kapal udara itu menanjak. Ketika moncong pesawat naik, ekornya tenggelam dalam air dan terhantam ombak.

Keseluruhan kapal udara bersama 76 penumpangnya kemudian terseret ke dalam samudra yang bergelora dan dingin membeku. Dalam kasus itu, tidak ada ledakan dramatis atau bola api, hanya kapal udara yang perlahan tenggelam bersama dengan 73 orang. Selagi upaya penyelamatan, ada 2 orang lagi yang meninggal dunia.

Namun demikian, kecelakaan itu tidak menghentikan program kapal udara Amerika Serikat. Program itu baru dihentikan 2 tahun kemudian ketika satu lagi kapal udara sejenis Akron tenggelam juga di laut.

3 dari 6 halaman

3. Bencana di Freckleton (1944)

Tugu peringatan bencana Freckleton. (Sumber Wikimedia Commons)

Ada beberapa bencana yang tidak benar-benar terlupakan, tapi belum diperhatikan sejak awal kejadian. Bencana Freckleton adalah kecelakaan yang terjadi pada Agustus 1944, ketika sedang berlangsung Pembebasan Paris.

Dibandingkan dengan hampir 5.000 orang yang meninggal di ibukota Prancis, maka 61 korban meninggal di desa kecil Inggris bernama Freckleton tidak banyak menyedot perhatian.

Tapi kejadiannya cukup mengerikan sehingga, seandainya terjadi pada masa waktu lain, mungkin akan diliput penuh.

Sebuah pesawat bomber Amerika Serikat tersesat dalam cuaca badai di atas Lautan Irlandia dan tiba di atas Lancashire. Saat badai semakin ganas, pilot John Bloemendal kehilangan kendali sehingga sayap pesawat menyambar pucuk sebatang pohon.

Pesawat itu terbelah dua di atas Freckleton. Satu bagian menghantam ke 3 rumah dan sebuah bar yang melayani para tentara Amerika dan Inggris. Bagian lainnya terhempas ke sekolah desa, lalu terbakar.

Hantaman ke bar merenggut 14 nyawa, kebanyakan tentara Amerika. Di sekolah, lautan api menewaskan 38 siswa dan 6 guru. Semua 3 awak pesawat meninggal saat tabrakan.

4 dari 6 halaman

4. Kecelakaan Pameran Dirgantara Santa Ana (1938)

Pesawat jenis Hawk II F11C. (Sumber Wikimedia Commons)

Tidak banyak kecelakaan penerbangan yang nyaris menyapu bersih masa depan seluruh negeri jika dibandingkan dengan pameran dirgantara Santa Ana yang dilangsungkan dekat Bogota.

Pameran itu dimaksudkan menjadi ajang pamer para pilot ketangkasan Kolombia.

Dengan disaksikan para diplomat dan pejabat pemerintah yang hadir dalam 2 panggung, pilot César Abadia mencoba menukik pada ketika tidak terbang tinggi di antara 2 panggung itu, tapi perhitungan waktunya tidak tepat.

Sayap pesawatnya menyambar panggung yang berisi penuh pejabat pemerintah sehingga atapnya runtuh. Pesawat itu sendiri kemudian berpilin, menghantam daratan, lalu meluncur dalam kecepatan tinggi ke tengah kerumunan penonton warga sipil, dan meledak dalam bola api.

Ketika kobaran telah mereda ada 45 orang meninggal dunia dan 200 orang cedera saat itu juga. Sementara itu, tujuh orang lagi meninggal kemudian karena cedera mereka.

Kejadian itu bisa lebih buruk lagi. Di panggung para pejabat pemerintah ada Presiden Alfonso López Pumarejo yang sedang akan habis masa pemerintahannya dan Presiden Eduardo Santos yang menggantikannya.

Demikian juga dengan Misael Pastrana Borrero yang menjadi presiden di masa depan. Ia ada di antara kerumunan pejabat pemerintah yang menonton.

Seandainya pesawat terbang itu sedikit lebih keras menghajar panggung para pejabat, sejarah modern Kolombia akan lain lagi ceritanya.

5 dari 6 halaman

5. Bencana Superga Air (1949)

Tim sepak bola Il Grande Torino. (Sumber Wikimedia Commons)

Kecelakaan penerbangan di Kolombia pada akhir 2016 menewaskan sebagian besar anggota tim Chapecoense dari Brasil. Tapi itu bukan pertama kalinya ada tim sepakbola tewas dalam penerbangan.

Bisa dikatakan bahwa bencana Superga Air pada 4 Mei 1949 lebih buruk lagi. Penerbangan itu sedang membawa tim legendaris Italia bernama Il Grande Torino dari pertandingan mereka di Lisbon, Portugal.

Pesawat itu mendekat Turin pada ketinggian yang kurang mencukupi dan cuaca sedang tidak bersahabat sehingga si pilot – yang meraih beberapa penghargaan dalam Perang Dunia II – tersesat dalam awan yang mengambang rendah.

Ketika muncul lagi dari dalam awan tebal, mereka hanya setengah detik saja jauhnya dari bencana. Pesawat itu menghantam sebuah basilika, lalu langsung meledak sehingga langsung menewaskan 31 orang, termasuk semua anggota tim Il Grande Torino.

Padahal tim itulah yang nyaris menciptakan sepak bola modern dengan menghadirkan formasi 4-2-4 kepada dunia dan beberapa pemain terbaik pada masanya.

Mereka sedang akan menjuarai liga Italia untuk tahun ke 5 secara berturutan dan semangat tim dipandang sebagai obat yang baik mengatasi kepahitan kekalahan Italia dalam Perang Dunia II.

Italia larut dalam duka. Sekitar setengah juta orang menyaksikan prosesi pemakaman para anggota tim.

Artikel Selanjutnya
Tragis, Pria Ini Tewas Usai Lamar Kekasih di Jembatan Irabu
Artikel Selanjutnya
3-9-1998: Tragedi Pesawat Swissair Jatuh dan Meledak di Pesisir