Sukses

Ilmuwan Selidiki Misteri 'Benua Kedelapan' Bumi yang Hilang

Liputan6.com, Houston - Sejumlah ilmuwan dalam waktu dekat akan melakukan ekspedisi menantang ke benua ke-8, Zealandia.

Keberadaan Zealandia diungkap pada Februari 2017 lalu. Sejumlah ilmuwan mengungkapkan di jurnal GSA Today bahwa Bumi memiliki benua kedelapan yang tersembunyi, yang seharusnya dimasukkan ke peta.

Dikutip dari Live Science, Jumat (21/7/2017), benua yang hilang itu, berukuran setengah dari Australia. Dengan luas 4,6 juta kilometer persegi, benua tersebut meliputi Selandia Baru, Kaledonia Baru, beberapa teritori, dan kepulauan.

Dengan mengebor lapisan teratas, ekspedisi ilmuwan terbaru itu dapat memberi petunjuk tentang proses bertumpuknya lempeng bumi -- subduksi -- yang mendorong tumbuhnya rangkaian gunung berapi dan hilangnya benua tersebut di Samudra Pasifik sekitar 50 juta tahun lalu.

"Kami mencari tempat terbaik di dunia untuk memahami bagaimana subduksi lempeng dimulai," ujar co-chief scientist ekspedisi tersebut, Gerald Dickens, yang juga merupakan profesor ilmu Bumi, lingkungan, dan planet di Rice University Texas dalam sebuah pernyataan.

"Ekspedisi ini akan menjawab banyak pertanyaan soal Zealandia," imbuh dia.

Argumen bahwa Zealandia adalah sebuah benua didasarkan pada beberapa bukti. Bebatuan di bawah dasar laut di lepas pantai Selandia Baru terdiri dari berbagai jenis batuan purba yang hanya di temukan di sebuah benua, bukan di kerak samudra.

Landasan benua Zealandia juga lebih dangkal dibanding kerak samudra di sekitarnya. Selain itu, sampe bebatuan menunjukkan adanya garis tipis kerak samudra yang memisahkan Australia dan Zealandia.

Menurut laporan peneliti, faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa bawah laut di sekitar Selandia Baru merupakan sebuah benua.

 

Simak video menarik berikut ini:

1 dari 2 halaman

Perjalanan Menuju Benua ke-8

Namun, masih ada beberapa pertanyaan tentang bagaimana Zealandia terbentuk. Expedition 371 yang didanai oleh ational Science Foundation dan International Ocean Dicovery Program, bertujuan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Lebih dari 30 ilmuwan direncanakan akan berlayar pada 27 Juli dalam ekspedisi selama dua bulan. Kegiatan tersebut menggunakan kapal bor ilmiah besar JOIDES Resolution.

Dari sana, tim tersebut akan mengunjungi enam situs di Laut Tasman yang terletak di antara Australia dan Selandia Baru. Di sana, mereka mengebor inti sedimen dan batuan dari kerak Bumi.

Masing-masing inti berada di antara kedalaman 300 dan 800 meter. Hal itu berarti ilmuwan dapat kembali ke masa lalu selama puluhan juta tahun.

"Jika Anda kembali, sekitar 100 juta tahun lalu, Antartika, Australia, dan Zealandia merupakan satu kesatuan benua," ujar Dickens.

"Sekitar 85 juta tahun lalu, Zealandia berpisah dengan sendirinya, dan pada satu waktu, dasarlaut antara Zealandia dan Australia menyebar ke kedua sisi samudra yang memisahkan keduanya," imbuh dia.

Setelah pergeseran tersebut, area antara kedua benua itu memadat. Tapi sekitar 50 juta tahun lalu, Lempeng Pasifik menyelam di bawah Selandia Baru, mengangkat kedua pulau tersebut, membentuk serangkaian gunung berapi di Pasifik dan menghiilangkan tekanan di kerak laut antara kedua benua.

"Yang ingin kami pahami adalah, mengapa dan kapan berbagai tahapan perluasan dan relaksasi terjadi," kata Dickens.

Artikel Selanjutnya
Astronom: 3 dari 7 Planet Mirip Bumi Punya Kandungan Air
Artikel Selanjutnya
Nibiru Tabrak Bumi dan Picu Kiamat 20 September, Fakta atau Hoax?