Sukses

Anggota Kelompok Teror Abu Sayyaf Kabur dari Penjara di Filipina

Liputan6.com, Manila - Otoritas di Filipina mengatakan bahwa tiga orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka dalam peristiwa kaburnya sejumlah tahanan di Jolo, Provinsi Sulu, Filipina, pada Minggu 16 Juli 2017. Kawasan itu juga terkenal sebagai basis militan pro-ISIS di Filipina, kelompok Abu Sayyaf.

Menurut laporan, para korban yang tewas dan terluka itu merupakan bagian dari 14 tahanan yang melarikan diri dari fasilitas penahanan kepolisian di Jolo. Demikian seperti diwartakan oleh Asian Correspondent, Senin (17/7/2017).

"Para tahanan yang melarikan diri memotong jeruji besi dan melompat dari sel tahanan yang berada di lantai dua ke atap bangunan terdekat. Petugas kemudian merespons peristiwa tersebut, dan dalam proses pengejaran, sejumlah tahanan tewas dan terluka oleh aparat," jelas Kepala Kepolisian Provinsi Sulu Mario Buyuccan.

Tentara dan polisi berhasil menangkap kembali para tahanan yang terluka. Sementara, 10 orang tahanan lain berhasil melarikan diri.

Buyuccan menambahkan, "Sejumlah tahanan tersebut memiliki keterkaitan dengan kelompok Abu Sayyaf." Namun, sang kepala polisi tidak menjelaskan mengenai kapasitas keterlibatan mereka dengan grup militan pro-ISIS tersebut.

Pada saat peristiwa, fasilitas penahanan itu tengah menampung 32 individu yang diduga terlibat kasus narkotika.

Kasus tahanan yang melarikan diri di kawasan selatan Filipina tersebut merupakan peristiwa lumrah. Awal tahun ini, tercatat lebih dari 150 tahanan berhasil kabur dari fasilitas penahanan di Kotabato Utara, Mindanao--yang kerap diasosiasikan sebagai area sentral aktivitas Abu Sayyaf. Ke-150 tahanan itu berhasil melarikan diri setelah sekitar 100 orang bersenjata menyerbu fasilitas penahanan tempat mereka ditampung.

Sementara pada Mei lalu, sekitar 100 tahanan dari dua penjara di Marawi, Provinsi Mindanao, berhasil melarikan diri. Mereka dibantu oleh kelompok militan Maute, salah satu grup bersenjata yang terilhami ISIS.

Aparat setempat menilai, fenomena tersebut dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, maraknya aktivitas kelompok bersenjata berbasis ekstremisme di kawasan. Kedua, sejumlah fasilitas penahanan di area cenderung minim penjagaan, mengalami fenomena overkapasitas, dan pengelolaan yang buruk.

Kepolisian Jolo menambahkan bahwa peristiwa itu tidak memiliki kaitan dengan pertempuran di Marawi, Provinsi Mindanao, yang saat ini masih berlangsung. Otoritas setempat masih terus mendalami kasus tersebut.

Saksikan juga video berikut ini: 

 

 

 

Artikel Selanjutnya
Sekelompok Pria Bersenjata Serang Desa di Filipina, 6 Orang Tewas
Artikel Selanjutnya
Polisi Turki Tewas Ditikam Terduga ISIS