Sukses

Top 3: Reaksi Tiongkok atas Perubahan Nama Laut China Selatan

Liputan6.com, Jakarta - Keputusan Indonesia untuk mengubah penamaan Laut China Selatan memicu reaksi dari pemerintah Tiongkok. Kabar tersebut paling menyedot perhatian pembaca Liputan6.com pada Senin (17/7/2017) pagi.

Masih terkait laut, para pembaca juga penasaran dengan Bikini Atoll di Samudra Pasifik yang menjadi tempat percobaan ledakan bom nuklir pada masa Perang Dunia II.

Korea Utara juga terus menarik perhatian. Kali ini dikisahkan tentang seorang pembelot yang dulunya bertugas menggalang dana bagi rezim negeri terpencil tersebut.

Berikut adalah Top 3 Global selengkapnya:

1. Indonesia Mengubah Nama Laut China Selatan, Ini Reaksi Beijing

Cina melakukan reklamasi di pulau karang Fiery Cross di Laut Cina Selatan. (BBC)

Keputusan pemerintah Indonesia yang akan mengubah penyebutan nama Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara, memicu kritik dari Tiongkok. Diwakili oleh Kementerian Luar Negeri-nya, Beijing menyebut bahwa tindakan Indonesia 'dinilai tidak masuk akal'.

"Langkah pergantian nama itu tidak masuk akal dan tidak selaras dengan upaya standardisasi mengenai penyebutan wilayah internasional," jelas Menteri Luar Negeri China Geng Shuang dalam sebuah konferensi pers. Demikian seperti yang diwartakan oleh CNN, Minggu 16 Juli 2017.

Selanjutnya...

2. Nasib Terkini Bikini Atoll, Lokasi Uji Coba Bom Atom AS...

Ledakan 'Baker, yang menjadi bagian dari Operation Crossroads di Bikini Atoll tahun 1946 (U.S. Department of Defense/Creative Commons)

Dahulu kala, Bikini Atoll dikenal sebagai pulau surga di Samudra Pasifik. Hingga pada 1946, penduduknya diusir, tanah yang indah lagi subur itu diubah jadi tempat pengujian bom atom milik Amerika Serikat.

Total ada 23 senjata nuklir yang dijatuhkan di sana, termasuk pada 1954, yang kekuatannya 1.100 kali lebih besar dari bom atom 'Little Boy' yang diledakkan di Hiroshima -- yang efeknya membuat Jepang bertekuk lutut di penghujung Perang Dunia II.

Tak hanya kehancuran yang diakibatkan uji coba nuklir beruntun itu.

Selanjutnya...

3. Pengakuan 'Mesin Uang' Rezim Korut yang Memilih Jadi Pembelot

Pemimpin Korut, Kim Jong-un (tengah) menyaksikan peluncuran rudal balistik antarbenua Hwasong-14, ICBM , di barat laut Korea Utara. Wartawan independen tidak diberi akses untuk meliput acara ini. (KRT via AP Video)

Dulu, Ri Jong-ho pernah menjadi 'mesin uang' bagi rezim Korea Utara. Jutaan dolar ia kirimkan dari China langsung ke tangan penguasa Dinasti Kim.

Tiga dekade ia bekerja di lembaga rahasia rezim yang dikenal sebagai Office 39. Hingga suatu hari Ri Jong-ho merasa tak tahan. Pria itu kemudian membelot ke Korea Selatan pada 2014, dan kemudian memilih tinggal di Amerika Serikat.

Dalam sebuah wawancara dengan wartawan Washington Post, Anna Fifield, Ri menceritakan sepak terjangnya sebagai penghasil pundi-pundi harta bagi Kim Jong-il.

Selanjutnya...

Artikel Selanjutnya
Terkuak, Ini Daftar Negara yang Jadi Mitra Dagang Korea Utara
Artikel Selanjutnya
Rayakan Kesuksesan Tes Rudal, Korut Rilis Prangko Propaganda Baru