Sukses

Fakta Vs Kisah Mistis Dusun di Dieng yang Lenyap dalam Semalam

Liputan6.com, Dieng - Letusan Kawah Sileri pada Minggu 2 Juli 2017 adalah sebuah pengingat: bahwa Dataran Tinggi Dieng terkenal dengan panoramanya yang indah menyimpan potensi bahaya.

Sejarah mencatat, ancaman bencana nyata di balik kecantikan Telaga Warna, sunrise yang indah, bocah rambut gimbal, kelezatan carica dan kentangnya.

Dieng, dataran tertinggi kedua di dunia --2.000 meter di atas permukaan laut-- setelah Nepal, berlokasi di sisi Barat Gunung Sindoro dan Sumbing. Selain kompleks volkano, dataran itu juga merupakan kawasan candi peninggalan Hindu.

Kawasan itu telah menjadi daya tersendiri setelah ditemukan pada 1814 oleh tentara Inggris. Kala itu, tentara Inggris tak sengaja menemukan reruntuhan candi di tengah danau.

Karena merupakan kawasan volkano, Dieng bak menyimpan 'bom waktu' yang sewaktu-waktu dapat meledak kapan saja. Tanah di kawasan itu labil.

Dikutip dari website Rovicky Dwi Putrohari, ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, rovicky.com pada Senin (3/7/2017), "secara geologi Dieng merupakan sebuah kompleks gunungapi tua yang berada di Jawa Tengah."

"Gunung api Dieng merupakan kompleks gunung api yang memiliki banyak kawah," lanjut keterangan Rovicky.

Kawah-kawah itu kerap mengalami erupsi, yang biasanya diikuti dengan gempa.

Banyak insiden erupsi yang merenggut nyawa manusia. Peristiwa paling mengerikan terjadi pada 20 Februari 1979. Saat itu, salah satu kaldera Dieng, Kawah Sinila meletus melepaskan gas CO2. 149 orang tewas saat itu.

Tugu peringatan bencana hilangnya Dusun Legetang (Wikipedia)

Selain gas beracun, ada juga peristiwa horor yang terjadi di Dieng. Insiden itu disebut-sebut mengingatkan pada sejarah Pompeii di masa lalu.

Kala itu, pada 24 Agustus 79 Masehi, Gunung Vesuvius meletus dahsyat. Awan panas yang disemburkan hingga ketinggian 30 kilometer akhirnya mengguyur dan mengubur sejumlah kota, termasuk Herculaneum dan Pompeii.

Dua kota tersebut terkubur abu tebal dan terlupakan selama hampir 1.500 tahun. Keberadaannya baru terkuak pada 1738, dan baru pada 1863 arkeolog Italia, Guiseppe Fiorelli melakukan ekskavasi.

Lewat ekskavasi, terkuak puing-puing Pompeii. Fiorelli kemudian menyadari bahwa abu lunak di situs Pompeii adalah jejak kematian para penghuninya -- yang tragisnya terawetkan oleh abu. Jumlahnya ada sekitar 1.150 kerangka manusia.

Di Dieng, peristiwa sejenis pernah terjadi. Dusun Legetang, yang hanya berjarak 3 kilometer dari Kawah Sileri, tertimbun longsoran Gunung Pengamun-amun pada tahun 1955. Sebanyak 332 warga dan 19 penduduk dusun tetangga tewas.

"Tahun itu 1955, segala peralatan masih terbatas, jadi sangat sulit untuk mengevakuasi penduduk yang terkubur. Dan pemerintah lokal saat itu membiarkan desa itu terkubur," ujar Alif Fauzi, Ketua Panitia Penyelenggara Dieng Festival kepada Liputan6.com pada Senin (3/7/2017).

Hingga saat ini, penanda dari bencana itu hanyalah berupa prasasti.

Dulunya pascakejadian longsor Gunung Pengamun-amun yang menghilangkan Dusun Legetang, pemerintah selain membangun tugu beton juga memasang prasasti terbuat dari bahan besi.

Prasasti tersebut kemudian ditempelkan di dinding beton bertuliskan huruf kapital dengan ejaan lama, yaitu "TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955."

Seperti halnya Pompeii yang desas-desus bencana dijatuhkan karena tindak-tanduk orangnya, demikian pula dengan Legetang.

Banyak warga lokal mengatakan bahwa tertimbunnya Legetang karena penduduknnya yang tak tahu diri. Diberi kesuburan tanah, tapi berperilaku tak elok.

Benarkah? Berikut 2 fakta tentang Legetang. Liputan6.com mengutip dari berbagai sumber dan wawancara dengan penduduk lokal:

 

Saksikan video menarik tentang Dieng berikut ini:

1 dari 3 halaman

1. Dusun Nahas di Kaki Gunung Pengamun-amun

Menurut warga Wonosobo --kawasan yang mengapit Dieng-- Wahyu Bimo Sukarno, Dusun Legetang berada di pojok. Tepat di kaki gunung Pengamun-amun.

Menurut pria yang biasa dipanggil Bimo, dari sisi kontur, Dieng memiliki sisi-sisi terjal.

"Sudah terjal, kebiasaan masyarakat Dieng memperburuk potensi longsor karena memanfaatkan lereng terjal untuk pertanian," kata Bimo saat dihubungi Liputan6.com, Senin (3/7/2017).

"Berdasarkan sejarah empiris --sampai sekarang pun-- Dieng rawan bencana. Yang paling sering terjadi di daerah Desa Setieng, Dieng Wetan Wonosobo, dan Desa Sijeruk, Dieng Kulon, Banjar Negara," lanjut pria yang lahir dan besar di Wonosobo itu.

"Kisah Gunung Pengamun-amun pada tahun 1950-an itu di sekitar Desa Sijeruk di mana lokasinya diapit tebing-tebing dua gunung yang curam dan sekaligus jadi lahan pertanian," ujar Bimo lagi.

Menurut pria yang juga pecinta alam, dari segi sains, wajar jika ada desa semacam Dusun Legetang tertimbun.

"Dengan lahan gembur yang subur gunung vulkanik, tanahnya masih labil," lanjutnya. Menurut pria 41 tahun, Dusu Legetang kini dinamai Dusun Kepakisan, terkenal dengan kentangnya. 

Citra Google Image Desa Legetan (Google Image)

Longsor di kawasan itu sudah merupakan hal lazim. Peristiwa musnahnya Dusun Legetang telah tercatat oleh USGS pada 9 Juni 1971 dalam laporannya yang berjudul Evaluation of Initial Investigation Dieng Geothermal Area, Central Java.

2 dari 3 halaman

2. Kisah Mistis Gua Jimat dan Kutukan

Seperti halnya gunung berapi di Nusantara, kisah-kisah legenda dan mitos tak lepas dari keberadaan gunung itu.

Hal itu juga menimpa Dusun Legetang. Konon kabarnya, dusun itu celaka akibat murka alam.

Menurut cerita dari mulut ke mulut, Dusun Legetang kaya dan subur tanahnya. Namun, penduduknya mengingkari nikmat dengan tidak menjalankan kehidupan beragama dengan baik. Sebagai bentuk hukuman atas perilaku mereka, alam pun murka.

"Desa itu dekat dengan Gua Jimat, yang menurut kepercayaan sebagai tempat penyimpanan pusaka sakti. Jadi ada mitos dan legenda yang membumbui peristiwa alam itu," kata Alif Fauzi, Ketua Panitia Penyelenggara Dieng Festival kepada Liputan6.com

Sementara Wahyu Bimo Sukarno, warga Wonosobo, mengatakan, "mitos yang berkembang di orang-orang desa itu adalah desa yang makmur. Namun mereka tidak memiliki moral yang baik. Sehingga mendapat hukuman dengan diruntuhkannya gunung."

Seperti halnya warga setempat, Bimo yang juga pecinta alam itu memercayai kearifan lokal.

"Bahwa moral yang tidak baik itu bisa membuat hukuman, saya juga bisa percaya, sejauh itu ada sebab akibat."  

"Tapi jelas bahwa masalah Gunung Pangamun-amun dan Dusun Legetang dipengaruhi faktor geologis, dan perilaku masyarakat dalam memanfaatkan tanah," lanjut Bimo.

Selain Legetang, ada juga kisah dusun lain yang terkubur. Yakni, Dusun Jawera.

"Dusun Jawera pada tahun 1944 pernah terkubur kala Kawah Sileri meletus. Tapi lagi-lagi itu jauh di masa sebelum kita merdeka, pencatatan berapa orang yang terkubur kita tidak tahu," kata Alif.

Meski demikian, menurut catatan Center of Volcanology and Geological Disaster Mitigation, Kawah Sileri pernah meletus pada 4 Desember 1944, kala itu, 117 orang tewas dan melukai 250 lainnya.

Artikel Selanjutnya
Siapa Mau Berburu Embun Es Pagi di Dieng Awal September?
Artikel Selanjutnya
Bikin Penonton Ketakutan, Ini 5 Bumbu Film Horor yang Selalu Ada