Sukses

NASA Kuak Rencana untuk Lindungi Bumi dari 'Kiamat' Asteroid

Liputan6.com, Washington DC - Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA mengumumkan rencana melindungi Bumi dari hantaman asteroid--yang bisa memicu "kiamat" kecil di planet manusia.n

Upaya yang diumumkan pada 30 Juni 2017 itu merupakan bagian dari Double Asteroid Redirection Test (DART)--upaya gabungan NASA dan John Hopkins Applied Physics Laboratory di Maryland.

Dalam pengumumannya, NASA menyebut bahwa hantaman asteroid hampir terjadi setiap hari. Namun, batu angkasa tersebut berukuran kecil sehingga dapat terbakar habis di atmosfer Bumi.

Namun, ada beberapa asteroid berukuran besar yang tak dapat terbakar habis di atmosfer Bumi. Benda langit dengan spesifikasi tersebut bisa menimbulkan kerusakan yang signifikan jika menghantam Bumi.

"DART akan menjadi misi pertama NASA untuk mendemonstrasikan apa yang dikenal dengan kinetic impactor technique--teknik untuk membelokkan asteroid dari orbitnya--untuk melindungi Bumi terhadap hantaman asteroid," ujar petugas pelindung planet NASA di Washington, Lindley Johnson, melalui keterangan media seperti dikutip dari CNN, Senin (3/7/2017).

"Persetujuan langkah ini mendorong proyek menuju uji coba bersejarah dengan menggunakan asteroid kecil yang tidak mengancam," imbuh dia.

Target uji coba DART adalah sistem asteroid bernama Didymos. Benda langit yang memiliki arti nama kembar itu adalah sistem asteroid biner, yakni terdiri dari dari Didymos A (beukuran lebih kecil) dan Didymos B.

Pada Oktober 2022, Didymos akan mengorbit di dekat Bumi. Menurut rencana, NASA akan mengirimkan pesawat tanpa awak seukuran lemari pendingin ke dekat Didymos B. Ketika pesawat milik DART dan asteroid itu bertabrakan, pesawat itu akan melaju dengan kecepatan 21.436 kilometer per jam.

"Teknik yang digunakan dengan mengubah kecepatan asteroid yang mengancam. Namun dengan melakukannya sebelum hantaman yang diprediksi terjadi, dorongan kecil ini makin lama akan bertambah untuk menggeser asteroid dari orbit Bumi."

Para ilmuwan akan mempelajari dampak dan pengaruhnya terhadap orbit Didymos B di sekitar Didymos A. Hal itu bertujuan untuk mengetahui apakah teknik tersebut merupakan metode yang layak untuk melindungi Bumi dari asteroid yang bisa menimbulkan kehancuran.

"DART adalah langkah penting untuk menunjukkan bahwa kita dapat melindungi planet ini dari dampak asteroid pada masa depan," kata Andy Cheng, salah satu pemimpin tim Johns Hopkins.

Pengumuman tersebut bertepatan dengan Hari Asteroid Internasional, yakni peringatan dampak asteroid terbesar yang tercatat dalam sejarah Bumi.

Pada 1908, sebuah meteor menghantam Sungai Podkamennaya Tunguska yang terletak di hutan terpencil Rusia. 

Batu angkasa yang jatuh pada 30 Juni 1908 adalah yang terbesar dalam sejarah, menyebabkan kehancuran di wilayah setara ukuran kota metropolitan, 2.000 kilometer persegi.

Untung, batu angkasa yang menabrak kawasan terpencil itu tak menimbulkan korban jiwa. Namun, bayangkan jika kejadiannya di tengah kota besar yang ramai ....

Dampak insiden Tunguska (Wikipedia)

Artikel Selanjutnya
Ilmuwan Berencana Ciptakan Oksigen dari Atmosfer Mars
Artikel Selanjutnya
NASA Lepas Bakteri ke Angkasa Saat Gerhana Matahari, Buat Apa?