Sukses

3 Makanan yang Pernah Jadi 'Pembunuh Massal' di Masa Lalu

Liputan6.com, London - Ada monster yang bersembunyi di rumah. Banyak, sebenarnya. Mereka mengawasi Anda, menunggu. Monster itu hidup di kulkas, oven, dan lemari dapur Anda. Mereka tak lain adalah panganan yang Anda makan. Cara diet Anda mungkin bisa menghantui Anda jauh melampaui penyakit jantung dan diabetes.

Sejarah manusia penuh dengan episode mengerikan yang tidak lain berasal dari kebutuhan dasar ini.

Kala itu, beberapa makanan dasar pernah menjadi pembunuh massal.

Apa saja? Dan bagaimana mereka membunuh orang yang memakannya? Berikut 3 jenis makanan yang pernah merenggut nyawa banyak manusia. Liputan6.com mengutip dari Listverse pada Minggu (2/7/2017):


1. Roti

Selama tahun 1800an, populasi Inggris tumbuh lebih cepat dari sebelumnya. Sebenarnya, pada tahun 1850, London telah menjadi kota terbesar dalam sejarah.

Pertumbuhan yang tiba-tiba dan sangat besar ini menyebabkan kekurangan serius barang sehari-hari.

Para produsen makanan pun dengan cepat merespons, dengan mengemas produk mereka dengan apapun yang mereka temui di... garasi.

Seperti pester dari Paris dan bahkan kapur digunakan untuk menggantikan bahan yang sebenarnya.

Tapi yang terburuk adalah penggunaan tawas racun. Versi tawas yang lebih aman digunakan untuk hal-hal seperti pengawet, tapi varietas berbahaya-yang digunakan pada deterjen pencuci modern-digunakan dengan sangat banyak dalam roti.

Tidak hanya membuat roti dalam jumlah banyak, tapi juga memberi warna putih yang lebih menarik.

Masalahnya, tawas mencegah makanan yang sebenarnya dan tidak diserap oleh usus. Pada akhirnya, praktik ini menyebabkan epidemi malnutrisi berat, diare, dan bahkan kematian banyak anak.

1 dari 3 halaman

2. Jagung

Awal abad ke- 20 Amerika Selatan dicengkeram oleh penyakit baru yang mengerikan.

Lesi kulit yang sakit, kemerahan dan bengkak banyak diderita di panti asuhan dan bangsal kejiwaan. Ini menjadi penyakit misterius, yang memakan lebih dari 100.000 nyawa antara tahun 1906 dan 1940.

Lebih parah lagi, tidak ada yang bisa mengetahui dari mana penyakit "pellagra" ini berasal.

Hingga Dr. Joseph Goldberger datang meneliti. Dokter Pennsylvania bergabung dengan Dinas Kesehatan pada tahun 1899 dan telah menghabiskan beberapa dekade terakhir untuk menjelajahi negara tersebut untuk memecahkan misteri medis.

Terpikir olehnya bahwa penyakit ini hanya menyerang orang-orang yang sangat miskin, yang bertahan dalam makanan hampir terdiri dari jagung murah yang bagus. Namun, temuannya tidak sejalan dengan dokter-dokter di selatan bahwa penyakit misterius itu disebabkan oleh kuman.

Namun Dr. Goldberger yakin, penyakit itu disebabkan oleh makanan. Untuk membuktikan bahwa itu penyakit itu tidak menular dengan menelan keropeng dari luka pada pasien yang terinfeksi serta urin dan kotoran yang terinfeksi.

Dia tidak tertular penyakit itu. Berkat penelitiannya, ia mengungkapkan pellagra di Amerika Selatan saat itu disebabkan oleh kebanyakan niasin akibat konsumsi jagung yang berlebihan dan kurangnya zat makanan lainnya seperti susu, protein dan lainnya.

 

2 dari 3 halaman

3. Pala

Pada tahun 1600-an terjadi perang mengerikan antara Inggris dan Belanda. Itu adalah konflik paling brutal dan berdarah yang berlangsung selama tahunan. Sebabnya adalah pala.

Pala pernah jadi konflik internasional karena bahan makanan itu merupakan simbol status.

Rempah-ramah kala itu bak emas dan hanya orang kaya yang mampu menyimpannya di kabinet dapur mereka.

Biji pala itu dinikmati orang Eropa karena rasanya yang eksotis dan mampu meningkatkan cita rasa makanan. Tak hanya itu, pala dipercaya sebagai penyembuh Black Death, atau pendemi pes.

Masalahnya pala hanya ditemukan di Indonesia. Karena keserakahan dan keinginan memonopoli, terjadilah pertempuran antara Belanda dan Inggris.

Untungnya konflik berdarah berakhir pada 1667. Di mana Inggris menandatangani perjanjian yang menukar pulau Run -- penghasil pala di Indonesia dengan Manhattan yang saat itu dikuasai Belanda. 

Artikel Selanjutnya
Resep Panjang Umur Orang-Orang Berusia 100 Tahun Lebih
Artikel Selanjutnya
10 Fakta Kekejaman di Korea Utara, Beruntung Tak Jadi Warga Sana