Sukses

5 Kasus Pembunuhan Sadis yang Dilakukan oleh Nenek Renta

Liputan6.com, Jakarta - Selama ini kita hanya mengira bahwa kasus pembunuhan biasanya dilakukan oleh sekelompok orang muda. Pria berbadan besar, dandanan liar, memiliki tato dan rantai besi yang melingkar di bagian pinggang.

Atau bisa jadi, seorang pembunuh identik dengan sosok preman jalanan yang meminta uang secara paksa. Apabila kita tak menuruti kehendaknya maka nyawa lah yang menjadi taruhan.

Kasus pembunuhan memang kerap kita dengar. Ada banyak motif dan alasan yang latar belakang pelaku melakukan aksi kriminalnya. Beberapa contoh yang sering kita dengar seperti permasalahan utang piutang, sakit hati, dendam lama atau bisa jadi sang pelaku mengalami gangguan jiwa.

Terlepas dari itu semua, ternyata kasus pembunuhan tak selamanya dilakukan oleh sekelompok orang muda, perampok atau seorang preman.

Ternyata beberapa peristiwa di masa lampau pernah mencatat kasus pembunuhan yang dilakukan oleh nenek-nenek. Kaum lansia ini sering kali menjadi sosok yang kita sayang karena perhatian dan keperduliannya kepada orang banyak. Belum lagi masakan seorang nenek dinilai yang terbaik bagi anak, cucu dan orang-orang terdekatnya.

Selain itu, nenek-nenek juga dikenal lemah tak berdaya. Tenaganya yang telah habis di masa muda tak memungkinkan untuk melakukan tindakan-tindakan aneh. Jangan kan untuk merencanakan dan melakukan aksi pembunuhan, untuk mengangkat ember berisi air atau menyapu halaman saja sudah dirasa berat.

Seperti dikutip dari laman Ranker.com pada Selasa (20/6/2017), berikut 5 kasus pembunuhan sadis yang dilakukan oleh nenek-nenek:

1 dari 6 halaman

1. Nannie Doss

Nannie Doss adalah seorang wanita tua renta berparas manis yang biasa memasak untuk anggota keluarganya. Hidangan lezat kerap tersaji di atas meja saat seluruh anggota keluarga tengah berkumpul.

Namun sayangnya, Nannie Doss adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Ia pernah mencoba melakukan upaya pembunuhan pada usia 16 tahun. Kala itu ia mencoba meracuni suami pertamanya namun gagal.

Wanita yang lahir pada 4 November 1905 ini dikenal sebagai seorang pembunuh berantai Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas kematian 11 orang. Aksi kejam tersebut ia lakukan sejak tahun 1920 hingga 1954.

Nannie Doss (AP)

Karena aksi kejamnya tersebut nenek tua ini sering dijuluki 'Nenek Tertawa' karena ekspresinya yang selalu tertawa meski harus menjalani sidang pembunuhan.

Pada Oktober 1954 ia mengakui akan segala tindak pembunuhannya setelah suami kelimanya dinyatakan meninggal di sebuah rumah sakit di Tulsa Oklahoma. Saat itu sang suami meninggal tak wajar. Sebab, saat proses otopsi dokter melihat adanya racun arsenik di dalam tubuh korban. Racun ini biasa di gunakan untuk membunuh seekor kuda.

Secara Keseluruhan, terungkap bahwa ia telah membunuh empat suami, dua anak, dua saudara perempuan, ibunya, cucu laki-laki dan ibu mertuanya.

Karena aksi keji ini, Nannie diganjar hukuman seumur hidup penjara. Ketika ditanya alasan ia membunuh seluruh anggota keluarga, Nannie menjawab, "Saya bosan dengan pernikahan saya."

Pada tahun 1965, Nannie Doss dinyatakan meninggal karena penyakit leukemia yang ia derita. Nannie meninggal di rumah bangsal rumah sakit di Oklahoma State Penitentiary.

2 dari 6 halaman

2. Tamara Samsonova

Tamara Samsonova atau yang dikenal sebagai Granny Ripper adalah seorang wanita berusia 68 tahun asal Rusia. Ia mengaku telah membunuh 11 orang selama rentan waktu dua dekade.

Ilustrasi Pembunuhan (iStock)

Tak lama setelah ditangkap, pihak kepolisian setempat menemukan buku harian Tamara yang merangkum kisah perjalanan hidupnya.

Dalam catatan harian itu, Tamara menjelaskan bagaimana ia membunuh korban-korbannya. Di antara korban, ia memutilasi dan memakannya. 

Perbuatan keji tak berhenti di situ, ia juga mengaku tiap kali melakukan pembunuhan maka ia akan memutilasi korbannya di kamar mandi menggunakan pisau. Kemudian meletakkan potongan-potongan mayat tersebut ke dalam kantong plastik dan membuangnya ke berbagai wilayah di distrik Frunzensky.

3 dari 6 halaman

3. Leonarda Cianciulli

Pembunuh berantai selanjutnya adalah seorang nenek asal Negeri Menara Pisa Italia bernama Leonarda Cianciulli. Ia lahir di kota Montella. Saat masih muda ia pernah mencoba bunuh diri sebanyak dua kali. Pada tahun 1917, ia menikah dengan seorang pria bernama Raffaele Pansardi.

Saat ingin menikah, orangtuanya tak setuju. Sebab, mereka telah mempunyai pilihan tersendiri. Meski begitu, Cianciulli tetap bersikeras untuk menikahi pria pilihannya. Mulai saat itu ah sang ibu mengutuk dirinya.

Pindah ke Correggio dan memulai hidup yang baru, Cianciulli dikenal sebagai penjual sabun. Ia membuka sebuah toko kecil yang sangat populer dan kehadirannya dihormati oleh warga sekitar.

Leonarda Cianciulli (wikipedia commons)

Saat masa perkawinan Cianciulli kerap kali mengalami keguguran dan kehilangan banyak anaknya karena sakit di usia muda. Untuk melindungi anak-anaknya, Cianciulli beralih ke Okultisme.

Okultisme adalah kepercayaan terhadap hal-hal supranatural seperti ilmu sihir. Saat bertemu dengan peramal, ia diprediksi akan kehilangan suami dan anak-anaknya. Sang paranormal kemudian menyuruh Cianciulli agar menyerahkan nyawa orang lain sehingga terlepas dari kutukan.

Untuk itu, Cianciulli membunuh tiga orang wanita di kota tersebut antara tahun 1939 hingga 1940. Kesadisan perempuan itu tak berhenti begitu saja, jasad para korban kemudian dimutilasi dan dijadikan bahan tambahan untuk membuat sabun dan kue teh.

Bahkan saat ditangkap, ia mengatakan bahwa korban terakhir yang ia jadikan sebagai bahan untuk membuat sabun menjadikan produknya jauh lebih baik dan kue teh yang ia jual terasa jauh lebih manis.

4 dari 6 halaman

4. Amelia Elizabeth Dyer 

Amelia Elizabeth Dyer lahir di Hobley pada tahun 1837. Ia dikenal sebagai salah satu pembunuh paling produktif sepanjang sejarah.

Aksi pembunuhan yang dilakukan oleh Dyer bermula ketika dirinya membuka sebuah rumah penampungan bagi wanita yang hamil di luar nikah. Penampungan yang terletak di kota Totterdown itu ia bangun pada akhir tahun 1860.

Amelia Elizabeth Dyer (Freebase/Public domain)

Wanita yang memberikan bayi hasil hubungan terlarang tersebut meminta Dyer untuk membunuh bayi tak berdosa demi uang. Dyer kemudian membunuh para bayi dengan menggunakan zat beracun yang bekerja secara bertahap sehingga sang bayi akan meninggal secara perlahan.

Pihak kepolisian yang mencium aksi tersebut akhirnya menangkap Dyer pada tanggal 4 April 1896. Ia ditahan setelah pihak berwenang menemukan bayi di Sungai Thames. Mulanya polisi menemukan 50 jasad bayi, namun setelah polisi menggeledah rumahnya, tercium bau busuk yang sangat menyengat dari dalam dapur. Setelah dilakukan penyelidikan, polisi menduga ada 400 jasad bayi yang telah terbunuh.

Karena tindakannya, ia dihukum gantung oleh otoritas setempat. Dyer dieksekusi di penjara Newgate pada tanggal 10 Juni 1896.

5 dari 6 halaman

5. Dorothea Puente

Lahir di Redlands California pada tanggal 9 Januari 1929, Dorothea Puente hidup tanpa pengasuhan ayah dan ibunya. Kedua orangtuanya tewas dalam kecelakaan pada tahun 1937.

Dorothea Puente (AP)

Memasuki usia ke-64 tahun Dorothea Puente diadili oleh pengadilan setempat karena terbukti membunuh sembilan orang termasuk suaminya. Ia dinyatakan bersalah oleh pihak berwenang setelah ditemukan kuburan manusia di dekat rumahnya.

Ide pembunuhan ini berawal ketika si nenek tua ingin mendapatkan harta dari para korbannya. Mulanya ia memberikan alkohol, obat-obatan yang menyebabkan ke sembilan korban mengalami overdosis.

Setelah dinyatakan meninggal, Dorothea Puente mencairkan asuransi para korban sehingga mendapat keuntungan yang besar.

Artikel Selanjutnya
Jasad Nenek di Bogor Ternyata Korban Pembunuhan Pacar
Artikel Selanjutnya
Ayah dan 2 Anaknya Bunuh Juragan Toko karena Tuduhan Selingkuh