Sukses

Presiden Moon Berjanji Bebaskan Korsel dari Tenaga Nuklir

Liputan6.com, Seoul - Presiden Korea Selatan Moon Jae-in berjanji akan menghapus ketergantungan negara tersebut pada tenaga nuklir. Ia memperingatkan "konsekuensi tak terbayangkan" atas krisis Fukushima.

Bencana nuklir Fukushima adalah rentetan kegagalan perangkat, kebocoran nuklir, dan pelepasan material radioaktif di Pembangkit Listrik Nuklir Fukushima I di Jepang. Pemicunya adalah gempa bumi dan tsunami Tohoku pada 11 Maret 2011.

Krisis Fukushima disebut sebagai bencana nuklir terburuk sejak kasus Chernobyl pada tahun 1986. Saat itu reaktor nomor empat di Pembangkit Tenaga Nuklir Chernobyl yang terletak di Uni Soviet, di dekat Pripyat, Ukraina meledak.

Moon yang memerintah sejak 10 Mei 2017 menegaskan, ia akan meningkatkan peran energi terbarukan dan memimpin Negeri Ginseng menuju "era bebas nuklir". Sang presiden menyampaikan pernyataannya saat berpidato menandai penutupan sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir tertua di negara itu, Kori-1.

"Sejauh ini, kebijakan energi Korsel mengejar harga murah dan efisiensi. Harga produksi yang murah dijadikan prioritas sementara kehidupan dan keselamatan publik tak dihiraukan. Kini, waktunya perubahan," terang Moon seperti Liputan6.com kutip dari The Guardian, Selasa (20/6/2017).

"Kami akan menghapuskan kebijakan energi yang berpusat pada nuklir dan bergerak menuju era bebas nuklir. Kami akan membatalkan rencana pembangunan reaktor nuklir baru yang saat ini tengah berjalan," tambahnya.

Presiden ke-12 Korsel tersebut menambahkan, ia tidak akan memperpanjang pengoperasian reaktor yang sudah tua. Banyak di antaranya akan habis masa operasinya antara tahun 2020 dan 2030.

Membersihkan Korsel dari tenaga nuklir diperkirakan akan memakan waktu hingga puluhan tahun. Selain itu, upaya ini diduga akan mendapat perlawanan dari perusahaan konstruksi yang telah meningkatkan ekspor teknologi di bawah pemerintahan Park Geun-hye, pendahulu Moon.

Menurut Asosiasi Nuklir Dunia, Korsel merupakan produsen energi nuklir terbesar kelima pada tahun 2016. Dengan 25 reaktor, negeri yang dikenal lewat budaya K-Popnya itu menghasilkan sekitar sepertiga kebutuhan listriknya.

Sikap yang ditunjukkan Moon berbeda dengan para pendahulunya. Mantan Presiden Korsel Lee Myung-bak melihat, nuklir adalah sumber energi bersih yang penting. Sementara Park Geun-hye ingin meningkatkan jumlah reaktor menjadi 36 pada tahun 2029.

Moon menyadari peran tenaga nuklir dalam perkembangan ekonomi Korsel yang pesat. Namun, ia mengatakan, bencana Fukushima telah meyakinkannya bahwa negaranya harus mencari sumber energi baru.

"Status ekonomi negara telah berubah, kesadaran kita akan lingkungan juga telah berubah. Gagasan bahwa keselamatan dan kehidupan manusia lebih penting dibanding yang lainnya telah menjadi konsesus sosial yang kuat," terang Moon.

Pegiat anti-nuklir telah lama memperingatkan konsekuensi bencana yang berpotensi terjadi di PLTN di Korsel di mana banyak reaktor berada di daerah padat penduduk.

Dukungan masyarakat terhadap kehadiran tenaga nuklir telah melemah sejak krisis Fukushima dan skandal korupsi atas sertifikat keselamatan palsu untuk suku cadang reaktor.

"Kecelakaan nuklir Fukushima telah dengan jelas membuktikan bahwa reaktor nuklir tidak aman, tidak ekonomis, dan tidak ramah lingkungan. Korsel tidak aman dari risiko gempa bumi dan sebuah kecelakaan nuklir yang disebabkan gempa dapat memiliki dampak sangat buruk," demikian laporan yang dimuat kantor berita Yonhap mengutip pernyataan Moon.

Moon juga berencana untuk menutup setidaknya 10 pembangkit listrik tenaga batu bara berusia tua sebelum masa jabatannya berakhir pada 2022. Di lain sisi, ia meningkatkan pangsa energi terbarukan menjadi 20 persen pada tahun 2030.

 

Simak video menarik berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Jenderal AS: Opsi Tindakan Militer terhadap Korut Masih Terbuka
Artikel Selanjutnya
Iran Mengancam Akan Hidupkan Kembali Program Nuklirnya