Sukses

Warga Gaza Palestina: Qatar Dikucilkan, Kami yang Jadi Korban

Liputan6.com, Gaza - Sebuah taman bermain di kawasan Sheikh Hamad, Palestina dipenuhi anak-anak. Mereka bermain bersama dan menjerit riang gembira. Sementara para orangtua mengobrol sembari melihat anak-anaknya yang tengah bermain.

Kompleks Sheikh Hamad terdiri atas bangunan yang tersusun rapi. Tak hanya sebagai tempat tinggal, kawasan itu juga menjadi sarana aktivitas bagi masyarakat Palestina.

Proyek pemukiman warga ini menjadi salah satu lokasi yang diminati warga Gaza. Dibangun sejak tahun 2012 dengan uang pemerintah Qatar dan menyandang nama mantan penguasa negara Teluk yang terkenal kaya itu.

Dikutip dari laman BBC, Selasa (20/6/2017) tercatat lebih dari 2.000 warga Palestina memiliki status ekonomi yang rendah. Penghasilan mereka tak seberapa dan harus hidup berpindah-pindah.

Kompleks yang menjadi tempat bermain anak-anak itu juga memiliki sekolah baru, pertokoan, masjid yang mengesankan, dan dipenuhi banyak tanaman hijau. Lengking girang anak-anak yang asyik bermain ditingkahi suara bising proyek konstruksi.

 Salah satu bangunan di Gaza yang runtuh dan tinggal puing-puing pasca-serangan Israel (AFP)

Namun, krisis regional antara Qatar dan negara kawasan Teluk kian meningkat. Tak ada yang tahu kapan perselisihan bakal usai.

Warga Palestina di Gaza pun takut kehilangan donor utama. Sebab, Qatar lah yang selama ini menjadi pemasok bantuan dan pembangunan di kawasan tersebut.

"Kami akan menjadi korban, semuanya akan terhenti terutama uang, dukungan, infrastruktur dan pekerjaan bangunan," ujar Baha Shalaby salah seorang warga di kawasan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Qatar telah menggelontorkan ratusan juta dolar untuk membangun rumah baru, rumah sakit dan jalan-jalan utama di Jalur Gaza. Perkiraan total uang yang dihabiskan bisa mencapai US$ 1 miliar bahkan lebih.

Hingga saat ini, belum jelas apakah proyek pembangunan di kawasan tersebut akan terpengaruh oleh dampak krisis. Sebab, beberapa negara mencoba mengisolasi Qatar secara ekonomi dan menuduhnya mendorong aksi terorisme.

Seorang insinyur yang bertugas memperbaiki jalan utama di wilayah utara dan selatan Gaza memperingatkan kemungkinan implikasi yang lebih luas.

"Kami memiliki ratusan pekerja, yang menopang kehidupan ribuan keluarganya," kata Hanafi Sadallah.

"Tingkat pengangguran di Gaza sangat tinggi," tambahnya.

Sebuah aksi dukungan yang diadakan di Gaza dalam sebuah demonstrasi solidaritas untuk Qatar (AFP)

Lebih dari 40 persen warga Gaza tak memiliki pekerjaan. Palestina adalah salah satu negara yang memiliki tingkat pengangguran terbanyak di dunia.

Sebelumnya, pihak Arab Saudi mengajukan prasyarat damai. Salah satunya, agar Qatar tak memberi dukungan kepada Hamas, yang selama ini menjalankan pemerintahan di Gaza selama satu dekade terakhir pasca-memenangi pemilu legislatif.

Para pemimpin Hamas bersikeras, bantuan dari Qatar ke Gaza adalah untuk amal.

"Rumah yang dibangun bukan untuk Hamas, jalan-jalan yang dibangun bukan untuk Hamas," ujar tokoh senior Mahmoud Zahar.

Tekanan terus berdatangan ke Qatar, sementara itu dukungan dari warga Palestina yang berada di Jalur Gaza terus meningkat.

Banyak anak-anak yang melambaikan bendera Palestina dan Qatar. Di sampingnya terlihat sebuah tulisan 'Solidaritas untuk Qatar' dan 'Kami Semua adalah Qatar'.

Masyarakat Palestina, khususnya Gaza, sedang melakukan upaya diplomasi di tengah Krisis Teluk.

Untuk mengatakan pada dunia bahwa mereka membutuhkan bantuan Qatar.

Artikel Selanjutnya
Aplikasi Palang Merah Bantu Pengungsi Temukan Makanan
Artikel Selanjutnya
Arab Saudi Cs Keluarkan Daftar Tuntutan ke Qatar