Sukses

Donald Trump Batalkan Sebagian 'Warisan' Obama untuk Kuba

Liputan6.com, Miami - Presiden Donald Trump kembali membuat kejutan dengan menghapus kesepakatan bersejarah yang telah dibuat Presiden Obama atas Kuba.

Menurut suami Melania itu, kesepakatan Kuba dan Amerika Serikat cenderung berat sebelah dan merugikan AS, demikian seperti dikutip dari Associated Press pada Senin (19/6/2017).

Dengan mengatakan bahwa ia membatalkan persetujuan pemerintahan yang lalu dengan Kuba, Presiden Trump telah menghapus beberapa bagian dari pembukaan bersejarah oleh pemerintahan Obama terhadap negara pulau itu.

Langkah baru Trump antara lain memperketat pembatasan perjalanan pariwisata dan melarang persetujuan keuangan dengan badan hukum militer dan dinas intelijen Kuba.

Perusahaan besar militer Kuba GAESA diperkirakan menguasai lebih dari separuh ekonomi Negeri Cerutu itu.

Kebijakan mengebiri warisan Obama itu dituangkan dalam perintah eksekutif terbaru Trump.

Dalam pidatonya di daerah Little Havana, Miami, Trump diapit oleh Wakil Presiden Mike Pence dan Senator dari Florida, Marco Rubio.

Ia juga dikelilingi para politikus terkemuka lain keturunan Kuba. Trump mengatakan ia telah mengambil langkah untuk memenuhi janji kampanyenya yang membantunya memenangkan pemilihan Presiden November lalu di negara bagian Florida, di mana suara dari warga Amerika keturunan Kuba sangat berperan dalam meraih kemenangannya.

"Amerika telah menolak penindas rakyat Kuba," kata Trump kepada khalayak ramai yang berjubel dalam teater Manuel Artime, nama seorang pemimpin penyerbuan Teluk Babi yang bernasib malang.

"Kita akan menegakkan larangan terhadap pariwisata ke Kuba. Kita akan menegakkan embargo. Kita akan mengambil langkah kongkrit untuk memastikan bahwa investasi mengalir langsung ke rakyat supaya mereka dapat membuka perusahaan swasta dan mulai membangun masa depan yang besar bagi negara mereka," kata Trump.

Trump juga mengkritik pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan Kuba.

"Rezim Castro telah mengirim senjata ke Korea Utara dan menggelorakan peperangan di Venezuela. Mereka mengirim orang tak bersalah ke penjara, sementara memberi pupuk bagi pembunuh polisi, pembajak dan teroris," lanjut Trump.

Sementara itu, pemerintah Kuba merespons pernyataan Trump dengan negatif.

"AS tak berhak mengajari kami," kata pernyataan Kuba.

Pemerintah Kuba juga mengatakan perintah terbaru itu adalah kemunduran bagi AS.

Artikel Selanjutnya
Donald Trump Tunjuk Miliarder Ini Jadi Dubes AS untuk Inggris
Artikel Selanjutnya
Arab Saudi Cs Keluarkan Daftar Tuntutan ke Qatar