Sukses

Selundupkan dan Aniaya PRT, Diplomat Bangladesh Terancam Dibui

Liputan6.com, New York - Seorang diplomat senior Bangladesh di New York diduga melakukan tindak kekerasan terhadap asisten rumah tangga.

Korban mengaku dipaksa bekerja hingga 18 jam dalam satu hari tanpa bayaran.

Dikutip dari laman CNN, Rabu (14/6/2017) Jaksa Distrik Queen di mengatakan, tindakan ini sangat mengganggu.

Mohammed Shaheldul Islam (45) seorang Wakil Konsul Jendral Bangladesh tak hanya memaksa pekerja rumah tangganya untuk bekerja tanpa bayaran. Namun, ia juga diduga melakukan kombinasi kekerasan fisik dan ancaman kepada korban yang bernama Mohammed Amin dalam jangka waktu beberapa tahun.

Jaksa Distrik Queens, New York, Richard Brown mengimbau agar Shaheldul yang memiliki kekebalan diplomatik terbatas segera menyerahkan paspornya kepada pengadilan di kota itu.

Ia akan dikenai denda sebesar US$ 25.000 atau 15 tahun hukuman penjara jika terbukti bersalah.

Sementara itu, Abida Islam selaku Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri di Dhaka mengatakan dalam sebuah pesan teks: "Kami telah memanggil Duta Besar Amerika Serikat untuk Bangladesh agar datang ke kantor kami. Kemenlu akan mengajukan protes keras atas penangkapan Wakil Konsul Umum kami di New York."

Ketika ditanya langkah apa yang akan segera diambil, pemerintah Bangladesh menjawab, "Kami akan mengikuti aturan hukum di negara tersebut."

Dalam sebuah pernyataan resmi, pemerintah Bangladesh memiliki kepercayaan bahwa penangkapan tersebut merupakan 'pelanggaran terhadap Konvensi Wina mengenai hubungan kekonsuleran'.

Ia menambahkan, pemerintah mendapat laporan bahwa asisten rumah tangga yang diduga menjadi korban tersebut dikabarkan hilang sejak tahun lalu sebelum akhirnya kasus ini mencuat.

"Kami ingin mengatakan bahwa kami telah mendapat laporan tentang asisten rumah tangga yang hilang. Ia kabur sekitar 13 bulan yang lalu dari kediaman Mohammed Shaheldul," ujar Abida Islam.

"Namun, pasca-kaburnya asisten rumah tangga tersebut, tidak ada informasi yang kami terima hingga peristiwa penangkapan Mohammed Shaheldul," tambahnya.

Ancaman dan kekerasan

Pihak berwenang AS menuduh Shaheldul telah mengatur penyelundupan asisten rumah tangganya ke AS antara tahun 2012 hingga 2013 untuk bekerja di kediaman keluarganya.

Tindakannya tersebut menjadi hal lazim yang dilakukan para diplomat asal kawasan Asia Selatan.

Tak lama setelah kedatangan Amin, diplomat Bangladesh tersebut merebut paspor milik Amin dan memperingatkan dirinya untuk jangan coba-coba kabur.

Jika Amin nekat maka ia akan kehilangan nyawa ibu dan anak-anaknya.

Pihak berwenang mengatakan, selama bekerja Amin hanya mendapat pemasukan dari tip yang berasal dari tamu majikannya. Pihaknya juga mengatakan bahwa Amin dipaksa bekerja 18 jam sehari.

Jika dalam suatu kondisi, Amin tak menaati perintah majikannya, maka Shaheldul tak segan-segan akan memukul asisten rumah tangganya tersebut.

Pada tahun 2014, kejadian serupa pernah terjadi. Wakil Konsul Jenderal India di New York dituntut karena memaksa pembantu rumah tangganya untuk bekerja berjam-jam dengan upah kecil.

Kejadian di masa lalu tersebut mendorong Shaheldul mengakali tindakan kejinya. Ia merampas sebagian besar uang tip Amin dan mengembalikannya dalam bentuk cek. Ide ini dibuat agar seolah-olah ia telah menggaji asisten rumah tangganya.

Pada Mei 2016, Amin berhasil melarikan diri dari kediaman majikannya di Queens dan melaporkan segala hal yang ia alami kepada polisi.

Shaheldul didakwa atas pasal berlapis seperti dugaan pencurian, kekerasan, dan perdagangan buruh.

Menurut laporan dari Organisasi Perburuhan Internasional PBB (ILO), ada lebih dari 53 juta pekerja rumah tangga di seluruh dunia. Setidaknya, 21 juta orang diketahui berasal dari wilayah Asia dan Pasifik.

 

Saksikan video menarik tentang Bangladesh berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Bantah Saudi, Turki Tolak Tutup Pangkalan Militer di Qatar
Artikel Selanjutnya
Menjelang Lebaran, Polisi Saudi Gagalkan Upaya Bom Bunuh Diri