Sukses

Ahli Lingkungan: Donald Trump, Jangan Lupakan Lautan...

Liputan6.com, New York - Donald Trump menarik Amerika Serikat dari Kesepakatan Paris untuk perubahan iklim. 

Secara tak langsung, Negeri Paman Sam melepaskan diri dari komitmen untuk menjaga suhu bumi di bawah 2 derajat Celcius dan berupaya menekan hingga 1,5 derajat Celcius di atas suhu bumi pada masa pra-industri.

Kebijakan kontroversial itu mendapat kecaman dari sejumlah pemimpin dunia. Pejabat senior PBB juga memperingatkan Donald Trump untuk tidak melupakan lautan.

Dikutip dari Sky News, Kamis (8/6/2017), Direktur Jendral UNESCO, Irina Bokova, mengatakan, lautan sangat rentan terhadap perubahan suhu bumi yang kian memanas dan pada akhirnya berpotensi mengancam keberadaan manusia. Hal itu ia sampaikan pada Konferensi Kelautan PBB (Ocean Conference).

"Ini berkaitan dengan nasib manusia secara keseluruhan, ini tentang masa depan kita, dan tentang bagaimana kita akan bertahan hidup," ujar Bokova.

Dia mengatakan, hal yang mungkin menarik perhatian Trump adalah, investasi dalam teknologi hijau (green technologies).

"Adalah hal baik untuk mempelajari lautan, karena lautan dapat memberi banyak manfaat bagi kita," ia menambahkan.

Laut menyediakan hampir separuh oksigen yang kita hirup, menyerap sepertiga karbon dioksida yang diproduksi manusia, dan menyediakan sumber protein bagi 2,6 miliar penduduk bumi.

Namun, suhu laut kian meningkat akibat pemanasan global sehingga air menjadi semakin asam dan membuat spesies laut terancam.

Amerika Serikat dinobatkan sebagai salah satu dari delapan Ocean Champions pada Konferensi PBB di New York. Atas komitmennya terhadap dunia keilmuan. 

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) secara komprehensif memonitor banyak aspek laut dari satelit dan sensor laut.

Namun Presiden Trump telah mengklaim bahwa perubahan iklim adalah tipuan dari beberapa ilmuwan. Dikhawatirkan Gedung Putih akan memangkas anggaran untuk kegiatan-kegiatan ilmiah.

Sementara itu, Craig McLean dari Oceanic and Atmospheric Research mengatakan, NOAA akan terus mengamati kondisi lautan sebaik mungkin -- meski jika anggaran disunat.

"Tugas kami adalah untuk memberikan informasi bagi para pembuat kebijakan," ucap dia.

Konferensi Kelautan PBB mengkampanyekan program kelestarian laut. Telah ada beberapa negara, perusahaan dan organisasi non-pemerintah yang telah berkomitmen untuk memperbaiki kondisi laut.

Seperti Maladewa yang telah menghapus penggunaan plastik non-biodegradable yang dikenal sebagai plastik dengan zat kimia berbahaya.

Adapula Austria yang sudah berkomitmen untuk mengurangi jumlah kantong plastik. Tak hanya itu, Pakistan juga menunjukkan kepeduliannya terhadap lautan dengan mengumumkan penetapan kawasan konservasi laut pertamanya.

Artikel Selanjutnya
Tingkatkan Jumlah Mahasiswa Asing, Rusia Beri Kemudahan Visa
Artikel Selanjutnya
Uni Eropa Tanggapi Hak Tinggal Warga Negaranya Pasca-Brexit