Sukses

Pemberontak Houthi di Yaman Tolak Utusan PBB

Liputan6.com, Sanaa - Kelompok pemberontak Houthi beserta sekutunya yang berada di Yaman menolak kedatangan utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang ingin menjadi negosiator perdamaian dalam konflik di kawasan tersebut.

Dikutip dari laman ABC News Selasa (6/6/2017), dalam pidato yang disampaikan oleh Saleh Al-Samad pemimpin dewan politik pro-pemberontak,Ismail Ould Cheikh Ahmed tidak diinginkan oleh pihaknya untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan tersebut.

Ismail Ould Cheikh Ahmed adalah seorang diplomat dan politisi berkewarganegaraan Mauritania. Saat ini pria berusia 56 tahun tersebut menjabat sebagai Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Yaman sejak 25 April 2015.

Samad menambahkan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa harus tahu bahwa Cheikh Ahmed adalah orang yang tidak diinginkan kehadirannya oleh pemberontak Houthi.

Kelompok Houthi sempat membuat kerusuhan di Yaman setelah kelompok tersebut berusaha mengkudeta pemerintah Yaman. Tujuannya, untuk menduduki ibu kota Sanaa sejak tahun 2015.

Hal itulah yang membuat Presiden Yaman, Abdrabbuh Mansur Hadi, mengasingkan diri ke Arab Saudi.

Kelompok Houthi, yang beraliran Syiah, berhasil memasuki ibu kota Sanaa pada awal tahun 2014 dan memperkuat pengaruhnya dalam bulan-bulan berikutnya.

Houthi berasal dari masyarakat minoritas Zaidi Syiah dan melancarkan pemberontakan sejak 2004 untuk memperjuangkan otonomi yang lebih besar di Provinsi Saada, di sebelah utara negara Yaman.

Minggu lalu Cheikh Ahmed mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa perundingan serius mengenai langkah awal penghentian permusuhan di Yaman berjalan secara lamban. Pihak-pihak penting yang ada di sana enggan untuk membahas konsesi yang dibutuhkan untuk perdamaian.

"Saya tidak akan bersembunyi dari Dewan Keamanan ini meski kesepakatan komprehensif sulit dilakukan," ujar Cheikh Ahmed yang mengisyaratkan bahwa pejabat Houthi menolak untuk bertemu dengannya.

Cheikh Ahmed juga mengungkapkan keprihatinan mendalam saat kunjungan terakhirnya ke Sanaa pada 22 Mei 2017. Saat konvoinya diserang saat oleh pemberontak ketika hendak menuju ke kompleks PBB.

Ia mendesak penyelidikan atas serangan tersebut dan mengatakan bahwa ia masih memiliki tekad untuk melanjutkan usaha demi menemukan titik penyelesaian politik ke arah yang lebih baik untuk kepentingan rakyat Yaman.

Artikel Selanjutnya
Hormati Idul Fitri, Filipina Umumkan Gencatan Senjata di Marawi
Artikel Selanjutnya
25-6-1950: Serangan Kejutan Korut Nyaris Memicu Perang Dunia III