Sukses

6 Kisah Korban Penculikan yang Menolak Untuk Menyerah

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian dari kita tentu tahu dan pernah menonton film dengan judul 'Room'. Film buatan Lenny Abrahamson ini mampu masuk sebagai jajaran nominasi sutradara terbaik dalam ajang piala Oscar. Tak hanya itu Brie Larson sebagai pemeran utama bahkan berhasil keluar sebagai pemenang kategori Aktris terbaik piala Oscar tahun 2016.

Film ini menceritakan tentang kisah seorang gadis yang selamat dalam upaya penculikan meski harus menjalani hal-hal sulit selama masa penyanderaan.

Dalam film ini, Brie Larson memainkan karakter sebagai Joy, seorang gadis muda yang diculik seorang pria tak dikenal. Ia dikurung dalam sebuah gudang pengap dan mendapatkan kekerasan seksual, hingga melahirkan seorang anak lelaki yang diberi nama Jack.

Hidupnya terbilang sulit, harus tinggal dalam ruangan sempit yang hanya berisi sebuah televisi tua, beberapa perabot rumah tangga dan satu pot tanaman. Sementara langit, baginya hanya satu jendela kecil di langit-langit gudang. Hal itu harus Joy jalani hingga anak laki-lakinya berusia lima tahun.

Di suatu momen Joy berusaha memutar otak agar mereka bisa keluar dari tempat penyekapan. Jack harus pura-pura mati, lalu jasadnya dibungkus selembar karpet yang nantinya dibuang pelaku ke luar. Bagi Joy, ini adalah tiket menuju kebebasan yang ia impikan. Pada akhirnya ia berhasil membebaskan diri dari sang penjahat.

Ternyata kisah upaya penyelamatan diri dari pelaku kejahatan pernah terjadi dalam dunia yang sebenarnya. Beberapa korban penculikan berusaha bertahan hidup dan menolak untuk menyerah dengan keadaan.

Meski harus mengalami hambatan dan cobaan yang mereka terima. Seperti disiksa, dibiarkan begitu saja atau bahkan tidak mendapat makanan. Tak heran jika perjuangan mereka dapat menjadi pelajaran hidup dan kisah inspiratif bagi setiap orang.

Berikut adalah 6 kisah korban penculikan yang menolak untuk menyerah. Lipuatn6.com menyarikan dari Listverse.com pada Jumat, (2/6/2017)

1 dari 7 halaman

1. Lisa Noland

Pada usia 17 tahun, Lisa sempat berencana untuk bunuh diri karena mengalami pelecehan seksual dari anggota keluarganya sendiri.

Suatu hari pada tanggal 3 November 1984, Lisa berniat untuk berangkat kerja pada pukul 02.00. Ia sungguh merasa gembira karena berfikir penderitaannya akan segera berakhir. Namun dalam perjalanan pulang tiba-tiba seorang pria tak dikenal menarik dan memaksanya masuk ke dalam sebuah mobil di bawah todongan senjata.

Oleh pelaku, Lisa ditutup matanya dan dipaksa untuk menanggalkan pakaiannya. Tak hanya itu kedua pergelangan tangan diikat oleh pelaku dan nahasnya ia menerima serangan seksual selama 26 jam setelah proses penculikan.

Lisa Noland (Photo Capture by WTVT)

Lisa begitu sedih, karena merasa orang di sekelilingnya merampas haknya. Sehingga ia berusaha dan tidak akan membiarkan hal ini terus terjadi.

Lisa berikrar untuk terus bertahan hidup. Ia memutar otak untuk berteman dengan sang penculik. Lisa betul-betul paham dengan situasi dan mencoba memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh si pelaku.

Salah satu cara yang ia lakukan adalah mencoba mendekati pelaku dan berusaha untuk menjadi kekasihnya. Saat itu Lisa menawarkan dirinya untuk menjadi kekasih pelaku. Setelah benar-benar mendapat kepercayaan, dirinya mencoba untuk kabur dan melapor semuanya ke pihak polisi.

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Lisa, polisi mengambil langkah untuk menggerebek rumah Bobby Joe Long yang merupakan pelaku penculikan dan kekerasan seksual. Long ditangkap atas tuduhan kasus tersebut dan ternyata juga memiliki kaitan dengan kasus pembunuhan sepuluh orang wanita.

"Saya sangat bersyukur kepada Tuhan yang mengizinkan saya untuk tetap hidup. Pengalaman ini sungguh mengajarkan saya banyak hal," ujar Lisa.

Kini, Lisa menjadi seorang perwira polisi yang mengkhususkan diri dalam divisi kejahatan seksual dan penganiayaan anak-anak.

"Ketika saya menjalani profesi ini, saya sangat merasakan sakitnya karena saya pernah berada di posisi mereka," tambahnya.

2 dari 7 halaman

2. April Sykes

Pada tanggal 27 November 2005, seorang gadis bernama April Sykes tengah berusia 18 tahun. Kala itu ia berencana untuk bertemu dengan mantan kekasihnya yang bernama Brandon McMinn untuk bersenang-senang.

Saat itu Brandon membawa teman laki-lakinya yang bernama Virgil Samuels yang diketahui sebagai salah satu anggota geng yang kejam. Saat bertemu Virgil diduga sedang dalam kondisi mabuk dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

Virgil tahu bahwa Sykes adalah putri dari seorang polisi. Untuk itu ia curiga bahwa Sykes dan Brandon akan melaporkannya kepada pihak berwajib karena mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang.

Sontak Virgil menyerang Brandon dan menguncinya di bagasi mobil Sykes. Dengan kejam Virgil mencoba menahan Sykes dan secara brutal menyerang dan berbuat tindak asusila selama lebih dari tujuh jam.

April Sykes (Instagram/April Sykes)

Seolah tak kuasa menahan sakit, Sykes hanya bisa pasrah. Virgil juga mencoba untuk mencekik leher Sykes dan mengeluarkan senjata tajam. Sedangkan Brandon sudah berhasil meloloskan diri entah kemana dan sama sekali tidak menghubungi pihak polisi.

Tak berhenti sampai di situ, Virgil menumpahkan bensin ke tubuh Sykes dan membakarnya. Meski dalam kondisi tubuh terbalut api, Sykes masih bisa berfikir. Jika ia mencoba kabur tentu Virgil akan mengejar dan menangkapnya. Untuk itu ia menahan panas api hingga Virgil meninggalkan dirinya.

Setelah pria gila tersebut pergi, Sykes mencoba memadamkan api yang menyelimuti dirinya. Meski berhasil selamat, Sykes hidup dengan kondisi luka bakar hingga 65 persen bagian tubuhnya. Bahkan ia harus kehilangan beberapa jari di tangan kirinya.

Pasca-kejadian Virgil menjadi buronan dan berhasil ditangkap oleh polisi. Ia dijatuhi hukuman 35 tahun penjara.

Beda halnya dengan Sykes, ia dapat menjalankan hidup bahagia dengan menikah dengan pria yang ia cintai dan telah dikaruniai seorang anak.

"Saat itu saya berusaha untuk tetap kuat, antara hidup dan mati tentu saya memilih untuk tetap hidup," ujar Sykes.

3 dari 7 halaman

3. Lydia Tillman

Lydia Tillman seorang perempuan berusia 30 tahun kala itu sedang menuju arah pulang setelah menonton pesta kembang api. Selama perjalanan ia sempat merasa gelisah sebab tengah diikuti oleh seorang pria yang tidak dikenal.

Ternyata pria asing tersebut memiliki niatan jahat terhadap dirinya. Pria asing itu memaksa untuk masuk ke dalam apartemennya dan menyerang Lydia secara brutal.

Setelah mendapat prilaku kekerasan seksual ia juga mendapat kekerasan fisik. Perbuatan keji pria itu tak berhenti di situ saja. Ia menyiram tubuh Lydia dengan pemutih dan membakar kamar tidurnya.

Lydia Tillman (Photo Capture by Andy Buck)

Lydia terbaring, seolah tak berdaya. Bahkan ia mengira dirinya sudah meninggal. Saat sadar ia mencoba melepaskan diri dari ruangan penuh asap tersebut. Ia berhasil keluar ruangan untuk menghindari jilatan si jago merah yang sudah menyebar.

Lydia betul-betul mendapat kekerasan fisik yang sangat parah. Terdapat beberapa darah beku di bagian tubuhnya. Setelah berhasil dilarikan ke rumah sakit, Lydia mengalami stroke parah.

Pihak medis mengira usia Lydia tak panjang lagi. Ia dianggap akan meninggal dunia akibat luka cedera yang sangat parah. Dokter menggambarkan keadaan Lydia seperti orang yang mengalami kecelakaan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa menggunakan sabuk pengaman.

Lydia mengalami koma lebih dari lima minggu. Saat terbangun ia benar-benar kehilangan kemampuan bicaranya karena tingkat cedera otak yang parah.

Polisi menemukan barang bukti berupa DNA pelaku yang menempel di bawah kuku Lydia. Travis Forbes dicurigai sebagai pelaku tindak kekejaman tersebut.

Dalam pengadilan, ayah Lydia membacakan sebuah pernyataan yang ditulis sendiri oleh anaknya di hadapan hakim dan jaksa. Isi surat menyatakan bahwa Lydia memaafkan tindakan keji Forbes.

Lydia menulis : "Travis Forbes, Anda sama sekali tidak membahayakan saya. Semangat jiwaku, pikiranku, sama sekali tak tersentuh."

Lydia juga menuliskan bahwa memaafkan itu jauh lebih mudah dibanding harus menahan kemarahan. Melalui kekuatan dan kerja kerasnyalah akhirnya kondisi Lydia perlahan-lahan mulai membaik dan dapat berbicara seperti sedia kala.

Ia hanya ingin menikmati hidup sebanyak mungkin dan berharap orang lain juga akan menyukainya.

Lydia kemudian menjelaskan, "Saya percaya Travis Forbes bertindak karena rasa takut dan benci dalam dirinya. Saya memilih untuk terus mengasihi dan memberi kedamaian. Dengan itu saya pasti menang. Saya berharap Forbes akan menemukan kedamaian dalam hidupnya."

4 dari 7 halaman

4. Alison Botha

Sekitar pukul 02.00 pada tanggal 18 Desember 1994, Alison Botha seorang perempuan berusia 27 tahun diculik oleh dua orang pria dan membawanya ke daerah terpencil di Port Elizaberth Afrika Selatan. Setibanya disana Botha mendapatkan perlakukan asusila.

Kekerasan fisik pun juga dirasakan oleh Alison Botha dan saat itu kondisinya sangat memprihatinkan. Setelah mengalami kejadian mengerikan tersebut ia sempat tak membiarkan tubuhnya terbaring disana.

Keadaan memilukan tersebut menjadi sebuah momen bagi Botha untuk memikirkan dirinya. Apakah ingin mati saja atau memilih melanjutkan hidup.

Alison Botha (Photo Capture by Towerkop Creation)

Dalam kondisi yang mengenaskan, seorang warga menemukan dirinya dan memanggil ambulans. Sempat dinyatakan meninggal oleh dokter tiba-tiba sebuah mukjizat datang dan menyatakan bahwa Botha masih hidup.

Dua pria yang dinyatakan paling bertanggung jawab akibat kejadian ini yaitu Theuns Kruger dan Frans du Toit dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan.

Kini Alison menjadi seorang pembicara di berbagai forum dan memberikan motivasi untuk para ibu dan anak-anak.

Dalam sebuah wawancara di tahun 2014 Botha berkata, "Masing-masing dari kita sangatlah berharga, dan kita perlu membuat sebuah pilihan. Kita harus percaya pada diri kita melebihi apa yang kita anggap tidak mungkin."

5 dari 7 halaman

5. Elizabeth Shoaf

Pada tahun 2006 seorang gadis belia bernama Elizabeth Shoaf memasuki usia ke-14. Ketika sedang menuju arah pulang melewati sebuah hutan ia bertemu dengan pria tak dikenal berusia 36 tahun bernama Vinson Filyaw.

Filyaw mengklaim dirinya sebagai seorang polisi dan mengancam untuk menangkap Elizabeth. Pria itu memborgol tangan Elizabeth dan mengalungkan sebuah tali yang mengait sebuah kotak. Ia mengatakan itu adalah sebuah bom yang akan meledak jika ia mencoba untuk melarikan diri.

Filyaw membawa gadis tersebut ke dalam hutan dengan penuh rasa ketakutan. Kemudian ia menyuruh Elizabeth untuk masuk ke dalam sebuah ruang bawah tanah yang telah ia gali selama berminggu-minggu. Selama sepuluh hari Elizabeth mendekam di dalam gua tersebut.

Elizabeth tinggal dalam tempat yang tidak layak dimana lokasinya dipenuhi dengan kotoran dan makanan basi. Dalam kondisi tersebut ia mendapatkan kekerasan seksual yang tak ia pernah ia pikir sebelumnya.

Pelaku pun menyuruh Elizabeth untuk menonton televisi yang menayangkan ibunya dalam kondisi panik karena tengah mencari Elizabeth.

Pada suatu hari, Elizabeth berusaha menembak Filyaw namun pelurunya tidak keluar. Dia menyadari bahwa satu-satunya cara untuk lolos dari cobaan tersebut adalah mencintai dan mempercayai pria tersebut.

Setelah memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih, Elizabeth mencoba menggunakan telpon genggam Filyaw dan mengirim pesan teks kepada sang ibu.

Karena mendapatkan pesan singkat dari sang anak, kemudian sang ibu menghubungi polisi dan merangkai upaya penyelamatan Elizabeth.

Filyaw menyadari bahwa aksinya tersebut telah diketahui oleh polisi, ia pergi dan meninggalkan Elizabeth. Gadis belia itu pada akhirnya ditemukan oleh Kapten David Thomley salah seorang pihak berwenang yang menangani kasus penculikan Elizabeth.

Dalam proses hukum, Filyaw yang berhasil dibekuk dijatuhi hukuman 421 tahun penjara.

6 dari 7 halaman

6. Kara Robinson

Kara Robinson tengah berusia 15 tahun saat diculik oleh pria tak dikenal yang pura-pura menawarkan majalah.

Sambil memegang senjata api, Kara dipaksa untuk masuk ke dalam sebuah kotak besar di bagian belakang mobilnya. Setibanya di rumah pelaku, Kara diseret dan menerima kekerasan seksual.

Pagi harinya kara terbangun masih dalam kondisi setengah sadar karena efek obat bius. Dalam kondisi tersebut Kara mencoba untuk melepaskan borgol yang melingkar di pergelangan tangannya.

Kara Robinson (AP)

Kara keluar dan mencari bantuan dari seorang pengendara yang lewat, yang membawanya ke sebuah kantor polisi. Setelah itu ia membawa petugas polisi ke rumah sang penculik. Pria itu diketahui bernama Richard Marc Evonitz berusia 38 tahun. Pria itu sudah menikah, namun istrinya sedang berlibur di Disney World pada saat penculikan Kara.

Evonitz menembak dirinya sendiri sebelum polisi menahan dirinya, namun pihak kepolisian punya banyak bukti yang ditemukan di rumahnya. Seandainya ia masih hidup, tentu akan dihukum lantaran telah melakukan hal serupa kepada beberapa anak perempuan.

Dalam sebuah wawancara film dokumenter yang berjudul I Escaped My Killer, Kara berkata: "Anda bisa mengambil langkah atas apa yang menimpa diri anda. Anda tidak bisa menjadi korban, Anda harus mengambil semua yang Anda punya.

Kini, Kara Robinson menjadi salah satu pejabat di kantor Sheriff Richland County tempat ia tinggal.

Artikel Selanjutnya
Pemberontak Yaman Hukum Mati Pemerkosa Bocah 4 Tahun
Artikel Selanjutnya
Tragedi Pengadilan Jalanan