Sukses

Pangeran Saudi Temui Presiden Putin, Ada Apa?

Liputan6.com, Moskow - Wakil Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada Selasa 30 Mei 2017.

Kedua pemimpin negara kaya minyak tersebut bertemu untuk membahas sejumlah isu, di antaranya perang Suriah dan beberapa hal terkait energi.

Dikutip dari laman The New Arab, Rabu (31/5/2017) pertemuan antara Putin dan Pangeran Mohammed yang menjadi tokoh kedua terkuat di Saudi ini merupakan kali kedua dalam satu tahun terakhir.

"Hubungan antara Arab Saudi dan Rusia sedang mengalami momen terbaik," kata Pangeran Mohammed.

"Kami memiliki banyak kesamaan, ketika menemukan ketidaksetujuan dan ketidaksamaan, tentu kami memiliki mekanisme yang jelas untuk mengatasinya. Kami akan bergerak dengan cepat dan melakukannya dengan cara yang positif," tambahnya.

Hubungan kedua negara berkembang secara pesat dalam beberapa tahun terakhir terutama dalam bidang ekonomi.

Meski demikian, tak dapat dipungkiri kedua negara memiliki perbedaan tajam dalam sejumlah isu. 

Arab Saudi bersekutu dengan Amerika Serikat dalam perang Suriah dan Yaman. Sementara Moskow diketahui berada di pihak yang sama dengan Iran, yakni mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad.

Namun, pertemuan Putin dan Pangeran Mohammed lebih dimaksudkan untuk membahas urusan ekonomi terutama masalah energi.

Sebelumnya, Menteri Energi Rusia Alexander Novak lebih dulu bertemu dengan mitra Arab Saudinya yaitu Khalid Al-Falih untuk membahas pasar minyak global.

Keduanya sangat berperan penting dalam keberhasilan kesepakatan global 2016 dimana, produksi minyak dibatasi hingga 1,8 juta barel per hari.

Pekan lalu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sepakat untuk memperpanjang kesepakatan penting tersebut sebagai bagian dari upaya untuk menopang harga dan mengurangi persediaan yang membengkak.

Kunjungan Pangeran Mohammed ke Moskow terjadi satu pekan setelah Presiden Donald Trump melawat ke Saudi.

Selama kunjungan Trump ke Saudi, Washington setuju untuk menjual senjata dan memberi bantuan ke Riyadh.

Kesepakatan jual beli senjata yang ditandatangani kedua negara, terbesar dalam sejarah AS. Hal tersebut membuat hubungan Riyadh-Washington memasuki babak baru setelah sebelumnya sempat menurun di era Barack Obama.

Sebuah sumber mengonfirmasi, kesepakatan berjangka 10 tahun tersebut menembus angka US$ 350 miliar. Selain persenjataan, kesepakatan lain yang ditandatangani adalah urusan peningkatan kerja sama ekonomi.

Artikel Selanjutnya
Ini Alasan AS dan Korut Masih Menahan Diri untuk Tak Berperang?
Artikel Selanjutnya
Muda, Ambisius, Reformis...Ini 3 Fakta Putra Mahkota Arab Saudi