Sukses

3 'Juara Dunia' yang Pernah Bersujud di Depan Kabah

Liputan6.com, Mekah - Paul Pogba adalah salah satu pemain sepak bola termahal di dunia. Untuk mendapatkannya, Manchester United rela membayar 89 juta pound sterling kepada Juventus.

Gelandang Manchestre United (MU) Paul Pogba jadi muslim yang beruntung karena bisa berpuasa Ramadan di tanah suci Mekah. (https://twitter.com/MarwanAhmed_KF)

Selain itu, Pogba juga mengangkat piala Liga Eropa setelah Manchester United berhasil mengalahkan Ajak pada final di Stockholm.

Namun, tak ada tanda-tanda kejayaan di lapangan yang ia bawa di depan Kakbah. Seperti halnya jemaah yang lain, pria 24 tahun itu hanya mengenakan dua helai kain ihram putih yang sama sekali tak dijahit.

Pada Minggu, 28 Mei 2017, pemain berkebangsaan Prancis tersebut mengunggah fotonya yang sedang berdiri di depan Kakbah. 

"Hal terindah yang pernah saya lihat selama menjalani hidup," demikian kalimat yang menyertai unggahannya itu, seperti dikutip dari BBC, Senin (29/5/2017).

Kunjungan Paul Pogba ke Tanah Suci menambah daftar atlet dan juara dunia yang menunaikan ibadah suci ke Mekah, bersujud di depan Kakbah. 

Dikutip dari berbagai sumber, berikut adalah 3 'juara dunia' yang pernah bersujud di depan Kakbah, kiblat suci umat Islam:

1 dari 4 halaman

1. Muhammad Ali

 

Dunia gempar saat juara tinju kelas berat Cassius Marcellus Clay Jr mengumumkan bahwa ia telah menjadi seorang muslim pada tahun 1964. Tak lama kemudian, pria itu menyandang nama baru: Muhammad Ali.

"Orang-orang menyebutnya sebagai 'Black Muslims'," kata Ali yang kala itu berusia 22 tahun, soal keyakinan barunya itu, seperti dikutip dari situs International Business Times, Sabtu (4/6/2016).

"Itu bahasa media. Bukan istilah resmi. Islam adalah sebuah agama. Ada 750 juta orang di seluruh dunia yang menjadi pemeluknya. Dan saya adalah salah satunya."

Pengumuman tersebut dilakukan segera setelah ia menang TKO ronde 7 dari 15 ronde yang direncanakan atas Sonny Liston di Florida, Amerika Serikat.

Sejak menjadi muslim, Ali mewakili wajah Islam di mata warga Amerika Serikat.

"Muhammad Ali mungkin adalah wajah Islam pertama bagi Amerika Serikat. Di mana untuk kali pertama menyadarkan bahwa muslim ada di AS," kata Ihsan Bagby, associate professor dari University of Kentucky seperti dikutip dari Courier Journal.

Saat itu, Ali bukan hanya pahlawan bagi muslim. Prestasinya mewakili 'black pride' -- kebanggaan kaum kulit berwarna bagi warga Amerika keturunan Afrika.

Juga pahlawan bagi rakyat di dunia ketiga yang hidup pada era pasca-kolonial, di mana keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam sama sekali tak populer.

Muhammad Ali juga adalah penentang Perang Vietnam gadis depan. Ia menentang program wajib militer ke Vietnam. "Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietkong, dan tidak ada satupun orang Vietkkong yang memanggilku dengan sebutan Nigger!," kata dia.

Joe Frazier saat berhadapan dengan juara kelas berat Muhammad Ali yang harus menyerah dironde kesembilan saat berlaga di Manila Filipina (AP)

 

Pasca-memeluk agama Islam, Ali menjadi pribadi yang lembut dan selalu ada untuk membantu sesama tanpa pandang bulu -- apakah yang dibantunya itu berkulit putih, hitam, dari Amerika Selatan, India atau dari belahan dunia manapun.

Memasuki tahun 1972, Ali melakukan perjalanan spiritualnya menuju kota suci Mekah. Untuk pertama kalinya sang juara dunia melakukan sujudnya di hadapan Kakbah.

Dikutip dari laman Salaam.co.uk, Ali mengaku ada hal luar biasa yang ia alami dalam kehidupan ketika menginjakkan kaki di tanah suci.

Muhammad Ali saat berhadapan dengan Ken Norton saat melakukan pertandingan di Inglewood California (AP)

"Saya mengalami banyak momentum indah dalam hidup. Namun perasaan yang dirasa ketika berdiri di Bukit Arafah, saat melaksanakan ibadah haji, sungguh berbeda dan unik," ujar Muhammad Ali.

Saya merasakan atmosfer spiritual yang tak dapat digambarkan, di tengah 1,5 juta jemaah yang memenuhi panggilan Allah, memohon agar Yang Maha Kuasa mengampuni dosa-dosa mereka dan menganugerahkan rahmat-Nya," tambahnya.

Hati Muhammad Ali bergetar saat menyadari jutaan orang dengan warna kulit dan ras berlainan, berbeda bangsa, tak peduli latar belakang, raja, kepala negara, atau orang-orang biasa dari negara miskin. Semua hanya memakai dua lembar kain putih, berdoa kepada Tuhan dengan menanggalkan kesombongan maupun rasa rendah diri.

Pada hari itu, pendapat Ali tentang dunia berubah untuk selamanya.

2 dari 4 halaman

2. Mesut Ozil

Gelandang Arsenal Mesut Ozil sempat meluangkan waktu menjelang Kejuaraan Eropa pada musim panas lalu. Mengisi kekosongan tersebut ia melakukan perjalanan ke tahan suci untuk melakukan ibadah umrah.

Dikutip dari Dailymail, Ozil berprinsip bahwa seorang Muslim yang masih dalam kondisi yang sehat dan mampu setidaknya wajib melakukan melakukan ibadah haji atau umrah sekali dalam seumur hidup.

Pemain berusia 27 tahun itu menjadi salah satu pemain andalan tim nasional Jerman yang bertanding di musim panas. Selain berkunjung ke tanah suci, Ozil juga menyempatkan diri untuk berlibur sejenak di Dubai dan terlibat dalam pertandingan amal di Yordania.

Melalui kunjungan spiritualnya itu, Osil sempat mengabadikan momennya di depan Kakbah dan mengunggahnya ke sosial media.

Mesut Ozil (AFP/Christof Stache)

Selain dikenal sebagai sosok yang taat dalam beragama juga dikenal sebagai sosok yang dermawan. Ozil pernah membiayai operasi 11 anak yang menderita bibir sumbing di pedalaman Amazon. Meski menjadi penolong anak-anak di pedalaman Amazon, Ozil memberikan pelajaran kalau kebaikannya tidak layak dipublikasikan.

Sebagai seorang Muslim yang hidup di Eropa, Ozil tidak pernah lupa mengenai kewajibannya dalam hal beribadah. Bahkan, mantan rekan satu timnya di Real Madrid, Cristiano Ronaldo merasa nyaman ketika Ozil membaca Alquran sebelum bertanding.

Selain sering mengaji, Ozil punya kebiasaan khusus ketika sudah memasuki lapangan. Seperti dikutip dari Daily Mail, dia selalu berdoa kepada Allah supaya diberikan kesuksesan dalam setiap pertandingan.

"Ketika saya berdoa, teman-teman satu tim tahu bahwa saya tidak akan bisa diajak bicara. Saya selalu memohon pada Allah untuk memberikan saya keberhasilan. Itulah resep sukses saya selama ini," ujar Ozil.

3 dari 4 halaman

3. Mike Tyson

Pada dekade 1980-an, Mike Tyson merajai ring tinju. Ia jadi juara dunia tinju kelas berat dan menjadi atlet dengan bayaran termahal di dunia.

Namun, roda nasib seseorang bisa berputar 180 derajat. Tyson yang pernah akrab dengan kehidupan gemerlap anjlok ke titik terendah. Kariernya hancur berantakan. Ia bahkan harus mendekam di penjara karena terjerat kasus pemerkosaan terhadap Desiree Washington.

Juara dunia kelas berat Mike Tyson saat berkunjung ke Mekah pada tahun 2010 (AFP)

Saat mendekam di penjara Plainfield Correctional Facility, Indiana, Tyson berkenalan Muhammad Siddeeq -- yang memperkenalkan Islam padanya.

Persahabatannya dengan Hakeem Olajuwon dan kekagumannya pada Muhammad Ali juga berperan besar dalam keputusan yang ia ambil.

Di bawah bimbingan Siddeeq, Tyson kemudian memeluk Islam dan memiliki nama baru Malik Abdul Aziz.

Pada tahun 2010, perjalanan spiritual juara tinju dunia kelas berat tersebut berlanjut hingga ke Tanah Suci. 

Mike Tyson menggunakan kopiah setelah keluar dari penjara pada 1995 (AFP)

Kemudian ibadah umrah Malik Abdul Aziz tersebut direkam dan diunggah ke media sosial dan diberi judul 'Mike Tyson Trip to Mecca, Saudi Arabia'.

Si Leher Beton tersebut tersenyum bahagia dengan mengenakan pakaian ihram saat melaksanakan tawaf. Tak hanya itu, Mike Tyson juga berseri-seri saat berdialog
dengan Rektor Universitas Madinah. Petinju legendaris itu tersenyum lebar memakai kopiah haji dan serba putih.

"Insya Allah, Allah akan terus memberkati saya untuk tetap berada di jalan yang lurus," ujar Tyson dalam video tersebut.

"Saya masih suka menangis bila mengingat pengalaman menginjak taman surga di Madinah. Saya bahkan berpikir untuk tidak beranjak dari tempat suci itu," tambahnya.

Artikel Selanjutnya
Juara Dunia, Tontowi / Liliyana Berharap Motivasi Para Junior
Artikel Selanjutnya
Juara Dunia 4 Kali, Kado Istimewa buat Liliyana