Sukses

Bantu Saudi di Yaman, Mesir Tawarkan Bantuan 40.000 Pasukan?

Liputan6.com, Kairo - Seorang jenderal Arab Saudi mengklaim, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menawarkan bantuan berupa pengiriman 40.000 pasukan darat ke Yaman untuk bergabung dengan koalisi pimpinan Saudi melawan pemberontak Houthi.

Ahmed Asiri mengatakan, tawaran tersebut ditolak Riyadh. Alasannya, Arab Saudi bertujuan untuk membangun tentara Yaman yang kuat, yang mampu melindungi negara itu di masa depan.

"Presiden Sisi menawarkan kepada Arab Saudi dan koalisi untuk mengirimkan pasukan darat. Metodologi di Yaman adalah tidak mengerahkan pasukan non-Yaman di sana," ujar Asiri seperti dilansir Al Araby, Rabu, (19/4/2017).

"Militer Mesir saat ini tengah ambil bagian melalui pasukan angkatan laut dan angkatan udara, namun pada saat itu kami bicara tentang sekitar 30 hingga 40 ribu pasukan darat," imbuhnya.

Namun klaim bahwa Negeri Piramida menawarkan pengiriman pasukan darat ini dibantah seorang pejabat Mesir. Menurutnya, justru Arab Saudi yang meminta bantuan.

"Arab Saudi meminta Mesir untuk mengirimkan pasukan tapi kami tegaskan tidak akan melakukannya. Ini merupakah salah satu alasan utama ketegangan antara kedua negara," ungkap pejabat itu.

Presiden Sisi bertemu Raja Salman bulan lalu di sela-sela KTT Liga Arab di Yordania. Pertemuan keduanya sempat mencairkan ketegangan antar dua sekutu lama.

Analis politik Mohammad Ezz mengatakan kepada Al Araby bahwa otoritas Mesir belum membuat pernyataan resmi terkait hal ini untuk menghindari ketegangan lebih lanjut.

"Mesir memilih diam atas sejumlah isu terkait Arab Saudi karena ingin menghindari membuat keputusan. Jika Sisi keluar dan membantah klaim tersebut maka itu akan menyebabkan keributan di pihak Saudi dan jika dia mengonfirmasi hal tersebut maka akan memicu kemarahan publik Mesir yang menentang pengiriman pasukan ke luar negeri," kata Ezz.

Koalisi pimpinan Saudi telah melancarkan serangan udara di Yaman sejak Maret 2015. Konflik di negara itu berlangsung antara pemerintah yang didukung koalisi pimpinan Saudi versus pemberontak Houthi yang berhasil merebut Ibu Kota Sanaa pada September 2014.

Pasukan koalisi pimpinan Saudi terdiri dari negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, bersama dengan Mesir, Yordania, Maroko, dan Sudan. Namun partisipasi Mesir dalam perang di Yaman sangat kecil dan terbatas.

Pada tahun 1962, Mesir juga ikut melakukan intervensi militer di Yaman sebagai upaya mendukung kudeta yang bertujuan menggulingkan monarki negara itu.

Mesir dan Yaman berbeda sikap dalam sejumlah isu, salah satunya soal Suriah. Mesir mendukung Rusia yang merupakan sekutu rezim Bashar al-Assad, sementara itu Arab Saudi mendukung AS dan sekutunya.

Bagi Mesir, isu Suriah sepenuhnya adalah persoalan internal dan tidak dapat diselesaikan dengan intervensi asing.

Artikel Selanjutnya
Militer Suriah Hancurkan Blokade ISIS di Deir al-Zour
Artikel Selanjutnya
Gelombang Pengungsi Rohingya Terus Mengalir ke Bangladesh