Sukses

Serangan AS Akan Dibalas Aksi Penculikan Warga Barat oleh Korut?

Liputan6.com, Seoul - Korea Utara diam-diam melatih pasukan khusus untuk menculik warga Barat dari Korea Selatan. Demikian klaim seorang pembelot Korut Ung-gil Lee.

Menurutnya, jika Amerika Serikat menyerang Korut maka regu penculik bersenjata akan menerobos perbatasan Korsel untuk menculik diplomat, wisatawan, dan pengusaha asing. Ung-gil yang membelot ke Korsel setelah bertugas selama enam tahun di salah satu unit pasukan khusus lebih lanjut menekankan bahwa korban penculikan tidak akan selamat.

Korut memiliki sejarah penculikan terhadap warga negara asing. Pada tahun 1970-an bintang film terkemuka Korsel Choi Eun-hee dan Shin Sang-ok, produser dan sutradara ditawan setelah mereka membuat film yang menggambarkan kekejaman rezim Korut. Tujuh tahun kemudian mereka berhasil kabur.

Pengakuan Ung-gil ini muncul di tengah situasi panas di Semenanjung Korea. Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah berjanji akan "menangani" Korut sendiri jika China enggan membantu.

AS telah mengirimkan armada kapal induk USS Carl Vinson ke Semenanjung Korea. Langkah ini direspons Kim Jong-un dengan peringatan, Korut siap membalas berbagai mode perang yang diinginkan AS.

Ung-gil merupakan mantan kopral di Korps 11th Storm. Ia mengklaim mantan rekan-rekannya telah dilatih untuk melancarkan serangan teror gaya ISIS. Pria berusia 37 tahun itu memperingatkan Trump, bahwa Jong-un akan memberikan respons berbeda dari yang ditunjukkan oleh Presiden Suriah Bashar al-Assad pasca-serangan rudal Tomahawk AS.

"Dia (Jong-un) akan melawan dan menggunakan semua opsi tindakan balasan. Kecuali Trump benar-benar berpikir bisa menyingkirkan dia, maka sebaiknya dia tidak melancarkan serangan," ujar Ung-gil kepada Mail on Sunday seperti dilansir Daily Mail, Senin, (17/4/2017).

Ung-gil menceritakan bahwa ia bergabung dengan pasukan khusus Korut pada usia 17 tahun setelah sebelumnya mengalami "cuci otak" selama satu tahun. Setidaknya, ia digembleng lima tahun sebagai petugas komunikasi.

Korut diperkirakan memiliki 200.000 anggota pasukan khusus yang terdiri dari pria dan wanita di mana 140.000 di antaranya berada di kelompok infanteri dan 60.000 lainnya di Korps 11th Storm. Mereka dikenal karena pelatihannya yang ekstrem, mencakup adu tinju sebelum makan malam setiap malam, meninju pohon, dan berenang di laut beku.

Unit pasukan elite ini juga dilatih untuk menyusup ke Korut melalui udara, laut, dan jaringan terowongan yang dibangun oleh para pekerja paksa. Ung-gil mengaku ia merupakan bagian dari kelompok udara dan darat di mana tugas mereka adalah menghancurkan infrastruktur, menganggu jalan-jalan dan pelabuhan, serta menculik warga negara asing.

"Kami akan menyelinap ke Korsel, menyamar dengan pakaian, pergi ke wilayah di mana banyak orang asing dan menculik beberapa dari mereka. Kami hafal lokasi, nomor telepon, dan plat mobil kedutaan," terang Ung-gil.

Kelompoknya juga diajarkan untuk menghafal rincian tentang sistem telepon seluler dan dipersenjatai dengan racun saraf dan senjata konvensional.

"Saya membawa neostigmine bromide dan potasium sianida. Mereka yang terkena obat ini akan mati layaknya menderita serangan jantung. Ini dibawa untuk menyerang atau melakukan aksi bunuh diri," ungkap pria yang kini berprofesi sebagai penasihat keuangan di Seoul.

Neostigmine bromide, lima kali lebih mematikan dibanding potasium sianida. Agen Korut sebelumnya telah menggunakan senjata kecil atau pena beracun dalam pembunuhan seorang diplomat Korsel dan upaya pembunuhan seorang pembangkang.

"Ini merupakan misi bunuh diri. Jelas kami harus kembali, jika tidak, kami harus bunuh diri," imbuhnya.

Korut memiliki 1,2 juta tentara dan nyaris delapan juta tentara cadangan. Sementara Korsel memiliki setengah dari jumlah tersebut, namun dengan catatan persenjataan yang jauh lebih baik ditambah dukungan 28.500 pasukan AS.

Ung-gil juga mengisahkan selama menjalankan tugas militernya ia meyakini misinya adalah melindungi dinasti Korut yang dibayangi ancaman Korsel dan AS. Namun keyakinannya memudar setelah ia menonton film asing hasil selundupan. Seketika doktrin yang ditanamkan padanya hilang.

"Film Amerika yang pertama saya tonton adalah Saving Private Ryan. Saya terkesima. Saya diajarkan bahwa hanya kami (Korut) yang memiliki persaudaraan dan kehormatan, namun saya lihat orang Amerika punya rasa cinta, humor, dan persaudaraan yang tinggi. Saya mulai berpikir bahwa semua yang diajarkan di militer palsu," tutur pria itu.

Pada satu titik, ia bersedia mati bagi Korut. Namun semakin tahu ia tentang rezim, semakin marah pula ia.

"Merupakan hal benar untuk menyebut Korut sebagai bagian dari Poros Setan. Pemimpinnya lebih buruk dari seluruh kombinasi diktator di Libya, Irak, dan Suriah," imbuhnya.

Artikel Selanjutnya
Indonesia Kecam Serangan Teror Van Maut di Barcelona
Artikel Selanjutnya
Serangan Brutal ke Pangkalan Pasukan PBB di Mali, 7 Orang Tewas