Sukses

Perang Bintang dalam Pilpres Iran 2017

Liputan6.com, Teheran - Bursa pemilihan presiden Iran kian meriah seiring dengan masuknya nama Mohammad Hashemi Rafsanjani dalam jajaran kandidat calon presiden.

Ia merupakan saudara dari mantan Presiden Iran tahun 1989-1997 yang juga politikus sangat berpengaruh di negara itu, mendiang Akbar Hashemi Rafsanjani.

Seperti dilansir Sputnik News yang mengutip Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), Senin, (17/4/2017), Hashemi mendaftarkan diri pada Sabtu waktu setempat bertepatan dengan hari terakhir pendaftaran. Sosoknya pernah memegang sejumlah posisi penting.

Pada tahun 1984 hingga 1994, Hashemi bertanggung jawab atas IRIB. Selama kepemimpinan saudaranya, ia menjabat sebagai wakil presiden untuk urusan eksekutif.

Dan sejak tahun 1997, Hashemi yang berusia 75 tahun itu telah menjadi anggota Dewan Penegasan Kemanfaatan Iran yang memainkan peran sebagai penasihat bagi Pemimpin Tertinggi.

Sebelumnya, pada Jumat lalu, calon petahana Presiden Iran Hassan Rouhani (68) yang masa jabatannya akan berakhir pada 3 Agustus juga mendaftarkan diri untuk bertarung dalam pilpres.

"Sekali lagi, saya di sini untuk Iran, untuk Islam, untuk kebebasan, dan untuk mencapai stabilitas yang lebih baik bagi negara ini. Saya mendesak seluruh rakyat untuk memilih demi Iran dan demi Islam," ujar Rouhani seperti dilansir Euronews.

Sederet nama tokoh di negara itu seperti mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, mantan Wapres Hamid Baghaei, dan mantan Sekretaris Kabinet Masoud Zaribafan juga ikut "nyapres".

Adapun nama mantan Jaksa Agung yang juga dikenal sebagai ulama konservatif Ebrahim Raisi juga telah mendaftarkan diri sebagai kandidat capres. Sama halnya pula dengan Mohammad Bagher Ghalibaf yang merupakan Wali Kota Teheran.

Menurut media lokal, setidaknya terdapat lebih dari 1.000 orang yang mendaftarkan diri untuk maju dalam pilpres. Nantinya, nama-nama tersebut akan diseleksi oleh Dewan Wali Iran.

Pilpres Iran dijadwalkan akan berlangsung pada 19 Mei. Kandidat yang mendapat dukungan lebih dari 50 persen, kelak akan memimpin Negeri Para Mullah tersebut.

Artikel Selanjutnya
AS: Korea Utara Mengemis untuk Perang
Artikel Selanjutnya
2-9-1945: Jepang Menyerah, Momentum Berakhirnya Perang Dunia II