Sukses

Donald Trump Mengincar Pundi-Pundi Uang dari Bulan?

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan 'mengincar' Bulan. Miliarder nyentrik itu sedang mempertimbangkan potensi menghasilkan uang dari kegiatan menambang satelit Bumi itu.

Hal tersebut terungkap dari komunikas internal antara tim transisinya atau Agency Review Team (ART) dengan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Sejak menduduki kursi orang nomor satu di Gedung Putih, Trump memangkas anggaran dari sejumlah lembaga lingkungan -- kecuali NASA yang bahkan dananya diperbesar.

"Diduga itu karena pemerintahannya tertarik dengan potensi NASA sebagai penghasil uang," demikian dilaporkan media Motherboard, seperti dikutip dari News.com.au, Sabtu (15/4/2017).

Komunikasi internal antara tim Trump dengan NASA, yang diunggah Motherboard, menunjukkan Gedung Putih melontarkan pertanyaan pada NASA tentang potensi komersialisasi Bulan.

Secara spesifik, tim transisi mengajukan pertanyaan tentang proses yang dilalui NASA terkait upaya menghasilkan produk komersial, dengan melibatkan pihak industri, meneliti bahan mentah yang terkandung di Bulan dan mengevaluasi potensi untuk menambangnya.

Dan apa jawaban NASA?

 Jawaban NASA soal potensi eksplorasi menambang sumber daya di Bulan (NASA)

 

Kepada tim transisi, NASA berulang kali menegaskan bahwa kerja utamanya adalah terkait ilmu pengetahuan atau ilmiah, terutama fokus untuk memperluas penelitian dan eksplorasi, yang tak bisa dicapai sektor swasta.

Meski demikian, menurut badan antariksa itu, bukan berarti lembaga tersebut tak melibatkan sektor swasta. 

"Proses transfer teknologi yang tepat untuk sektor industri dan komersial dilakukan dalam berbagai program, dan dengan pendekatan yang menguntungkan pengguna seluas mungkin -- yang memastikan seluruh bangsa menyadari nilai ekonomi penuh dan manfaat sosial dari inovasi tersebut," demikian kutipan jawaban NASA.

Donald Trump mempertimbangkan penambangan sumber daya di Bulan (NASA)

 

Badan antariksa terkemuka di dunia tersebut juga mendukung gagasan komersialisasi angkasa tersebut.

"NASA membayangkan masa depan di mana orbit Bumi rendah sebagian besar merupakan domain dari kegiatan komersial,” tulis lembaga tersebut.

Faktanya, sumber daya Bumi yang paling berharga kian menyusut. Karenanya, pertambangan di luar planet manusia menjadi solusinya.

Asteroid, misalnya. Batu angkasa tersebut diyakini menjadi sumber logam berharga seperti emas, platinum, bahkan berlian.

Sementara, Bulan punya cadangan besar 'mineral yang langka di Bumi' -- yang digunakan dalam ponsel, tablet, televisi layar datar, obat-obatan, turbin angin, serta bisa digunakan teknologi lainnya juga aplikasi militer.

Pada 2015, Presiden Amerika Serikat Barack Obama menandatangani UU kontroversial yang memberikan kepada perusahaan-perusahaan AS kepemilikan hukum dari bahan yang mereka ekstraksi dari asteroid -- yang memicu spekulasi 'perburuan emas' akan segera berlangsung di luar Bumi.

Ilustrasi OSIRIS-REx saat mengambil sampel di permukaan asteroid Bennu (NASA)

 

Salah satu perusahaan AS, Planetary Resources didukung oleh dua eksekutif Google, Larry Page dan Eric Schmidt.

Sementara, pendiri Virgin, Richard Branson telah meluncurkan satelit pertamanya dari Stasiun Antariksa Internasional atau International Space Station (ISS) untuk menguji teknologi yang bisa diterapkan di asteroid pada masa depan.

Di sisi lain, mereka yang mengkhawatirkan efek negatif eksplorasi dan eksploitasi sumber daya di luar Bumi untuk kepentingan komersial, menunjuk International Space Treaty 1967 sebagai dasar penolakan.

Perjanjian Angkasa yang digagas PBB di tahun 1967 tersebut melarang negara-negara atau entitas lain mengklaim properti di luar angkasa. 

Artikel Selanjutnya
Bujet Skincare Presiden Prancis Emmanuel Macron Rp 400 Juta
Artikel Selanjutnya
Bos Zara Sukses Geser Bill Gates Jadi Orang Terkaya Sedunia