Sukses

Inikah Lawan Kuat Presiden Petahana Iran dalam Pilpres 19 Mei?

Liputan6.com, Teheran - Iran dihadapkan pada musim pemilu presiden yang 'panas' setelah seorang ulama konservatif berpengaruh mengumumkan pencalonan dirinya untuk menantang petahana yang berasal dari kalangan moderat, Hassan Rouhani.

Pendaftaran resmi untuk pilpres Iran dijadwalkan berlangsung pada 19 Mei akan dimulai pada Selasa waktu setempat, namun pengumuman mendadak Ebrahim Raisi untuk mencalonkan diri cukup mengejutkan publik.

Sosok Raisi dikenal dekat dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Dalam pengumumannya seperti yang dilansir The Guardian, Senin, (10/4/2017), Raisi menyatakan, ia enggan mencalonkan diri. Namun keputusan untuk 'bertarung' diambilnya dengan pertimbangan 'tanggung jawabnya atas agama dan revolusi'.

Selama bertahun-tahun, nama Raisi telah disebut-sebut sebagai penerus Khamenei. Langkahnya terjun ke pilpres 2017 telah memicu kebingungan para pengamat politik.

Empat pendahulu Rouhani, semuanya menjabat dua periode berturut-turut. Namun kemungkinan Rouhani akan mendapat kesempatan yang sama tidak mudah menyusul kemunculan Raisi.

Ada pula kekhawatiran serius tentang upaya mendiskualifikasi Rouhani. Jika benar terjadi, peristiwa ini ditakutkan akan memicu reaksi serius.

Sebuah pernyataan yang dirilis pada Minggu di situs resmi Raisi mengumumkan, ia bertekad untuk mengatasi masalah ekonomi Iran.

"Rakyat masih menderita masalah struktural dan salah urus yang kronis di mana hal ini mencegah pemerintah merespons tuntutan masyarakat dan memenuhi tujuan konstitusional," demikian pernyataan Raisi.

"Tidak bisakah kita menyelesaikan masalah seperti resesi, pengangguran, dan hambatan di dunia bisnis? Saya sangat percaya bahwa situasi ini bisa berubah," imbuh pernyataan tersebut.

Sebuah kelompok konservatif berpengaruh di Iran, yang beroperasi di bawah payung koalisi Popular Front of Islamic Revolution Forces atau Jamna mengadakan konferensi yang menghasilkan nama Raisi sebagai kandidat terfavorit. Adapun tokoh lainnya yang masuk bursa pencalonan adalah Wali Kota Teheran Mohammad-Bagher Ghalibaf.

Sementara itu, mantan presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang telah diblokir oleh Khamenei untuk mencalonkan diri kembali secara resmi menyatakan dukungannya terhadap mantan wakilnya, Hamid Baghaei.

Baghaei sendiri ditangkap tahun 2015 lalu dan tidak diketahui apakah ia akan diizinkan untuk maju dalam pilpres. Seluruh kandidat presiden harus diperiksa lebih dulu oleh The Guardian Council atau Dewan Wali Iran -- sebuah lembaga negara beranggotakan 12 orang yang terdiri dari para ulama dan ahli hukum.

Kaum reformis yang absen dalam beberapa tahun terakhir dikabarkan mendukung Rouhani. Mantan Presiden Mohammad Khatami, pemimpin gerakan reformis yang dilarang diliput media disebut-sebut mengisyarakatkan sosok Rouhani merupakan calon favorit kubu reformis.

Raisi (56) merupakan pengelola Astan Quds Razavi, sebuah badan amal terkaya di dunia muslim dan organisasi yang bertanggung jawab atas tempat suci di Iran. Karier Raisi sendiri terhitung cepat. Pada musim panas tahun 1988, ia tercatat sebagai salah satu dari empat hakim syariah yang memutuskan eksekusi massal terhadap kelompok kiri dan pembangkang.

Mohammad Taghi Karroubi, seorang analis politik Iran yang juga anak dari salah seorang tokoh oposisi Mehdi Karroubi mengatakan, pemilu Mei mendatang penting karena 'siapapun yang menang tidak diragukan lagi akan berperan dalam penunjukan pemimpin tertinggi berikutnya'.

"Itu sebabnya banyak yang berpikir untuk memblokir Rouhani karena tanpa kehadirannya mereka akan punya kuasa untuk memilih pemimpin berikutnya ketika saatnya tiba. Itulah kenapa saya khawatir Rouhani akan didiskualifikasi," ungkap Karroubi.

Karroubi menjelaskan berbagai skenario telah coba ditelisik tentang pencalonan Raisi ini. Satu teori mencuatkan kemungkinan ia ikut pilpres untuk meningkatkan pamornya demi kelancaran suksesi pemimpin tertinggi.

Beberapa lainnya yang meyakini bahwa pilihan Raisi untuk mencalonkan diri akan meningkatkan kemungkinan diskualifikasi Rouhani mengingat tokoh moderat itu lebih populer dibanding Raisi.

"Raisi tidak datang untuk kalah dengan mudah," tegas Karroubi.

Pengamat menilai, jika Raisi mencalonkan diri dan kalah maka itu akan membunuh peluangnya untuk menggantikan Khamenei.

Artikel Selanjutnya
Yusril: Hanya PBB dan PKPI yang Bisa Gugat Presidential Threshold
Artikel Selanjutnya
Pertama dalam Sejarah, MA Kenya Batalkan Hasil Pilpres