Sukses

4 Mitologi Ular dalam Sejarah Peradaban

Liputan6.com, Jakarta - Ular bisa dilihat sebagai perlambang mitologi tertua dan paling sering dipakai di dunia. Ada banyak mitos tentang hewan itu dalam berbagai agama dan budaya.

Tafsiran-tafsiran tentang ular pun sangat banyak. Yang jelas, ular merupakan perlambang yang digdaya dan ular kerap dianggap sebagai pencipta atau pembinasa.

Dikutip dari Ancient Origins pada Selasa (4/4/2017), ular dalam sejumlah mitos dipercaya melahirkan planet-planet dan dewa-dewa, sekaligus melambangkan keabadian.

Ular pun dipandang sebagai penjaga dunia di bawah sana dan menjadi misteri-misteri suci, serta menyebarkan kebijaksanaan selama berabad-abad.

Berikut ini adalah sejumlah penggambaran tak biasa tentang ular di dalam berbagai mitos peradaban dunia:

1 dari 5 halaman

1. Ouroboros, Ular Abadi

Gambaran yang biasa dipakai untuk melambangkan hewan melata ini adalah seekor ular yang menggigit ekornya sendiri. Gambaran ini merupakan cara pandang purba tentang keabadian, kebakaan, dualitas Yin-Yang, dan siklus yang berulang.

Ular itu bukan sekedar simbol keagamaan tentang kembalinya yang abadi, tapi juga tercantum dalam citra psikologi atau terapi dan berkaitan dengan caduceus, lambang dunia kedokteran yang menampilkan tongkat bersayap dengan dua ular yang saling membelit.

Caduceus. (Sumber Wikipedia/Rama dan Eliot Lash)

2 dari 5 halaman

2. Ular Berjenggot

Ular berjenggot adalah citra yang ganjil, tetapi berulang di setiap budaya dan masa. Ular tidak memiliki bulu atau rambut, sehingga tentunya tidak dapat memiliki jenggot. Namun, gambaran ular berjenggot terus muncul.

Gambaran ular-ular berjenggot paling lazim beredar di kalangan Yunani Kuno dan Romawi Kuno. Gambar ular berjenggot yang dipasang di rumah-rumah melambangkan roh penjaga.

3 dari 5 halaman

3. Ular Terbang

Bagi beberapa orang, membayangkan ular beterbangan dan jatuh dari langit terdengar mengerikan. Meski demikian, kisah tentang ular-ular terbang ada dari zaman dulu hingga sekarang. Misalnya penyebutannya dalam kitab Yesaya di Perjanjian lama.

Dewa ular bersayap juga dikenal dalam budaya Mesoamerika purba. Dewa Quetzalcoatl dikaitkan dengan angin, pembelajaran, dan pengetahuan.

Jerome Clark pernah menulis dalam Fortean Times tentang ular-ular terbang di Amerika Serikat hingga 1890-an, mengacu kepada pengakuan penebang pohon di California pada 1882 yang mengaku melihat mahluk terbang seperti buaya yang melayang 12 meter di atas puncak-puncak pohon.

Chrysopelea paradisi, ular terbang di Asia Tenggara. (Sumber Wikimedia)

Sebenarnya memang ada ular yang bisa melayang, misalnya ular chrysopelea yang hidup di hutan-hutan hujan Asia Tenggara. Caranya hinggap di antara puncak-puncak pohon adalah dengan menarik bagian perut dan melebarkan tubuhnya.

4 dari 5 halaman

4. Ular Samudra

Kisah-kisah para pelaut kaya dengan cerita tentang ular-ular laut misterius dan berbahaya atau ular raksasa yang membahayakan awak dan kapal, bahkan dalam cerita-cerita dari ratusan tahun lalu.

Mitologi Nordik yang terkenal menyebutkan adanya Jörmungandr, seekor ular laut yang sedemikian besarnya, sehingga ia bergelayut mengelilingi dunia untuk bisa menggigit ekornya sendiri.

Keberadaan monster berleher panjang dengan punuk di punggung yang berasal dari Danau Loch Ness Skotlandia atau biasa disebut monster nessie ini hingga kini terus menjadi misteri.(Wikipedia)

Versi modern kisah ular laut misalnya tentang Loch Ness di Skotlandia. Di Jepang ada mahluk yang dijuluki 'Pembawa Pesan dari Istana Dewa Laut' berwarna keperakan dengan panjang sekitar 15 meter yang hidup 3000 kaki di bawah permukaan laut.

Mahluk itu jarang terlihat, tapi hikayat tradisional menyebutkan bahwa para pembawa pesan itu muncul ke permukaan untuk memperingatkan datangnya gempa bumi.

Artikel Selanjutnya
Situs Prasejarah 17.000 Tahun Ini Diyakini sebagai Gerbang Neraka
Artikel Selanjutnya
Gadis Cantik Berenang dengan Piton Raksasa, Apa yang Terjadi?