Sukses

Kanibal di Papua hingga UFO, Ini 10 Misteri di Balik Hutan Rimba

Liputan6.com, Jakarta - Selama bertahun-tahun, misteri hutan-hutan di Bumi telah mengundang penasaran dan rasa takut manusia. Selalu ada saja hal yang belum terjelaskan di balik rerimbunan pohon.

Namun demikian, hal itu tidak menyurutkan minat manusia untuk menjelajahinya. Misalnya karena ingin mencari kota-kota yang hilang maupun mencari harta karun yang disebut-sebut tersembunyi di dalamnya.

Dikutip dari listverse.com pada Senin (3/4/2017), sampai sekarang pun masih banyak hutan yang menjadi rahasia, masih luas wilayahnya yang harus dijelajahi, suku-suku yang harus dicari, atau mahluk-mahluk yang harus dicatat.

Berikut ini adalah sejumlah misteri yang masih menyelimuti hutan-hutan di dunia:

1 dari 11 halaman

1. Cincin-cincin Amazon

Dalam hutan Amazon di Brasil ada sejumlah parit berbentuk cincin bertebaran di sana dan sudah ada sebelum hutan itu sendiri. Cincin-cincin itu masih menjadi misteri hingga sekarang dan para ahli arkeologi belum bisa menjelaskan keberadaannya.

Ada dugaan bahwa cincin-cincin itu menjadi kawasan pemakaman purba atau sebagai bentuk pertahanan diri, tapi tidak seorang pun yang bisa memastikan.

Teori yang lebih nyeleneh lagi menyebutkan cincin-cincin itu sebagai tempat pendaratan UFO sejak sebelum tumbuhnya hutan tersebut.

Tampilan itu serupa dengan garis-garis Nazca yang juga belum bisa dijelaskan, tapi diduga diciptakan oleh para penduduk mula-mula yang mendiami daerah itu.

Pertanyaan selanjutnya adalah jenis perkakas yang dipakai untuk menciptakan cincin-cincin tersebut.

Belum ada jawaban tentang hali itu karena belum ada bukti adanya perangkat yang cukup canggih untuk membuat cincin-cincin pada masa pembuatannya.

2 dari 11 halaman

2. Maricoxi

Sampai sekarang pun masih banyak hutan yang menjadi rahasia, masih luas wilayahnya yang harus dijelajahi,, dan suku-suku yang harus dicari. (Sumber iStock via listverse.com)

Mahluk Maricoxi di Amerika Selatan dilaporkan seperti mahluk serupa kera berukuran besar yang ketika berdiri bisa mencapai tinggi sekitar 3,7 meter. Walau tampilannya primitif, mahluk itu diduga cukup cerdas, mampu menggunakan busur dan panah, serta tinggal di desa-desa.

Menurut penjelajah Inggris bernama Kolonel Percival H. Fawcett yang diduga berpapasan dengan mahluk-mahluk itu ketika melakukan pemetaan hutan-hutan Amerika Selatan pada 1914, mahluk-mahluk sangat berbulu itu tinggal di arah utara pemukiman suku Maxubi.

Mereka berbicara dengan geraman dan sangat memusuhi manusia. Dalam buku "Lost Trails, Lost Cities" garapannya, penjelajah itu memaparkan bagaimana ia dan kelompoknya nyaris diserbu ketika mendekati desa-desa mereka. Tapi, rombongan penjelajah berhasil menghalau serangan dengan tembakan-tembakan ke arah kaki para penyerbu yang kemudian lari tunggang langgang.

Pada 1925, Fawcett dan kelompoknya hilang ketika sedang melakukan ekspedisi mencari sebuah kota yang hilang. Sejumlah teori menduga mereka dibunuh oleh suku-suku setempat atau mati kelaparan. Tapi ada juga beberapa pandangan yang menyebutkan mereka dibunuh oleh Maricoxi walaupun belum ada bukti pendukung pandangan tersebut.

3 dari 11 halaman

3. Penduduk Sentinel

Suku Sentinel adalah suku paling terpencil di Bumi. Mereka berdiam di dalam hutan di Pulau Sentinel Utara di Samudra Hindia dan diduga sudah ada di sana selama 60 ribu tahun lamanya.

Mereka mengusir semua upaya dunia Barat untuk merangkulnya dan disebut-sebut membunuh orang-orang yang datang terlalu dekat. Bahasanya pun tidak dikenal dan mereka mengusir tim-tim peneliti menggunakan panah dan tombak.

Suku itu diduga memiliki lebih dari 500 warga dan masih hidup dengan amat baik dengan kepandaian menciptakan perangkat logam dan seperti nya dalam keadaan sehat.

Yang menjadi misteri adalah cara mereka berhasil menyintas tsunami 2004 yang melumatkan sebagian besar Kepulauan Andaman. Suku itu telah diduga punah karena berada langsung di jalur serbuan tsunami.

Segera setelah tsunami, sebuah helikopter terbang amat rendah di atas pulau itu untuk mencari tanda-tanda kehidupan. Di luar dugaan, seorang pria Sentinel keluar dari hutan menuju pantai sambil mengayunkan tombak dan mengusir helikopter tersebut.

Hebatnya, ketika tsunami tersebut berdampak kepada jutaan warga lain, suku Sentinel sanggup menyintas tanpa bantuan dari dunia luar sama sekali. Belum ada yang mengetahui bagaimana cara mereka melakukan itu.

4 dari 11 halaman

4. Bola Batu Prasejarah

Ada ratusan batu bulat raksasa bertebaran di seantero hutan Costa Rica. Batu-batu itu diduga dibangun oleh manusia-manusia prasejarah dan telah membingungkan para ilmuwan dan ahli arkeologi terkait tempat keberadaannya maupun cara pembuatannya.

Diameter bola-bola itu bisa mencapai 2,4 meter dan bentuknya hampir bulat sempurna. Ada dugaan bahwa penciptaannya terkait dengan upacara-upacara keagamaan, tapi belum cukup bukti untuk mendukung pandangan itu.

Hingga sekarang masih belum jelas bagaimana batu-batu bisa berada di sana, atau bagaimana caranya manusia prasejarah membentuknya hanya dengan alat-alat bantu sederhana.

Misteri juga menyelimuti alasan dibawanya batu-batu itu ke atas perbukitan dan menembus hutan yang rimbun ditimbuhi pepohonan. Apalagi karena segala sumberdaya pembangunan batu-batu itu tidak bisa ditemukan beberapa kilometer di sekitar lokasi keberadaannya sekarang.

5 dari 11 halaman

5. Sungai Mendidih

Di tengah jantung Amazon Peru, ada sebuah sungai yang membunuh semua yang tercebur ke dalamnya. Suhu sungai itu bisa mencapai 93 derajat Celcius dan terkadang terlihat uap panas di permukaannya.

Belum ada kepastian cara terjadinya gejala tersebut, tapi suatu hipotesis menyebutkan adanya sebuah perusahaan pengeboran yang tidak sengaja menembus sistem geotermal sehingga melepaskan gas dari dalam perut Bumi ke sungai itu.

Menurut penduduk setempat, sungai itu adalah tempat berdiamnya kekuatan spiritaual sehingga mereka kerap berhimpun di tepi-tepinya untuk bersenandung dan berdoa. Gemuruh sungai dan penampakannya memang luar biasa.

6 dari 11 halaman

6. Hilangnya Kota Para Raksasa

Sebuah kota yang hilang jauh di dalam hutan Ekuador terkuak pada 2012, tapi diduga bukan kota purba biasa dan dikenal sebagai "Kota Hilang Para Raksasa". Kala itu, sekelompok penjelajah ditemani oleh beberapa penduduk sekitar yang mengenal daerah itu dan yakin akan keberadaan kota itu di masa lalu.

Menurut sejumlah laporan, ketika tiba di sana, para penjelajah menemukan serangkaian struktur-struktur piramida berukuran sebesar 79 meter x 79 meter, tapi dengan bentuk yang tidak biasa. Puncak piramida itu datar dan dipoles mengkilap sehingga diduga menjadi altar tumbal.

Ukuran bangunan-bangunan itulah yang menjadi alasan pemberian nama kota. Banyak ahli arkeologi menduga kota itu memang dibangun dan didiami oleh para raksasa, walaupun masih ada saja yang memandang hal itu dengan skeptis.

Lebih dari sekedar bangunan-bangunan, yang lebih mencengangkan lagi adalah temuan perkakas dan artefak di sana. Ukuran-ukuran perkakas yang ditengarai ditemukan di sana amat besar sehingga bahkan diduga tidak dapat dipakai oleh manusia.

Tim yang menemukan kota tersebut menduga bahwa perkakas-perkakas itu merupakan bukti penting bahwa jauh di masa lalu para raksasa hidup di Bumi.

7 dari 11 halaman

7. Kepala Batu di Guatemala

Pada 1950-an ditemukan patung raksasa kepala batu di hutan-hutan Guatemala. Wajahnya memiliki tampilan tidak biasa, misalnya bibir tipis dan hidung mencuat serta mengarah ke langit.

Tampilan demikian lebih mirip pria Kaukausus dan tidak mirip dengan karya-karya seni lain pada masa itu, apalagi karena kontak dengan manusia Kaukasus (ras kulit putih) belum ada pada saat itu.

Beberapa tahun setelah temuan awalnya, Dr. Oscar Padilla yang gandrung pada filsafat serta sejarah purba mengaku menemukan patung itu telah dihancurkan oleh pasukan pemberontak anti-pemerintah yang menggunakannya sebagai sasaran latihan tembak.

Kisah patung batu itu merebak lagi setelah tayangan dokumenter "Revelations of the Mayans: 2012 and Beyond." Para pembuatnya mengaku bahwa foto-foto yang ada membuktikan sapaan mahluk-mahluk luar bumi (extraterrestrial) pada peradaban-peradaban kuno.

Selama pembuatan dokumenter, seorang ahli arkeolopgi Guatemala bernama Hector E. Majia mengatakan melalui wawancara, "Saya menyatakan bahwa monumen ini tidak menampilkan karakteristik peradaban-peradaban Maya, Nahuatl, Olmec atau peradaban pra-Hispanik lainnya."

"Monumen itu diciptakan oleh peradaban luar biasa dan superior dengan pengetahuan hebat yang tidak tercatat ada di planet ini."

Daerah temuan kepala itu terkenal dengan patung-patung kepala batu, tapi tidak ada satupun yang mirip dengan yang ditemukan Dr. Padilla. Patung kepala itu mengundang banyak pertanyaan tentang tempat keberadaan dan pembuatnya.

8 dari 11 halaman

8. Hilangnya Michael Rockefeller

Sampai sekarang pun masih banyak hutan yang menjadi rahasia, masih luas wilayahnya yang harus dijelajahi,, dan suku-suku yang harus dicari. (Sumber President and Fellows of Harvard University; Peabody Museum of Archeology and Ethnology)

Michael Rockefeller, putra Nelson Rockefeller yang pernah menjadi Wakil Presiden Amerika Serikat, hilang secara misterius pada 1961 ketika mencari karya seni suku di hutan-hutan Papua Nugini.

Mahasiswa berusia 23 tahun itu memang gemar menjelajah dan senang bepergian. Saat melakukan perjalanan pengumpulan karya-karya seni suku itu, ia telah mengunjungi 13 desa suku.

Dalam ekspedisi, perahu Michael terbalik sehingga ia dan rekannya yang bernama Rene Wassing terjebak 16 kilometer jauhnya dari pantai. Rockefeller memutuskan berenang ke tepi dan mencari bantuan.

Tak ada yang mengetahui apakah Michael berhasil mencapai tepian sehingga muncul beragam teori. Ada beberapa pihak yang menduga ia tenggelam ketika sedang berenang ke tepi, ada juga teori yang menyebutkan ia berhasil tiba di tepian tapi dibunuh secara keji dan disantap oleh suku Asmat.

Keluarga Rockefeller memulai investigasi terkait hilangnya Michael, tapi mengaku tidak menemukan apapun.

Misteri kehilangannya masih diperbincangkan hingga sekarang dan lebih banyak pihak cenderung menduga Michael berhasil tiba di pantai tapi disantap oleh suku Asmat di kampung mereka.

9 dari 11 halaman

9. Alien Hutan Hujan Amazon

Pada 2011, dua wisatawan Inggris mengunjungi kawasan Mamaus di Brasil dan tidak sengaja mengambil gambar sosok yang diduga mahluk angkasa luar. Sosok itu dikenali di latar belakang oleh seorang penulis paranormal terkenal Michael Cohen.

Bentuk sosok itu tidak seperti bentuk kehidupan apapun yang dikenal manusia, tapi berbentuk seperti manusia. Yang lebih mencengangkan, daerah itu memang terkenal sering ada penampakan UFO sehingga diduga alien tertarik kepada keragaman hayati di sana.

Kawasan itu juga menjadi sasaran investigasi Operasi Prato, suatu operasi tingkat tinggi oleh pemerintah Brasil. Pihak Angkatan Bersenjata dikirim untuk memantau keberadaan alien di kawasan itu. Operasi itu dirahasiakan oleh pemerintah selama beberapa tahun hingga rahasia itu akhirnya dibuka.

Michael Cohen telah dihubungi oleh para produser Hollywood yang meminta menggunakan bukti itu dan cuplikan rekaman sedang akan dipakai dalam sebuah film mendatang.

10 dari 11 halaman

10. Parasit Pemakan Daging

Pada 2011, suatu tim penjelajah menemukan kota legendaris Kota Hilang Dewa Moneyt di hutan La Mosquiita, Honduras. Kota itu diduga telah ditinggalkan bangsa Aztec pada 1520 setelah meluasnya wabah penyakit pemakan daging.

Kota itu pun tak tersentuh hingga kemudian ditemukan lagi. Para penduduk percaya bahwa kota itu dikutuk oleh para dewa yang mengirim wabah untuk membinasakan mereka.

Di antara tim penjelajah ada Douglas Preston, seorang penulis dan penjelajah terkenal yang menulis tentang temuan tim itu. Temuan itu sendiri cukup mencengangkan, tapi yang lebih mengagetkan lagi adalah bahwa tim itu kemudian tersadar mereka juga telah mengidap penyakit pemakan daging tersebut. Mereka memerlukan perawatan segera dan hampir saja kehilangan wajah.

Preston menjelaskan melalui wawancara, "Parasit itu pindah ke selaput lendir dalam mulut dan hidung, lalu mulai memakannya. Hidung bisa copot, mulut bisa copot, dan wajah jadi seperti luka besar yang menganga."

Ketika melakukan ekskavasi kota, kelompok itu juga bertemu dengan ular-ular berbisa yang berhasil masuk ke perkemahan di malam hari. Tim itu nyaris terkena bisa mematikan.

Mereka mengambil sejumlah artefak dan memutuskan untuk tidak kembali lagi ke kota itu karena merasa terlalu berbahaya walaupun yakin masih banyak rahasia yang bisa diungkap.

Artikel Selanjutnya
Terkuak, Misteri Kematian Mumi 1.100 Tahun Bersepatu 'Adidas'
Artikel Selanjutnya
Kap Dwa, Makhluk Misterius Berkepala Dua Setinggi 3,5 Meter