Sukses

10 Trik Kaum Yahudi Bertahan Hidup dari Pembantaian Nazi

Liputan6.com, Jakarta - Holocaust adalah sebuah episode paling kelam di tengah Perang Dunia II. Pembantaian atau genosida dilakukan khususnya terhadap enam juta Yahudi. Pembunuhan sistematis tersebut didukung Nazi yang dipimpin Adolf Hitler.

Pembantaian juga dilakukan terhadap target lain, termasuk orang Rom, komunis, tawanan perang, warga Polandia dan Uni Soviet, homoseksual, orang dengan disabilitas, pengikut Saksi Yehova, serta musuh politik dan keagamaan lainnya. Diperkirakan keseluruhan korban Holocaust Nazi mencapai 11 hingga 17 juta jiwa.

Sebagian dari korban berhasil bertahan hidup. Ada yang diselamatkan oleh Oskar Schindler, seorang pengusaha Jerman yang rela menempuh risiko demi menyelamatkan sesama manusia. 

Lainnya diselamatkan nyawanya oleh Abdol-Hossein Sardari -- seorang muslim asal Iran yang melakukan hal yang sama. Atas nama kemanusiaan.

Sebanyak 2.000 orang Yahudi Iran berhasil diselamatkan. 

"Ada seorang Muslim Iran melakukan sesuatu yang tak lazim, mempertaruhkan hidupnya, kariernya, propertinya, dan semuanya untuk menyelamatkan saudara sebangsanya," kata Fariboz Mokhtari, penulis buku 'The Lion's Shadow', seperti dikutip dari BBC.

"Sama sekali tak terbesit dalam benaknya: 'saya Muslim, dia Yahudi' atau semacamnya."

Sementara, yang tak menemukan sosok penyelamat, harus mengandalkan diri mereka sendiri dengan cara yang masuk akal hingga aneh. 

Berikut 10 trik kaum Yahudi selamat dari pembantaian holocaust Nazi, seperti dikutip sebagian dari situs Listverse, Selasa (28/3/2017):

1 dari 11 halaman

1. Jus Bit dan Darah

Mereka yang ditahan di kamp konsentrasi berada dalam kondisi memprihatinkan. Kelaparan dan kelelahan akibat kerja paksa. Pakaian mereka yang compang-camping kian menambah gambaran menyedihkan itu.

Segala penderitaan tersebut membuat tubuh mereka tinggal tulang berbalut kulit, wajah pucat, dan lemah.

Di kamp Auschwitz, selama pemeriksaan kesehatan, para tahanan menggunakan jus bit -- terkadang darah mereka sendiri -- sebagai pemerah pipi.

Ada kira-kira 50 sub-kamp di Auschwitz. Kalau kita cukup teliti, kita bisa menemukan cerita-cerita yang belum pernah kita dengar sebelumnya tentang Auschwitz. (Sumber Wikipedia)

Itu dilakukan agar mereka tampak sehat. Sebab, jika terlihat lemah bisa-bisa para tawanan akan dieksekusi mati.

Pipi yang memerah jadi trik menipu para dokter Nazi, agar percaya bahwa mereka lebih sehat dari yang sesungguhnya.

2 dari 11 halaman

2. Menyemir Rambut

Pada awal Holocaust, Nazi menargetkan mereka yang disabilitas dan para orangtua.

Kebanyakan kaum Yahudi dan mereka yang jadi sasaran membakar akta kelahiran mereka, agar bisa lolos dari razia serdadu Nazi.

Namun, ada hal lain yang tak bisa mereka sembunyikan: usia.

Salah satu kontestan, Carmela Ben Yehuda (89 tahun) sedang menari saat mengikuti kontes kecantikan di Kota Haifa, Israel (30/10). Kontes tahunan ini digelar untuk menghormati mereka yang selamat dari genosida Holocaust. (Reuters/Amir Cohen)

Rambut para pria dan perempuan, di atas usia 40 tahun, biasanya dipenuhi uban atau bahkan seluruhnya memutih.

Agar tampil lebih muda, mereka akan menyemir rambut. Itu mengapa produk pewarna rambut habis dengan cepat di toko-toko di lingkungan yang dihuni kaum Yahudi.

3 dari 11 halaman

3. Identitas Palsu

Tentara Nazi menggunakan akta kelahiran, paspor, dan dokumen identitas lain untuk menentukan target.

Sebagian kaum Yahudi pada masa damai dipekerjakan di instansi pemerintah yang mengeluarkan dokumen resmi.

Maka, ketika harus kabur dan bersembunyi dari antek Hitler, mereka menggunakan keahlian mereka untuk menolong diri sendiri dan orang lain. Caranya, dengan membuat kartu identitas palsu.

Pemandangan barak-barak yang ada di kamp konsentrasi khusus wanita di Ravensbrück. (Sumber United States Holocaust Memorial Museum)

Ratusan kartu identitas palsu diproduksi, yang membantu kaum Yahudi mengelak dari kamp konsentrasi dan eksekusi mati.

Mereka yang punya kartu identitas palsu melarikan diri ke Swiss dan Denmark.

Adolpho Kaminsky, salah satunya, membuat dokumen palsu untuk kaum Yahudi selama bertahun-tahun setelah ia berhasil kabur dari kamp konsentrasi. Ia adalah pemalsu paling terkenal pada masanya.

4 dari 11 halaman

4. Jalur Rahasia Kindertransport

Bukan diri sendiri yang dikhawatirkan sejumlah kaum Yahudi, melainkan nasib anak-anak mereka. 

Upaya penyelamatan anak-anak dilakukan melalui Kindertransport atau jalan keluar rahasia dari Jerman bagi mereka yang berusia di bawah 18 tahun pada tahun 1938-1940.

Selama masa itu, anak-anak diselundupkan dari Jerman, Polandia, Austria, dan Cekoslovakia ke negara-negara yang mau menampung mereka.

Terkuak, Pemerintah Prancis Terlibat Holocaust Nazi. Warga Yahudi Prancis tak mengira mereka dikhianati pemerintahnya sendiri.  (AFP)

Inggris, salah satunya, menampung 10 ribu anak selama dua tahun tersebut.

Para bocah yang dipaksa berpisah dari orangtuanya itu menggunakan kartu identitas palsu, agar mereka tak dihentikan aparat Hitler di tengah perjalanan.

Setelah mencapai negara tujuan, mereka akan ditempatkan di sejumlah keluarga.

Banyak anak-anak diurus dengan baik, meskipun beberapa diterima dengan ketegangan oleh keluarga penampung.

Kindertransport dihentikan pada tahun 1940 setelah Polandia jatuh ke tangan Nazi dan aturan perjalanan yang lebih ketat diberlakukan.

5 dari 11 halaman

5. Hidup 'Normal'

Ini terdengar tak masuk akal. Namun, jurus terbaik bertahan hidup adalah dengan menjalani kehidupan -- terberat sekalipun -- 'senormal' mungkin.

Saat dibawa ke kamp-kamp konsentrasi, para tahanan sudah tahu, kesempatan mereka bertahan hidup sangat kecil.

Foto-foto ini kemudian menjadi bukti sangat berharga tentang apa yang terjadi di kamp konsentrasi pada akhir Perang Dunia II. (Sumber ahctv.com)

Maka, setiap detik waktu yang tersisa adalah hal yang berharga -- itu yang diyakini sejumlah tahanan di Kamp Sobibor.

Dan, mereka bekerja sesuai perintah pada siang hari dan menjalani kehidupan mereka saat hari gelap.

Mereka kerap bersosialisasi satu sama lain, makan dan minum bersama jatah yang mereka terima, dan bahkan punya kehidupan seksual.

Setelah bebas, para tahanan yang selamat mengisahkan, mencoba hidup 'normal' adalah cara mereka bertahan dari kekejaman Nazi.

6 dari 11 halaman

6. Berontak

Para tahanan di kamp konsentrasi Sobibor mencoba hidup senormal mungkin dalam kondisi yang jauh dari standar manusiawi.

Hingga pada akhirnya mereka mendengar para petinggi kamp, para antek Nazi, membahas tentang likuidasi lokasi penahanan itu.

Pada musim panas 1943, sejumlah tahanan menguping pembicaraan soak rencana untuk membinasakan kamp konsentrasi tersebut dalam beberapa bulan mendatang.

Maka, semua tahanan juga harus dibasmi, dan kamp harus dihancurkan sebelum pasukan pembebas dari Rusia tiba.

Nazi melarikan harta saat pasukan Tentara Merah Rusia menyerbu kota Wroclaw, Polandia (Reuters)

Para tahanan yang jumlahnya sekitar 600 orang pun merencanakan pemberontakan terhadap kamp.

Pada suatu hari, mereka membunuh para penjaga, lalu menerobos pagar kawat berduri, dan berlari melalui area tambang ke arah hutan.

Hanya sekitar 200 tahanan yang selamat. Situs di mana kamp konsentrasi Sobibor pernah berdiri masih berdiri hingga saat ini.

7 dari 11 halaman

7. Bersembunyi

Sejak Holocaust dimulai, sejumlah kaum Yahudi diam-diam ditampung oleh keluarga non-Yahudi atau bersembuyi di sejumlah lokasi. 

Ada yang sembunyi di ruang bawah tanah atau loteng yang tak digunakan, relung tersembunyi di tembok maupun lantai, atau penyimpanan rahasia di balik rak buku atau jendela palsu.

Anne Frank. (Sumber Anne Frank House Collection)

Kasus yang paling terkenal adalah Anne Frank dan keluarganya. Mereka bersembunyi di apartemen kecil di atas ruang kerja sang kepala keluarga selama bertahun-tahun.

Sebuah keluarga menyediakan makanan dan kebutuhan dasar lainnya untuk mereka, secara sembunyi-semunyi.

Sebelum perang berakhir, mereka ditemukan dan dibawa ke kamp-kamp berbeda. Semuanya -- kecuali Otto, sang kepala keluarga -- meninggal dunia.

8 dari 11 halaman

8. Latihan Fisik

Di banyak kamp konsentrasi, tahanan harus menjalani tes kesehatan. Mereka yang dinyatakan sehat berarti selamat. Sebaliknya, eksekusi mati menanti mereka yang sakit-sakitan.

Suatu pemberontakan di Auschwitz menghancurkan krematorium nomor 4. Kalau kita cukup teliti, kita bisa menemukan cerita-cerita yang belum pernah kita dengar sebelumnya tentang Auschwitz. (Sumber Wikipedia)

Tak hanya menggunakan rona jus bit dan darah untuk mengelabui para dokter Nazi, para tahanan juga berolah raga dan menjalani latihan fisik di barak-barak mereka, sebelum tes kesehatan dilakukan.

Mereka berlari, pushup, bahkan berkelahi satu sama lain dengan harapan emosi akan membuat wajah mereka memerah dan kelihatan sehat di mata para dokter.

9 dari 11 halaman

9. Melayani Tentara Nazi

Cara lain untuk selamat adalah dengan melayani para serdadu Nazi.

Para pria Yahudi terpaksa melakukan tindakan khianat. Mereka diperintahkan menemukan lokasi persembunyian sesamanya dan melaporkannya ke para tentara Nazi.

Heinrich Himmler saat mengunjungi kamp konsentrasi Dachau pada 1936 (Bundesarchiv Bild)

Sementara, beberapa perempuan menjadi budak nafsu tentara Hitler.

Mereka ditempatkan di sejumlah rumah bordil didirikan di sejumlah negara yang berada dalam kekuasaan Nazi.

Biasanya, para perampuan itu akan diperlakukan lebih baik dari tahanan lainnya, juga hidup lebih lama.

10 dari 11 halaman

10. Uang Suap

Banyak orang Yahudi yang kaya raya, meraup harta dari usaha. Mereka kemudian menukarkan harta benda dengan kebebasan dari ancaman hidup di kamp konsentrasi.

Uang suap diberikan pada tentara Nazi yang haus kekuasaan dan ingin jadi kaya. Beberapa dari para perwira itu membuka diri untuk disuap. 

Ilustrasi situasi di Kamp Auschwitz Nazi (Remember.org)

 Banyak orang Yahudi yang mampu membeli jalan keluar akhirnya menghabiskan semua kekayaan.

Saat perang berakhir, banyak dari mereka jatuh miskin, tak punya apapun yang tersisa. Tapi, setidaknya, mereka masih hidup.

Artikel Selanjutnya
Tetesan Darah hingga Memuja Setan, Ritual Aneh 5 Gangster di AS
Artikel Selanjutnya
5 Kisah Jurnalis Tangguh dalam Catatan Sejarah