Sukses

Kisah 20.000 Selir dan 100 Ribu Kasim di Harem Kaisar Tiongkok

Liputan6.com, Beijing - Harem jadi bagian dari para penguasa masa lalu. Firaun Mesir kerap mewajibkan para gubernur untuk mengirimkan gadis cantik untuk dijadikan hamba sahaya.

Montezuma II, penguasa Aztec dari Meksiko, dikabarkan memiliki 4.000 selir.

Dalam masyarakat Aztec, setiap anggota kaum bangsawan wajib memiliki selir sebanyak-banyaknya, semampu mereka.

Sementara itu, Raja Kashyapa dari Sigirya di Sri Lanka memiliki 500 perempuan di haremnya.

Harem bukan soal syahwat belaka. Pada masa lalu, dianggap suatu kehormatan besar bagi perempuan yang menjadi bagian dari harem sang penguasa. Hal itu juga berlaku untuk para para kaisar China.

Sebab, tugas mereka tak cuma memimpin negara, para penguasa Tiongkok juga wajib memastikan kelanjutan dinastinya.

Caranya, dengan memproduksi keturunan lelaki. Untuk tujuan itulah, para perempuan terpilih ditempatkan di harem atau dalam bahasa setempat disebut hougong -- berasal dari kata hou-kung yang secara harfiah berarti 'istana belakang'.

Istilah itu merujuk ke bagian istana yang diperuntukkan bagi permaisuri kaisar China, selir, hamba perempuan, dan orang-orang kasim.

Seperti dikutip dari situs Ancient Origins, Senin (27/3/2017) di dalam harem berlaku hierarki, meski tak ajek karena berubah sesuai zaman. Namun, pada dasarnya ada tiga tingkatan di dalamnya -- permaisuri, selir resmi (consort), dan selir biasa.

Permaisuri (Huanghou) atau istri resmi kaisar ada di puncak hierarki. Para ratu adalah perempuan paling dihormati dan dipuja di seluruh Tiongkok. Karena posisinya yang terhormat, ia dijuluki 'ibu dunia'.

Di dalam harem, hanya dua sosok yang kedudukannya lebih tinggi dari permaisuri: kaisar dan ibu suri. Sementara lainnya wajib tunduk pada titahnya. Melanggar bisa berarti mati.

Selain permaisuri juga ada empress dowager -- janda kaisar yang diberi pangkat tersebut. Yang paling terkenal dari mereka adalah Cixi dari Dinasti Qing dan Wu Zetian dari Dinasti Tang.

Wu Zetian kemudian bahkan jadi perempuan pertama yang jadi Kaisar China.

Di bawah permaisuri ada para consort atau selir resmi. Jumlah dan ranking mereka berbeda-beda tergantung dinasti yang berkuasa.

Selama Dinasti Qing, misalnya, harem kekaisaran memiliki satu Imperial Noble Consort (Huang Guifei), dua Noble Consort (Guifei), dan empat Consort (Fei).

Tak hanya itu, para kasim yang melayani para perempuan milik raja juga menjadi bagian tak terpisahkan dari harem.

Menurut Ritus Zhou, seorang kaisar bisa memiliki hingga 9 selir tinggi, 27 selir menengah, dan 81 di peringkat rendah.

Namun, selama Dinasti Han (206 SM - 220 M), tak ada batas berapa selir yang bisa dimiliki kaisar.

Selama pemerintahan Kaisar Huan dan Kaisar Ling, dikabarkan ada lebih dari 20.000 perempuan yang hidup di Kota Terlarang.

Dan, untuk memastikan bahwa setiap anak yang lahir di harem adalah keturunan kaisar, pria dilarang keras memasuki kompleks istri-istri sang penguasa. Satu-satu pengecualian adalah para kasim yang telah dikebiri.

Gambaran para kasim di Istana Kaisar Tiongkok (Public Domain)

Sepanjang sejarah Kekaisaran China, kasim bertugas melayani keluarga kerajaan, termasuk sebagai pembantu di harem.

Meski statusnya adalah hamba biasa, namun, kasim bisa mendapatkan posisi penting juga kekayaan dengan melibatkan diri dalam politik harem.

Selama Dinasti Ming (1368-1644), dikabarkan ada 100.000 kasim yang melayani kaisar dan
haremnya.

 

Saksikan juga video menarik berikut ini: 

1 dari 3 halaman

Persaingan Sengit Para Gundik

Selama Dinasti Ming (1368-1644 Masehi), diterapkan sistem resmi untuk memilih para selir yang akan masuk ke harem kaisar.

Proses pemilihan akan dilakukan di dalam Istana Terlarang atau Forbidden City setiap tiga tahun.

Situs yang disebut Cining Palace itu merupakan reruntuhan pertama dari Dinasti Ming yang ditemukan di Kota Terlarang, Beijing (Wikipedia).

Para kandidat, yang berusia 14 sampai 16 tahun dipilih berdasarkan latar belakangnya, kebajikan, perilaku, karakter, penampilan, dan kondisi tubuh.

Harem dipenuhi banyak perempuan, dengan kepentingan masing-masing, drama persaingan tak terelakkan.

Mereka berebut mendapatkan perhatian sang kaisar. Tentu saja, posisi sebagai permaisuri jadi incaran. Bisa melahirkan putra raja dianggap bonus terbesar.

Tak jarang, selir yang ambisius berkomplot dengan para kasim untuk menyingkirkan lawan. Sebagai imbalan, para kasim yang dianggap berjasa akan mendapatkan jabatan penting.

Intrik harem seperti itu sering terjadi dalam sejarah China. Misalnya, selama Dinasti Tang, salah satu selir resmi Kaisar Gaozong adalah Wu Zetian.

Menurut legenda, Wu Zetian tega membunuh anaknya yang baru lahir dan melemparkan kesalahan pada Permaisuri Wang.

Wu Zetian adalah satu-satunya kaisar perempuan sepanjang 4.000 tahun sejarah Tiongkok (Wikipedia)

Akhirnya, sang permaisuri di dicopot dari jabatannya dan Wu Zetian kemudian menggantikannya.

Namun, tak semua harem jadi ajang konflik dan konspirasi. Kaisar Huangdi -- yang punya reputasi semi-mistis --- konon punya empat selir yang tak dipilih berdasarkan kecantikan melainkan kompetensi.

Selir keduanya dikisahkan sebagai penemu masakan dan sumpit. Lainnya dipercaya sebagai penemu sisir.

Bersama empat selirnya, Kaisar Huangdi memerintah China.

2 dari 3 halaman

Dari Selir Jadi Kaisar China

Tercatat dalam sejarah seorang perempuan pernah memimpin Tiongkok dan menyandang gelar kaisar: Wu Zetian.

Memerintah pada Abad ke-7 Masehi, Wu menjadi penguasa yang  kontroversial dan memegang kekuasaan sedemikian besar. Meski memiliki segudang prestasi, karakter aslinya tetap misterius, diselubungi narasi bernada penghinaan.

Ini salah satunya: "Ia berhati ular dan memiliki sifat seperti serigala," demikian Liputan6.com kutip dari situs Smithsonian.com.

Maharani Wu Zetian digambarkan sejarah sebagai sosok kontroversial dan sadis (China Culture)

Sejarawan lain menulis, "Ia membunuh saudarinya sendiri, membantai kakak-kakak lelakinya, membunuh para penguasa, dan meracuni ibunya. Ia dibenci para dewa juga manusia."

Selama berabad-abad, Wu dicela oleh para sejarawan. Digambarkan sebagai sosok perampas yang kejam dan perempuan 'nakal'. Sosoknya yang menonjol bahkan disebut-sebut karena kesediaannya memenuhi selera seksual Kaisar Taizong yang tak biasa.

Namun seberapa akurat gambaran tersebut, masih jadi perdebatan sengit. Mungkin benar, demikianlah kelakuan sang maharani. Atau jangan-jangan sejarah ditulis oleh mereka yang  berseberangan.

Yang jelas perjalanan Wu menuju takhta diwarnai intrik kekuasaan.

Lahir pada 624 Masehi, ia masuk ke istana pada usia 14 tahun. Sebagai selir Kaisar Taizong, penguasa Dinasti Tang yang lebih pantas jadi kakeknya.

Ia tak hanya cantik. Orangtuanya yang kaya dan dari kalangan darah biru memberinya bekal pengetahuan menulis, membaca sastra klasik China. Wu juga pandai main musik.

Kelebihannya itu yang konon membuat Wu menonjol dari perempuan lain di istana. Membuatnya mampu bersaing dengan selir-selir yang jumlahnya hampir 30 orang. Kaisar menjadikannya sebagai favorit.

Pada 649, sang penguasa mangkat. Seperti selir-selir lainnya, ia dikirim ke biara untuk menghabiskan masa hidupnya di sana. Namun, tak butuh waktu lama baginya untuk kembali ke istana.

Pesona Wu memikat sang pewaris takhta, Kaisar Gaozong -- yang menjadikannya selir 3 tahun setelah ayahnya tiada.

Wu secara bertahap mendapatkan kepercayaan dan dukungan Gaozong. Setelah melahirkan 2 putra, ia mulai bersaing dengan Ratu Wang dan selir senior Xiaoshu untuk memperebutkan perhatian sang kaisar.

Untuk mencapai tujuannya, Wu menghabisi orang-orang yang menghalangi jalannya. Ia bahkan sampai hati membunuh putrinya sendiri yang masih bayi dan menjadikan Ratu Wang -- yang terakhir memegang bocah itu -- sebagai kambing hitam.

Setelah berhasil menjadi ratu pada 655, Wu memerintahkan Wang dan selir Xiaoshu dihabisi. Jasad keduanya bahkan dimutilasi dan dimasukkan dalam tong anggur.

Wu juga mengangkat kerabatnya untuk mengisi jabatan penting. Perlahan, perempuan itu ikut memerintah bersama suaminya.

Setelah kematian Gaozong pada 683, Wu tetap mengendalikan kekuasaan sebagai ibu suri. Ia mengangkat putranya Li Xian sebagai Kaisar Zhongzong.

Tak sampai setahun, kaisar baru yang sulit dikendalikan ia gulingkan. Wu kemudian mengangkat putra keempatnya Li Dan sebagai Kaisar Ruizong. Dan pada 16 Oktober 690, Wu merebut takhta dan mendirikan wangsa baru, Dinasti Zhou yang dikendalikan dari ibukota Luoyang.

Pemerintahannya diwarnai skandal. Wu tak tak punya belas kasih pada orang-orang yang gagal memenuhi keinginannya atau tak ia sukai. Ganjarannya penjara atau bahkan eksekusi mati. Tak terkecuali jika pelakunya adalah saudara atau kerabatnya sendiri, pun dengan orang-orang yang berjasa mendirikan dinasti.

Wu juga disebut-sebut memiliki semacam harem yang dipenuhi pria muda.

Di sisi lain, Wu adalah penguasa yang berhasil. Masa pemerintahannya berlangsung damai dan sejahtera. Ia memperkenalkan sistem meritokrasi dan ujian masuk bagi para calon birokrat.

Di bawah kuasanya, Tiongkok juga menghindar dari perang. Wu juga menerima kunjungan sejumlah duta besar, termasuk dari Bizantium.

Wu memerintahkan penulisan biografi para perempuan terkenal, dan memerintahkan anak untuk berduka bagi kematian kedua orangtuanya -- bukan hanya ayah. Ia juga mengangkat seorang penasihat perempuan, Shangguan Wan'eryang disebut-sebut sebagai perdana menterinya.

"Di bawah pemerintahan Wu, biaya militer dipangkas, pajak dipotong, gaji pegawai berprestasi dinaikkan, pensiun diberi tunjangan, dan tanah luas dekat ibukota diubah menjadi lahan pertanian," tulis Mary Anderson dalam bukunya, 'Hidden Power'

Artikel Selanjutnya
29-6-1974: Argentina Dipimpin Presiden Wanita untuk Pertama Kali
Artikel Selanjutnya
Tak Punya Uang Berobat, Ayah Gali Kuburan untuk Anak