Sukses

10.000 Harta Karun Legendaris Ditemukan di Sungai China

Liputan6.com, Chengdu - Selama berabad-abad terdapat sebuah kisah yang menceritakan ada harta karun dalam jumlah banyak tumpah ke Sungai Minjiang China. Hal itu terjadi saat perang berkecamuk di pinggir sungai tersebut.

Namun dengan penemuan baru-baru ini, kisah itu tak hanya sekedar legenda. Pasalnya, lebih dari 10.000 benda yang terbuat dari emas dan perak ditemukan di dasar sungai yang melalui Provinsi Sichuan.

Dikutip dari News.com.au, Rabu (22/3/2017), arkeolog China telah mengonfirmasi bahwa benda-benda tersebut berasal dari tahun 1368 hingga 1644 Masehi.

Harta itu diyakini berasal dari kisah pemimpin pemberontakan petani China kehilangan hartanya dalam sebuah penyergapan, pada saat ia berusaha memindahkannya ke selatan dengan menggunakan 100 kapal.

"Benda-benda yang ditemukan adalah bukti langsung dan menarik untuk mengidentifikasi area di mana pertempuran relah berlangsung," ujar seorang arkeolog, Wang Wei, kepada media pemerintah Xinhua.

Harta karun itu ditemukan di persimpangan Sungai Minjiang dan Jinjiang, yang terletak 50 km dari selatan ibu kota Sichuan, Chengdu.

Ditemukannya tanda-tanda adanya harta karun berawal pada 2005. Saat itu pekerja konstruksi menemukan tujuh batang perak di dalam kerikil yang terdapat di tepi sungai.

10.000 Harta Karun Legendaris Ditemukan di Sungai China. (Xinhua)

Situs tersebut dinyatakan sebagai kawasan lindung pada 2010. Meski demikian, Xinhua melaporkan bahwa pemburu harta karun berulang kali berupaya mencari harta karun di lokasi itu.

Untuk mengekskavasi harta karun, dilakukan pengeringan 10.000 meter persegi bagian sungai dengan menggunakan pompa dan dinding penahan.

Benda yang terbuat dari emas, perak, dan perunggu dalam bentuk koin, perhiasan, dan senjata ditemukan dalam jumlah banyak di dasar sungai tersebut.

Menurut laporan arkeolog, banyak benda masih dalam kondisi baik. Sejumlah tulisan pada sejumlah peralatan emas dan perak masih dapat dibaca dengan jelas.

Arkeolog mengatakan, mereka masih aan melanjutkan ekskavasi harta karun di situs itu hingga April 2017.