Sukses

Rusia Latihan Militer di Semenanjung Krimea, Persiapan Perang?

Liputan6.com, Moskow - Rusia melakukan latihan perang besar melibatkan ribuan tentara dari angkatan darat, udara, dan laut di Semenanjung Krimea, sebuah wilayah di ujung timur Eropa yang dianeksasinya pada tahun 2014.

Tindakan ini dipandang sebagai langkah signifikan mengingat untuk pertama kalinya dalam sejarah militer Rusia tiga unit Airborne dilibatkan secara bersamaan.

Pejabat militer yang bertanggung jawab atas latihan tersebut, Kolonel Jenderal Andrei Serdyukov mengatakan, kegiatan tersebut dipicu oleh meningkatnya ancaman terorisme di wilayah tersebut.

Lebih dari 2.500 tentara dengan kemampuan terjun payung dan 600 peralatan dikerahkan ke Semenanjung Krimea. Pasukan Rusia dikabarkan akan berlatih pendaratan amfibi dan airdrops -- menjatuhkan pasokan, tentara, atau peralatan dengan parasut dari pesawat terbang.

"Untuk pertama kalinya dalam sejarah militer Rusia tiga unit Airborne secara bersamaan disiagakan sebagai bagian dari latihan dan sebagian didistribusikam ke Krimea dengan senjata dan peralatan," ujar Serdyukov seperti dilansir Independent, Selasa, (21/3/2017).

Barat mengutuk aneksasi Krimea dengan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

NATO menandai latihan Rusia sebagai peringatan perang dan menyebutnya ilegal.

Juru bicara NATO Oana Lungescu mengatakan kepada The Independent bahwa setiap latihan militer Rusia di Krimea ilegal ditinjau dari sudut pandang hukum internasional mengingat mereka tidak mengantongi izin dari pemerintah Ukraina.

"Sejak tahun 2014, aktivitas militer Rusia di wilayah Laut Hitam meningkat secara signifikan. Pembangunan militer Rusia yang meluas di Krimea merupakan tantangan terhadap stabilitas regional dan keamanan internasional," terang Lungescu.

"Menanggapi pembangunan militer Rusia, NATO telah meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Ini dilakukan dengan cara yang defensif dan proporsional dan sepenuhnya sejalan dengan kewajiban internasional kami," imbuhnya.

Latihan militer yang digelar Negeri Beruang Merah itu bergulir di tengah penempatan pasukan NATO di sepanjang perbatasan Rusia. Per April, batalion pimpinan Amerika Serikat yang terdiri dari lebih 1.100 pasukan termasuk di antaranya 150 tentara Inggris akan dikerahkan ke Polandia.

Pejabat militer AS, Letnan Kolonel Steven Gventer menjelaskan bahwa pergerakan ini merupakan misi bukan siklus atau dalam rangka latihan.

Inggris, Kanada, dan Jerman akan memimpin tiga kelompok pertempuran di Estonia, Latvia, dan Lithuania. Mereka akan beroperasi pada Juni mendatang.

Secara total, terdapat sekitar 4.000 tentara NATO yang dilengkapi dengan tank, kendaraan lapis baja, dan berbagai peralatan canggih lainnya akan memantau potensi serangan Rusia.

Moskow sendiri dikabarkan berencana untuk menggelar latihan perang skala besar di dekat perbatasan Barat tahun ini. Namun belum disebutkan berapa banyak pasukan yang akan ambil bagian.

Artikel Selanjutnya
AS: Rezim Suriah Tengah Persiapkan Serangan Senjata Kimia
Artikel Selanjutnya
Ribuan Orang Bentuk Rantai Manusia Lintasi Wilayah Tiga Negara