Sukses

Dinilai Tak Paham Soal NATO, Trump 'Ditegur' Mantan Dubes AS

Liputan6.com, Washington, DC - Seorang mantan duta besar Amerika Serikat untuk NATO "menertawakan" klaim Presiden Donald Trump yang menyebut bahwa Jerman berutang pada Negeri Paman Sam atas anggaran pertahanan.

Setelah bertemu dengan Kanselir Jerman Angela Merkel di Washington, Trump mencuit di media sosial kesayangannya, Twitter, "Jerman berutang sejumlah besar uang ke NATO dan AS untuk menyediakan pertahanan yang kuat, dan sangat mahal".

Pernyataan tersebut pun dibantah Ivo Daalder, yang menjabat sebagai duta besar AS untuk NATO periode 2009-2013. Ia mengatakan, Trump sepertinya tidak memahami bagaimana sistem pendanaan NATO di mana AS sendiri yang memutuskan berapa banyak kontribusi pendanaan terhadap NATO.

Dijelaskan oleh Daalder bahwa semua negara anggota NATO berkomitmen untuk menyumbangkan dua persen dari PDB mereka untuk belanja pertahanan pada tahun 2024 mendatang. Namun sejauh ini hanya lima negara yang sudah menjalankan komitmen tersebut, yaitu AS, Inggris, Yunani, Polandia, dan Estonia.

Negara-negara yang belum sampai memberikan dua persen dari PDB kini tengah meningkatkan anggaran pertahanan mereka.

"Tapi tidak ada dana yang akan dibayarkan ke AS. Seluruhnya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan NATO, mengingat ancaman Rusia yang terus berkembang," terang Daalder.

Ditambahkannya, "Eropa menghabiskan lebih banyak dana untuk pertahanan, namun bukan sebagai dukungan atau pembayaran ke AS. Melainkan karena keamanan mereka membutuhkannya. AS menyediakan komitmen militer yang besar bagi NATO. Tapi itu bukan demi Eropa. Itu penting bagi keamanan kita sendiri".

"Ini (kerja sama di NATO) bukan transaksi keuangan di mana negara-negara anggota NATO membayar AS untuk membela mereka. Ini bagian dari komitmen perjanjian kita," tegas Daalder.

NATO yang merupakan singkatan dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara didirikan pada tahun 1949 sebagai bagian dari rencana Barat untuk bersatu di bawah sistem pertahanan kolektif dalam rangka menghadapi ancaman Uni Soviet. AS membidani lahirnya organisasi ini.

Selama 1940-an dan 1950-an, Joseph Stalian memperkuat cengkeramannya terhadap negara-negara satelit Soviet di Eropa Tengah dan Timur untuk menciptakan penyangga antara Barat dan Rusia sementara Perang Dingin dimulai. Demikian seperti dikutip dari Independent, Senin, (20/3/2017).

Sebagai respons atas pembentukan NATO, Pakta Warsawa pun ditandatangani pada tahun 1955. Ketika Pakta Warsawa dibubarkan pada awal 1990-an, sejumlah mantan negara anggota seperti Polandia, Lithuania, Latvia, dan Estonia memutuskan bergabung dengan NATO.

Belakangan, seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Barat dengan Rusia, NATO telah mengumumkan akan mengerahkan lebih banyak pasukan ke sejumlah negara. Namun Jerman tidak termasuk di dalamnya.

Pada hari Jumat lalu, sekitar 800 pasukan Inggris tiba di Estonia. Ini sebagai bagian dari salah satu penyebaran militer terbesar ke Eropa Timur sejak Perang Dingin.

Kedatangan pasukan Inggris diikuti oleh pasukan Jerman dan Belgia di Lithuania dan pasukan AS di Polandia.

Semasa kampanye, Trump telah berulang kali menyebut NATO usang. Ia menyerukan agar AS mengurangi anggaran terhadap organisasi pertahanan itu, namun di lain sisi ia berusaha meyakinkan para pemimpin Eropa bahwa ia memahami kepentingan strategis bersama.

Selama pertemuan puncak NATO pada Februari lalu, Menteri Pertahanan AS James Mattis mengatakan, pihaknya akan "melonggarkan komitmen pendanaan" kecuali anggota lain bersedia meningkatkan pengeluaran mereka.