Sukses

5 Kebiasaan Pelit Orang Kaya yang Bikin Mereka Tetap Tajir

Liputan6.com, New York - Miliarder Warren Buffett di Amerika Serikat (AS) memiliki kekayaan senilai lebih dari US$ 90 miliar, tapi ia bertingkah laku tidak seperti orang yang bergelimang harta. Demikian juga halnya dengan banyak kalangan tajir Amerika.

Tayangan dokumenter "Becoming Warren Buffett" di saluran HBO mengungkapkan bagaimana CEO untuk Berkshire Hathaway itu masih menyantap sarapan di restoran cepat saji McDonald's

Setiap pagi, ia meminta istrinya untuk menyiapkan uang US$ 2,61, US$ 2,95 ataupun US$ 3,17, untuk menentukan paket sarapan yang dibelinya.

Dikutip dari News.com.au pada Kamis (16/3/2017), ia mengatakan dalam tayangan, "Ketika sedang merasa tidak terlalu makmur, mungkin saya ambil yang US$ 2,61 untuk dua roti sosis dan menuangkan sendiri minuman Coke."

Ia juga masih tinggal di rumah 5 kamar yang dibelinya seharga US$ 30 ribu pada 1958 di Omaha. Dalam nilai sekarang, harganya kira-kira US$ 246 ribu.

Tapi, ia bukan satu-satunya orang kaya yang berperilaku demikian.

Menurut Pam Danziger, peneliti Unity Marketing yang fokus pada pasar kelas atas, "Kaum kaya tidak menjadi kaya karena membelanjakan semuanya."

"Mereka lebih mengerti daripada yang lainnya bahwa dengan menjadi pembelanja yang cermat, mereka bisa meraih gaya hidup yang jauh melebihi tingkat penghasilannya."

Ada segelintir alasan mengapa banyak orang kaya yang amat pelit. Beberapa di antara mereka membentuk dirinya sendiri dan selama bertahun-tahun sebelumnya telah sedemikian berhemat sehingga menjadi kaya. Menurut Scott Tucker, pendiri Scott Tucker Solutions di Chicago, "Kepelitan itu menjadi pembentuk kebiasaan."

Yang lainnya khawatir bahwa kekayaan mereka tidak menetap, sehingga mereka tidak mau banyak mengeluarkan uang. Hal ini khususnya berlaku di kalangan 10 persen orang di spektrum puncak penghasilan, demikian menurut jajak pendapat Survey of Affluence and Wealth 2015 oleh lembaga peneliti YouGov.

Menurut para penulis laporan, "Keberadaan, kemandirian keuangan, dan batasan pembelanjaan yang muncul akibat resesi sekarang menjadi sikap berlanjut dalam pengelolaan keuangan keluarga."

Selama resesi, seperti banyak orang Amerika lainnya, "ketakukan mendorong mereka meningkatkan tabungan, mengurangi pembelanjaan, dan mengatur ulang anggaran rumah tangga, agar menjadi lebih cukup dan mandiri ketika melakukan evaluasi untuk pembelanjaan penting."

"Seiring berjalannya waktu, rasa panik membuka jalan bagi penerapan praktik-praktik itu pada kebiasaan mereka ketika berbelanja."

Tapi tentu saja kaum kaya belanja dalam jumlah banyak. Pada 2015 saja kaum kaya meningkatkan pembelanjaan barang mewah hingga 6,6 persen, terutama pembelanjaan travel, makan di luar, hiburan rumahan, mobil, demikian menurut YouGov.

Walaupun begitu, banyak di antara mereka yang masih pelit. Berikut 5 kebiasaan hemat para orang kaya seperti yang dilakukan Warren Buffett:

1 dari 6 halaman

1. Pakai Mobil Biasa

(Sumber montgomerymotors.com)

Benar, memang banyak kaum kaya Amerika mengemudikan BMW, tapi banyak juga yang mengemudikan mobil yang jauh lebih sederhana.

Menurut data terbitan Agustus 2016 oleh situs permobilan Edmunds.com, terungkaplah bahwa mobil paling populer di kalangan orang berpenghasilan lebih dari US$ 324 ribu adalah Ford F-Series, kemudian Jeep Grand Cherokee dan Jeep Wrangler. Baru kemudian posisi nomor 4 dan 5 diisi oleh Lexus RX dan BMW X5.

Menurut situs tersebut, "Akan selalu ada minat dan pasar untuk kendaraan-kendaraan mewah dan eksotis. Tapi, secara umum, kebanyakan kaum terkaya Amerika memandang yang penting mobil mereka berfungsi, sama dengan pandangan orang lain."

Beberapa penelitian lain mengungkapkan bahwa kecenderungan memilih mobil yang sederhana di kalangan kaum kaya.

Temuan TrueCar.com yang meneliti 10 kode pos paling kaya Amerika terungkap bahwa, di antara 10 kendaraan paling populer dalam kawasan-kawasan termakmur, setengahnya adalah kendaraan biasa, bukan mewah.

Mobil-mobil itu antara lain Honda Accord, Toyota Camry, Honda CR-V, Volkswagen Jetta, dan Toyota Prius.

2 dari 6 halaman

2. Berbelanja di Wal-Mart

Salah satu toko dalam jejaring Wal-Mart. (Sumber bensbargains.com)

Satu di antara 3 orang dengan penghasilan bersih lebih dari US$ 6,5 juta mengaku mereka berbelanja di Wal-Mart, toko serba ada dengan harga sangat murah.

Begitulah temuan jajak pendapat terhadap 1.200 para investor super kaya pada 2014 seperti yang tertera dalam situs Millionaire Corner.

Selain itu, hampir separuhnya mengaku berbelanja di Costco, dan lebih dari 40 persen berbelanja juga di jejaring toko Target.

3 dari 6 halaman

3. Belanja di Toko Serba US$ 1

Ilustrasi

Kebanyakan pembelanja di toko sedolar -- yang mayoritas barangnya berharga US$ 1 --berpenghasilan lebih dari US$ 130 ribu per tahun, demikian menurut lembaga peneliti NPD Group pada Juli lalu.

"Melihat bahwa hampir seperlima pembelanjaan di sana dilakukan oleh kalangan kaya, proposisi nilai toko sedolaran itu jelas bergaung lintas segmen ekonomi," demikian menurut Andy Mantis, EVP untuk Checkout Tracking, suatu divisi dari NPD.

Secara rata-rata, kaum kaya pembelanja toko sedolar berkunjung sekali dalam sebulan, demikian menurut data temuan penelitian. Tentu saja, orang yang berpenghasilan lebih rendah memang lebih sering ke toko tersebut.

4 dari 6 halaman

4. Kupon Diskon

Ilustrasi kupon potongan harga. (Sumber trackbox.co)

Aktris sekaligus jutawan Kristen Bell mengaku bahwa ia adalah pengguna kupon yang gigih.

Yang paling menjadi favorit baginya adalah kupon belanja di Bed, Bath and Beyond, toko khusus keperluan rumah tangga.

Ia bukan satu-satunya orang kaya yang melakukan hal itu. Mereka yang berpenghasilan lebih dari US$ 130 ribu per tahun lebih berkemungkinan menggunakan kupon potongan harga untuk belanja, demikian menurut jajak pendapat pada 8.000 pembelanja yang hasilnya diterbitkan pada 2010 oleh Deals.com.

Bukan hanya itu, seperempat penjawab yang seringkali menggunakan lebih dari 6 kupon belanja sekaligus justru tergolong orang kaya dengan penghasilan lebih dari US$ 97 ribu, demikian menurut penelitian terbitan 2011 oleh John Davis Norton School of Family and Consumer Sciences, University of Arizona.

Oleh para peneliti, mereka dijuluki "diva kupon", karena, seperti kata Anita Bhappu dari University of Arizona, "Mereka tidak menggunakan kupon karena keterbatasan keuangan, tapi karena mereka menganggap kupon belanja sebagai cara penghematan."

5 dari 6 halaman

5. Jarang Beramal

Warren Buffett melelang kesempatan makan siang bersamanya guna menggalang dana bagi yayasan amal. (Sumber laman Facebook milik Cecil Williams via Huffington Post)

Sebuah penelitian yang diterbikan oleh Imenyebutkan, "Kaum kaya bukanlah yang paling murah hati."

Dibandingkan mereka yang tajir, kalangan menengah Amerika memberikan lebih banyak dari penghasilan diksresi mereka kepada amal."

Data penelitian mengacu kepada catatan kantor pajak. Terungkaplah bahwa kelompok rumah tangga berpenghasilan tahunan antara US$ 65 hingga 97 ribu menyumbangkan 7,6 persen penghasilan diskresi mereka kepada amal.

Sedangkan kelompok rumah tangga berpenghasilan tahunan lebih dari US$ 130 ribu secara rata-rata hanya menyumbang 4,2 persen.