Sukses

Kisah Perjuangan Putri Miliarder Australia Melawan Perbudakan

Liputan6.com, Jakarta - Lahir di Australia, dari orangtua yang luar biasa -- Nicola dan Andrew Forrest yang adalah miliarder pertambangan -- tak membuat Grace Forrest tutup mata.

Usianya kala itu baru 15 tahun saat menyaksikan fakta suram perbudakan manusia yang tak terbayangkan bisa terjadi pada era modern.

Waktu itu, Grace berada di Nepal, menjadi relawan di sebuah penampungan untuk anak-anak yang terselamatkan dari praktik perbudakan seksual.

"Saya bertemu dengan perempuan-perempuan seusia saya dan seusia adik-adik saya, yang bukan hanya dirampas haknya untuk mendapatkan pendidikan dan membangun masa depan," kata Grace dalam wawancara khusus dengan Liputan6.com.

"Tapi masa kanak-kanak mereka juga sudah dirampas karena diperdagangkan seperti komoditi murahan."

Pengalaman itu mengubah jalan hidupnya. Ia merasa harus berbuat sesuatu. Grace mengaku, apa yang disaksikannya sungguh tak adil.

"Saya memiliki kesempatan yang mereka tidak akan pernah dapatkan, hanya karena saya menang 'lotere genetik' untuk dilahirkan di Australia," kata alumni The University of Western Australia itu. 

Perbudakan, jelas Grace, jelas menyulitkan mereka yang paling rentan dan orang-orang yang hidup dalam kemiskinan mendalam.

Namun, yang tak disadari banyak orang, praktik tak berperikemanusiaan itu juga hadir dalam rantai pasokan perusahaan-perusahaan besar. 

Praktik perbudakan bisa datang pada semua orang lewat pakaian, makanan, dan barang-barang yang biasa digunakan sehari-hari. 

Tak mudah untuk mewujudkan mimpi menghapus praktik perbudakan. Menurut Grace, ada banyak tantangan, termasuk berhadapan dengan pemerintah yang korup dan kelompok kuat yang ada di belakangnya. 

Meski demikian, Grace Forrest tak lantas mundur. Ia kemudian ikut menggagas inisiatif Walk Free Foundation, sebuah langkah berani yang didukung orangtuanya.

Pada 2014, ia menggandeng sejumlah pemuka agama untuk melawan perbudakan modern. Untuk menegaskan bahwa tak ada keyakinan apapun yang melegalisasi kejahatan itu.

Kampanye juga terus digalakkan, termasuk di Indonesia. Pada Selasa 14 Maret 2016 ia bertemu dengan Wapres Jusuf Kalla untuk menyampaikan pesan kuat melawan perbudakan. 

"Perbudakan adalah pelanggaran terparah hak azasi manusia (HAM). Karena perbudakan merupakan perampasan pilihan bebas seseorang. Merampas kemampuan seseorang untuk bertindak dan hidup selayaknya manusia." 

Saksikan wawancara Liputan6.com dengan aktivis anti-perbudakan dan salah satu Pendiri Walk Free Foundation‏, Grace Forrest: