Sukses

Tiongkok Tambah Marinir, Terkait Konflik Laut China Selatan?

Liputan6.com, Beijing - Anggaran militer China dikabarkan meningkat. Terutama, pengerahan marinir yang jumlahnya naik hingga 400 persen. Diduga mereka ditempatkan di Samudra Hindia dan Laut China Selatan. 

Media China melaporkan People’s Liberation Army’s (PLA) memiliki rencana ambisius setelah pengumuman anggaran militer yang naik hingga 7 persen dari anggaran tahun lalu yang mencapai 1,02 triliun yuan atau sekitar US$ 147 miliar.

Pengumuman kenaikan itu disampaikan dua hari setelah Donald Trump berencana menaikkan anggran militer 10 persen untuk tahun 2017.

Dikutip dari News.com.au pada Rabu (15/3/2017) detail peningkatan anggaran militer adalah untuk menambah marinir. Dari 20 ribu tentara menjadi lebih dari 100 ribu.

Marinir, tentara terlatih di darat dan di laut itu disebut akan menjaga jalur perdagangan di laut.

Pengerahan tentara termasuk untuk menjaga pelabuhan Djibouti, lokasi strategis di Tanduk Afrika, dan Gwadar di barat laut Pakistan. Dua pelabuhan itu termasuk dalam Jalur Sutera yang berencana dihidupkan kembali oleh China. 

Koran South China Morning Post (SCMP) melaporkan dua brigade tentara sudah ditempatkan di bawah komando marinir. Beberapa tentara akan dikerahkan kemudian.

"Marinir PLA akan meningkatkan hingga 100 ribu tentara, yang berisi 6 brigade di masa yang akan datang untuk memenuhi misi baru China," kata sumber kepada SCMP.

Sumber itu juga mengatakan anggaran Angkatan Laut juga meningkat 15 persen untuk membantu mengakomodasi tentara baru itu.

"China adalah negara maritim dan kita harus membela hak-hak kelautan kita, dan mengembangkan kepentingan. Jadi, status angkatan laut sangat penting," kata mantan komandan Angkatan Laut, Liu Xiaojiang di depan Chinese People’s Political Consultative Conference pada minggu lalu.

"Disamping misi awalnya yaitu kemungkinan perang dengan Taiwan, pertahanan maritim di Laut China Selatan dan Laut China Timur adalah penting. Termasuk melindungi keamanan China di Semenanjung Korea, juga mendukung pelabuhan penting bagi jalur perdagangan laut seperti Djibouti dan Gwadar," lanjut Li.

Namun demikian, dengan meningkatnya jumlah Angkatan Laut China, Beijing menyeimbangkan dengan mengurangi 300 ribu tentara darat.

Jalur Sutera Baru

Dalam beberapa tahun terakhir, China ingin mengembalikan kejayaan Jalur Sutra, baik di darat maupun di laut.

Rute itu memanjang dari Laut China Selatan menyeberangi India dan Pakistan lalu ke Eropa. Sejauh ini Jalur Sutra baru telah menjadi fokus diplomatik dan ekonomi Tiongkok. Kini, Beijing ingin memperkuat militer di jalur itu.

Hal itu terlihat dari meningkatnya jumlah kapal perang dan latihan militer China di Samudra India dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di perairan laut Australia yang mereka anggap taman belakang.

 

Artikel Selanjutnya
Australia Sumbang 19 Kapal Patroli Air Bagi Negara-Negara Pasifik
Artikel Selanjutnya
VIDEO: Warga Guam Tidak Khawatir atas Ancaman Korea Utara