Sukses

Ilmuwan Temukan 3 Spesies Tarantula Pemakan Burung

Liputan6.com, Sao Paulo - Ilmuwan telah mengindentifikasi tiga spersies baru tarantula pemakan burung yang tinggal di hutan Peru, Ekuador, dan Brasil.

Penemuan tersebut merupakan hasil studi yang dilakukan Caroline Sayuri Fukushima. Penelitiannya yang dilakukan di Instituto Butanan, Sao Paulo, mencoba mengurai benang kusut yang telah terjadi selama seratus tahun dalam klasifikasi ilmiah.

Fukushima mengatakan, tiga tarantula baru itu sebelumnya tak diketahui keberadannya karena terdapat "kekacauan besar" dalam klasifikasi hewan tersebut. Ia dan rekan kerjanya pun menyortir genus tarantula itu, yang pertama kali dideskripsikan pada 1818.

Mereka mengerucutkan jumlah spesies dari 50 lebih hingga tersisa 12, termasuk tiga spesies avicularia baru yang belum dicatat sebelumnya.

Proyek yang dilakukan selama beberapa tahun itu, melacak spesimen kuno dari museum di seluruh dunia. Mereka juga harus menerjemahkan deksripsi asli yang berasal dari Bahasa Latin, Prancis, Belanda, Portugis, dan Jerman.

Mereka kemudian membandingkan ciri-ciri anatomi berdasarkan deksripsi tersebut dengan laba-laba yang ada di kebun binatang dan museum.

Tiga tarantula yang mereka identifikasi memiliki panjang 10 hingga 17 sentimeter, hidup di pohon, dan memangsa serangga, kelelawar, serta burung kecil.

Dikutip dari The Telegraph, Minggu (12/3/2017), salah satu tarantula pemakan burung tersebut, A. caei, hanya ditemukan di Brasil. Satu lainnya, A. lynnae, dapat ditemukan di Ekuador dan Peru.

Tarantula ketiga, A. merianae, yang ditemukan di Peru, namanya diambil dari naturalis Jerman Maria Sybilla Merian. Hal itu merupakan bentuk penghormatan kepadanya yang telah menggambar sebuah ilustrasi terkenal tarantula Avicularia pemakan burung pada 1705.

"Ilustrasi ini memberikan asal nama genus dan nama populer laba-laba pemakan burung," ujar Fukushima kepada Live Science.

"Orang-orang pada waktu itu tidak percaya pada pengamatan yang dilakuakannya, dengan mengatakan laba-laba pemakan burung hanyalah imajinasi perempuan. Sekarang kita tahu bahwa ia benar," jelas Fukushima.

Laba-laba dengan spesies Avicularia pertama kali dideskripsikan pada 1758 oleh Carl Linnaeus, bapak taksonomi modern.

Pada 1818, naturalis Prancis Jean-baptiste Lamarck merupakan orang pertama yang mendeskripsikan Aviculariaas sebagai genus. Ia pun memasukkan tiga spesies ke dalam pengelompokannya tersebut.

Artikel Selanjutnya
Seperti Otak Manusia, Makhluk Misterius Ini Bikin Heboh Ilmuwan
Artikel Selanjutnya
Temuan Mumi 375 Tahun Ungkap Penyakit Hati Tertua di Dunia