Sukses

Mengintip Hyperloop Dubai dan Inggris, Seperti di Indonesia?

Liputan6.com, Jakarta - Transportasi di Indonesia memerlukan inovasi baru untuk menyeimbangkan dengan pertumbuhan infrastruktur. Salah satu potensi memenuhi kebutuhan itu adalah dengan pemanfaatan teknologi baru yang ditawarkan oleh Hyperloop Transportation Technologies (HTT) yang berpusat di Amerika Serikat (AS).

Sistem tranportasi yang ditawarkan HTT menggunakan dasar berupa tabung vakum masa depan, yang memungkinkan pergerakan kereta dalam kecepatan amat tinggi.

Seperti dikutip dari Tech in Asia pada Sabtu (11/3/2017) mengutip COO Bibop Gresta, HTT telah menandatangani kesepakatan joint venture dengan para rekanan Indonesia untuk membentu Hyperloop Transtek Indonesia.

Rekanan dari Indonesia adalah Dwi Putranto Sulaksono dan Ron Mullers. Penandatanganan dilakukan di kantor Kementrian Perhubungan pada Senin 6 Maret lalu.

Di Indonesia, sistem Hyperloop renananya akan dipasang di 3 rute, yaitu satu rute di Sumatra Utara, satu rute penghubung bandara-bandara di Jawa, dan satu rute penghubung Jakarta dengan Tangerang.

Sistem yang digagas Elon Musk pada 2013 itu pada dasarnya adalah sebuah tabung panjang bertekanan rendah sehingga nyaris seperti vakum (hampa udara). Di dalamnya, kapsul-kapsul pengangkut penumpang bergerak menggunakan levitasi magnetik.

Karena nyaris tanpa gesekan udara maupun rel, maka Hyperloop menjadi efisien dalam penggunaan energi. Menurut Bibop, penggabungan dengan sistem solar panel malah memberikan pembangkitan daya listrik kembali kepada jejaring daya listrik yang memasok sistem Hyperloop.

Dikutip Liputan6.com dari beberapa sumber, HTT juga berusaha membawa sistem itu ke beberapa negara, yaitu Uni Emirat Arab (UAE) dan Inggris.

Seperti apa desain Hyperloop tersebut? Berikut ini ulasannya:

1 dari 3 halaman

Sistem Hyperloop di Uni Arab Emirat

Model sistem Hyperloop di Timur Tengah. (Sumber Hyperloop One)

Di UEA terjadi persaingan antara HTT dan pesaingnya, Hyperloop One, yang juga berpusat di AS.

Menurut laporan Russia Today yang dikutip juga pada Sabtu (11/3/2017) ini, pihak Hyperloop One sudah memamerkan sejumlah foto perdana pengujian sistem di atas lintasan.

"Foto-foto yang dipamerkan Selasa lalu dalam perhelatan Middle East Rail di Dubai diambil dari tempat pengembangan "DevLoop" di Las Vegas," demikian menurut CEO Rob Lloyd.

Lintasan ujinya sepanjang 500 meter dengan lebar sekitar 3,3 meter.

Hyperloop One yang berpusat di Los Angeles itu telah merancang sistem transportasi berkecepatan nyaris setara kecepatan suara. Menjanjikan pemangkasan waktu perjalanan dari Dubai ke Abu Dhabi dari 90 menit menjadi 12 menit.

Sementara itu, laporan Tech in Asia menyebutkan bahwa HTT, pesaing Hyperloop One, mengajukan lintasan penghubung Abu Dhabi dan Al Ain, bukan dengan Dubai.

Sistem yang dirancang Hyperloop One dapat mencapai kecepatan hingga 1.200 kilometer per jam, dengan sistem propulsi berstandar lebih tinggi daripada standar pesawat jet.

Demi menjadi yang pertama, Hyperloop One menggandeng Otoritas Jalan dan Transportasi Dubai pada November lalu agar bisa bergerak di seantero Dewan Kerjasama Teluk sehingga "semua kota utama dalam GCC dapat ditempuh kurang dari 1 jam."

2 dari 3 halaman

Sistem Hyperloop di Inggris

Pelaksanaan uji lintasan Hyperloop One di pusat pengembangan yang berlokasi di Las Vegas. (Sumber Reuters/Steve Marcus)

Bukan hanya di Indonesia dan negara-negara Teluk, sistem Hyperloop juga ditawarkan di Inggris.

Menurut laporan Metro, dengan sistem tersebut maka perjalanan dari London ke Manchester hanya memerlukan waktu tempuh 18 menit.

Laporan Wired menyebutkan bahwa dua perusahaan yang mengembangkan sistem tersebut melakukan pendekatan kepada pemerintah Inggris, tentang rencana membawa Hyperloop ke sana.

Sistem Hyperloop sendiri pertama kali digagas oleh Elon Musk, CEO Tesla Motors.

Artikel Selanjutnya
Ini 20 Negara Terindah di Dunia, Indonesia Jadi Salah Satunya
Artikel Selanjutnya
PUMA Hadirkan Gerai Kolaborasi Pertama di Asia Tenggara