Sukses

Malaysia: Penyelidikan Kematian Kim Jong-nam Makan Waktu Panjang

Liputan6.com, Washington, DC - Malaysia menyatakan, penyelidikan kasus pembunuhan Kim Jong-nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un mungkin akan memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan.

Negeri Jiran meyakini, Kim Jong-nam tewas diracun menggunakan VX, sebuah bahan kimia yang diklasifikasikan PBB sebagai senjata pembunuh massal. Wajah putra sulung Kim Jong-il itu diseka racun oleh dua perempuan yang masing-masing berasal dari Indonesia dan Vietnam, di Bandara Internasional Kuala Lumpur pada 13 Februari 2017 lalu.

"Karena kompleksitas dan sensitivitas kasus ini, penyelidikan bisa makan waktu lebih lama dari yang kita harapkan," kata Wakil Tetap Malaysia untuk Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW), Ahmad Nazri Yusof seperti dilansir The Star, Kamis, (9/3/2017).

"Pemerintah Malaysia akan sepenuhnya bekerja sama dengan OPCW dan organisasi internasional lainnya untuk menyeret pelaku ke pengadilan," tegas Ahmad seperti dimuat di situs OPCW.

Berdasarkan Konvensi Senjata Kimia, negara-negara anggota OPCW dapat membawa kasus-kasus tertentu ke Dewan Keamanan PBB dan Majelis Umum PBB demi lahirnya sebuah tindakan.

Ketika ditanya apakah harus diambil tindakan tertentu atas kasus pembunuhan Kim Jong-nam, Dubes China untuk PBB Liu Jieyi mengatakan, "Penyelidikan masih berlangsung, saya rasa kita perlu melihat bagaimana proses ini berjalan dan situasi sebenarnya".

Rabu kemarin, Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan tertutup untuk membahas peluncuran empat rudal balistik Korut. Menurut Duta Besar Inggris untuk PBB Matthew Rycroft, isu penggunaan racun VX dalam pembunuhan Kim Jong-nam juga turut dibahas dalam pertemuan itu.

"Ada pembahasan soal itu, tapi tidak ada usulan tertentu bagi DK PBB untuk mengambil tindakan pada tahap ini," ujar Rycroft.

Pejabat intelijen Amerika Serikat dan Korea Selatan menuding agen-agen Korut bertanggung jawab atas kematian Kim Jong-nam yang selama ini tinggal di Macau di bawah perlindungan China.

Kim Jong-nam secara terbuka menentang kepemimpinan sang adik.

"Menurut kami, tidak ada tempat bagi penggunaan senjata kimia dalam situasi apa pun, sehingga jelas ini sangat mengganggu," ujar Dubes AS untuk PBB Nikki Haley dalam pertemuan tersebut.

"Itu lebih dari salah satu faktor yang kami pertimbangkan dan satu faktor lainnya adalah yang kita hadapi adalah membuat kemajuan dengan Korut," imbuhnya.

Artikel Selanjutnya
Bahas Masjid Al-Aqsa, Menlu RI Undang Perwakilan Negara OKI
Artikel Selanjutnya
Rusia Akan Buka Perwakilan untuk ASEAN di Jakarta