Sukses

8-3-1957: Usai Bencana Politik, Terusan Suez Kembali Dibuka

Liputan6.com, Kairo - Pada era Perang Dunia I, Terusan Suez yang kala itu berada di bawah kekuasaan Inggris diserang oleh pasukan Jerman dan Turki Ottoman. Posisinya yang strategis, yakni menghubungkan Laut Mediterania dan Laut Merah membuat terusan ini menjadi objek rebutan antara pasukan Sekutu dan Axis.

Ketika Presiden Gamal Abdul Nasir memimpin Mesir, tepatnya pada tanggal 26 Juli 1956, Terusan Suez dinasionalisasi Negeri Piramida itu. Hal ini menyebabkan pecahnya Krisis Suez menyusul ketidaksukaan Prancis atas monopoli terusan yang dibangun pada 25 April 1859 dan selesai pada 17 November 1869 tersebut.

Pada 29 Oktober 1956 pasukan Israel, Inggris, dan Prancis menyerang Mesir. Israel menduduki Semenanjung Sinai kala itu, sementara Inggris dan Prancis menguasai kawasan di sepanjang Terusan Suez.

Operasi yang bertujuan merebut Terusan Suez ini dianggap berhasil dari sisi militer, namun memicu lahirnya bencana politik.

Amerika Serikat yang kala itu tengah sibuk mengurusi Revolusi Hongaria khawatir perang meluas setelah Uni Soviet dan negara-negara anggota Pakta Warsawa lainnya mengancam akan membantu Mesir. Ancaman serangan roket pun menghantui London, Paris, dan Tel Aviv.

Karenanya, Dwight D. Eisenhower yang menjabat sebagai presiden AS saat itu meminta invasi dihentikan. Tak hanya itu, Negeri Paman Sam juga mensponsori resolusi DK PBB yang mendesak dilakukannya gencatan senjata.

Inggris dan Prancis yang merupakan anggota tetap DK PBB memveto resolusi tersebut, namun Washington melancarkan tekanan finansial. Portugal dan Islandia bahkan mengusulkan agar Inggris dan Prancis dikeluarkan dari keanggotaan mereka di NATO.

Berbagai tekanan tersebut membuahkan hasil. Prancis dan Inggris memutuskan mundur dari Mesir dalam waktu kurang lebih sepekan. Israel sendiri menarik diri dari Mesir pada Maret 1957.

Setelah Israel angkat kaki, tepatnya pada 8 Maret 1957, Terusan Suez pun dibuka kembali untuk lalu lintas internasional. Kondisi kawasan itu dipenuhi berbagai reruntuhan peninggalan krisis di mana butuh waktu seminggu bagi para pekerja Mesir dan PBB untuk membersihkan sebelum akhirnya dapat dilayari kapal-kapal besar.

Seperti dikutip dari History, selama 88 tahun Terusan Suez berada di bawah kendali Inggris, Prancis, serta Eropa yang bergantung pada kawasan itu sebagai rute murah pengiriman minyak dari Timur Tengah.

Namun 10 tahun berikutnya, Mesir kembali menutup Terusan Suez pasca-perang Enam Hari dan pendudukan Israel di Semenanjung Sinai. Penutupan berlangsung selama delapan tahun dan berakhir di era Presiden Anwar el-Sadat pada tahun 1975 setelah pembicaraan damai dengan Israel.

Dalam peristiwa berbeda, tepatnya pada 8 Maret 1965 Gedung DPR/MPR RI di Jakarta didirikan. Pembangunannya dipicu oleh keinginan Presiden Soekarno untuk menyelenggarakan konferensi CONEFO, organisasi perkumpulan bangsa-bangsa tandingan PBB.

Sementara itu, pada 8 Maret 2014, maskapai Malaysia Airlines Penerbangan 370 menghilang dalam perjalanan dari Bandara Internasional Kuala Lumpur menuju Beijing. Pesawat ini mengangkut 12 awak kabin dan 227 penumpang dari 15 negara, kebanyakan di antaranya adalah warga negara China.

Meski keberadaannya masih tidak diketahui, per 24 Maret, pejabat Malaysia Airlines dan pemerintah Negeri Jiran meyakini bahwa pesawat ini jatuh di Samudra Hindia tanpa ada korban selamat.

Artikel Selanjutnya
Perangi Al-Shabab, AS Kirim Pasukan ke Somalia
Artikel Selanjutnya
12-4-1975: Horor Khmer Merah, AS Evakuasi 276 Orang dari Kamboja