Sukses

'Mulut Neraka' Kawah Batagaika Kuak Kehidupan 200 Ribu Tahun Lalu

Liputan6.com, Sussex - Kawah Batagaika muncul tiba-tiba, dari tanah yang robek di bekas hutan yang kerontang, ketika pohon terakhir tumbang ditebas demi pembangunan jalan pada tahun 1960-an.

Kawah Batagaika mulai terbentuk pada tahun 1960-an setelah terjadi penggundulan hutan (Alexander Gabyshev/Siberian Times)

Warga setempat tak berani mendekat, mengiranya sebagai pintu masuk 'dunia lain' di bawah tanah yang konon dihuni makhluk-makhluk mengerikan. Lainnya menduga, lubang yang menganga itu 'mulut neraka'.

Apalagi, gaduh mengiringi pembentukannya. Dari arah Kawah Batagaika kerap terdengar gemuruh misterius atau suara mirip ledakan.

Anggapan mistis terus beredar di kalangan warga, hingga akhirnya ilmu pengetahuan menawarkan jawaban.

Para ahli mengatakan, fenomena yang terjadi di Republik Sakha atau Yakutia, Rusia terjadi akibat lelehnya permafrost atau tanah beku -- yang mengubah es di bawah permukaannya menjadi lumpur dan gas metana yang dilepaskan.

Kawah Batagaika atau Batagaika Crater menguak rahasia Bumi (Alexander Gabyshev/Siberian Times)

Kian lama lubang itu makin merekah, tumbuh 10 hingga 30 meter per tahun. Seperti dikutip dari News.com.au, Rabu (28/2/2017), kini Kawah Batagaika ternyata membuktikan reputasinya sebagai 'pintu masuk ke dunia lain' -- dari masa sekitar 200 ribu tahun lalu.

"Penduduk setempat menyebut kawah yang tumbuh dengan cepat itu sebagai 'pintu ke dunia bawah tanah'. (Namun) studi terbaru Prof Jualian Murton menemukan banyak hal lain," demikian pernyataan University of Sussex dalam akun Twitter resminya @SussexUni.

Bukan monster atau makhluk mistis yang ada di dalamnya. Rekahan Batagaika memberikan petunjuk tentang perubahan iklim yang terjadi ribuan tahun lalu.

Di dalamnya juga ditemukan bangkai-bangkai hewan dan hutan yang membatu.

Studi dalam jurnal ilmiah Quarternary Research mengungkapkan, meski punya efek buruk melepaskan gas rumah kaca, di sisi lain, lapisan bertingkat dari sisi kawah mengungkapkan data iklim historis yang luar biasa manfaatnya.

Terawetkan di antara permafrost yang leleh, ada lapisan serbuk sari yang mengungkap bahwa area tersebut dulunya adalah tundra.

Namun, juga ditemukan petunjuk bahwa ada dua gerumbul tunggul pohon yang menunjukkan lahan tersebut juga pernah jadi hutan lebat.

Gerumbul tanaman purba yang ditemukan di Kawah Batagaika (University of Sussex)

Tak hanya itu, para peneliti juga menemukan bagian tubuh mammoth purba, muskox (Ovibos moschatus), dan bahkan bangkai kuda berusia 4.400 tahun.

Lapisan demi lapisan tanah melukiskan perubahan iklim secara bertahap pada masa lalu, dari masa ribuan tahun lepas, sekitar 200.000 tahun.

Para ahli berharap, informasi tersebut akan membantu mereka memprediksi apa yang akan terjadi pada masa depan planet manusia.

Ahli permafrost dari University of Sussex professor, Julian Murton mengatakan, kali terakhir Siberia mengalami pembentukan kawah 'hellsmouth' (mulut neraka) adalah 10 ribu tahun lalu. Kala itu Bumi baru saja terbangun dari zaman es terakhir.

Jejak hutan lebat ditemukan ada di atas lanskap yang lebih tua, yang telah banyak terkikis.

"Mungkin saat permafrost dicairkan dalam episode terakhir dari pemanasan iklim," kata Murton.

Namun, kabar buruknya, tingkat gas rumah kaca di atmosfer saat ini lebih tinggi daripada di masa lalu -- tingkat absolut CO2 di atmosfer mencapai 400 bagian per juta, dibanding 280 bagian per juta pada masa lalu.

Kawah Batgaika mungkin adalah peringatan untuk kita: bahwa bahaya bisa jadi menjelang.

Artikel Selanjutnya
6 Fakta Mengejutkan Manusia yang Berubah Jadi Batu di Pompeii
Artikel Selanjutnya
30 Detik yang Menentukan Takdir Dinosaurus di Muka Bumi