Sukses

17-2-1674: Tsunami dan Kesaksian 'Peramal Buta' dari Ambon

Liputan6.com, Jakarta - Kemalangan beruntun menimpa Georg Eberhard Rumpf (Rumphius), ahli botani asal Jerman. Pada tahun 1670, pada usia 43 tahun, ia kehilangan penglihatannya. Oleh karena itu, ilmuwan yang terkenal dengan karyanya Herbarium Amboinense itu dijuluki "peramal buta dari Ambon".

Empat tahun kemudian, tepatnya pada 17 Februari 1674, sebuah gempa dahsyat mengguncang Ambon, wilayah kaya rempah-rempah yang jadi kampung halaman keduanya. 

Hari itu, Rumphius dan keluarganya sedang berada di wilayah pecinan di Ambon, untuk menyaksikan perayaan Tahun Baru China atau Imlek.

Istri dan putrinya masuk ke sebuah toko, sang kepala keluarga menanti di luar. Saat lindu yang terjadi, dua perempuan paling berharga dalam hidupnya terjebak di dalam bangunan yang nyaris rata dengan tanah.

Seorang saksi mata melihat Rumphius duduk di sisi jenazah anggota keluarganya itu. "Sangat memilukan melihat seorang pria duduk di sisi jasad-jasad orang terkasih, apalagi mendengar ratapannya -- tentang tragedi itu juga kebutaannya," demikian seperti dikutip dari situs Atlas Obscura, Kamis (16/2/2017).

Hari itu, Ambon memang dilanda gempa dahsyat dengan kekuatan yang diperkirakan sekitar 8 skala Richter, yang disusun datangnya gelombang gergasi. Tsunami menyapu desa-desa di pinggiran pantai Maluku.

Seperti dikutip dari buku Air Turun Naik di Tiga Negeri, gempa dan tsunami kala itu diperkirakan menelan korban hingga 2.322 jiwa.

Ahli botani Jerman, Georg Eberhard Rumphius mengisahkan tentang tsunami yang melanda Ambon (Wikipedia)

Tak hanya menjadi korban, Rumphius juga melaporkan kejadian tersebut dalam memoarnya. Sebuah catatan sejarah yang amat penting tentang kegempaan dan tsunami di Nusantara -- di samping karya-karyanya dalam ilmu botani. 

Namun, buku tersebut sempat terkunci rapat di kantor VOC di Ambon sebab VOC takut bila buku ini tersebar akan menguntungkan pesaing-pesaingnya.

Pada kemudian hari, setelah Rumphius tiada, buku ini ditemukan seorang pendeta bernama François Valentijn dan menerbitkannya atas namanya sendiri.

"Lonceng-lonceng di Kastel Victoria di Leitimor, Ambon berdentang sendiri. Orang berjatuhan ketika tanah bergerak naik turun seperti lautan," tulis Rumphius.

Rumphius menambahkan, begitu gempa mulai menggoyang, seluruh garnisun, kecuali beberapa orang yang terperangkap di atas benteng, mundur ke lapangan di bawah benteng.

Mereka menyangka akan lebih aman. Akan tetapi, sayang, tak seorang pun menduga, air akan naik tiba-tiba ke beranda benteng.

"Air sedemikian tinggi hingga melampaui atap rumah dan menyapu bersih desa. Batuan koral terdampar jauh dari pantai."

Rumphius mengisahkan kondisi desa-desa di Ambon dan Seram yang hancur akibat peristiwa itu.

Hila, yang terdapat di dekat Hitu disebut Rumphius sebagai daerah yang paling menderita. Sedikitnya ada 13 desa yang dituliskan Rumphius yang terkena dampak bencana dahsyat itu. 

Tak hanya gempa dan tsunami yang terjadi di Ambon, tanggal 17 Februari juga jadi momentum sejumlah peristiwa.

Pada 1996, di Philadelphia, Pennsylvania, juara catur dunia Garry Kasparov mengalahkan superkomputer Deep Blue dalam pertandingan catur.

Sementara, pada 17 Februari 1904, Opera Madame Butterfly karya Giacomo Puccini pertama kali dipertontonkan di Milan, Italia.

Artikel Selanjutnya
10-4-1972: Gempa Iran Renggut Lebih dari 5.000 Nyawa
Artikel Selanjutnya
3 Dampak Dahsyat yang Dialami Dunia Akibat Letusan Tambora